Halloween Costume ideas 2015
Latest Post

Ilustrasi
Biografi - Nasib malang dialami bocah perempuan berinisial N (12) setelah menjadi korban perkosaan yang dilakukan oleh anak baru gede, AN (16). Modus yang digunakan pelaku dengan cara mengiming-imingi petasan kepada korban.

Peristiwa itu terjadi saat korban main ke rumah pamannya di Kelurahan Pulokerto, Kecamatan Gandus, Palembang, Rabu (23/5) pagi. Lalu, datanglah pelaku yang ikut nimbrung menonton televisi.

Suasana rumah yang sepi membuat pelaku berniat berbuat jahat. Lantas, pelaku mengajak korban masuk kamar untuk berhubungan badan. Spontan, korban menolak dan berontak.
Tak habis akal, pelaku kembali merayu korban menuruti kemauannya dengan iming-iming membelikan petasan dan uang Rp 15.000. Lagi-lagi korban berontak.

Alhasil, terjadilah perkosaan itu. Aksi pelaku dipergoki paman korban yang sebelumnya berada di depan rumah. Pelaku pun akhirnya diserahkan ke kantor polisi oleh keluarga korban.

Kepada petugas, ABG putus sekolah itu membantah telah memperkosa korban. Dia mengaku korban bersedia berhubungan badan dengannya karena iming-iming petasan.

"Tidak benar itu, saya tidak paksa. Dia buka sendiri pakaiannya, saya janji kasih duit sama petasan," ungkap tersangka AN di Mapolresta Palembang, Kamis (24/5).

Tersangka mengaku terpikat dengan tubuh korban karena pengaruh video porno yang kerap ditontonnya di HP temannya. "Nonton film porno sering, bawaannya gitu (nafsu) terus," kata dia.

Kasatreskrim Polresta Palembang, Kompol Yon Edi Winara mengatakan, tersangka tengah ditangani Unit Perlindungan Perempuan dan Anak setelah diserahkan pihak keluarga korban. Tersangka dikenakan Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 atas Perubahan UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman pidana 15 tahun penjara.

"Tersangka mengiming-imingi memberikan barang, yakni petasan dan uang. Keterangan korban dan tersangka masih kita selidiki," katanya. | Merdeka.com

Peter Mundy, seorang pedagang Inggris yang singgah di Aceh, membuat sketsa cara berpakaian orang Aceh.
PENEGAKKAN syariat Islam di Aceh membuat warganya kerap kena razia. Mereka terjaring karena mengenakan pakaian ketat. Kaum lelaki karena memakai celana pendek di atas lutut. Razia dilakukan sebagai implementasi Qanun Aceh Nomor 11 Tahun 2002 tentang Aqidah, Ibadah, Syiar Islam. Biasanya laki-laki yang terjaring diberi sarung dan perempuan diberi jilbab. Mereka juga dibina supaya berpakaian sesuai peraturan.

Islam sudah ada di Aceh paling tidak sejak abad 13. Namun, bukan berarti penerapan aturannya sudah sama sejak masa itu. Orang-orang asing yang datang ke Aceh menggambarkan bagaimana mereka berpakaian dan merias diri.

Francois de Vitre, penjelajah Prancis yang datang ke Aceh pada 26 Juli 1602 mengungkapkan, kebanyakan orang Aceh mengenakan ikat pinggang yang dililitkan pada tubuh untuk menutupi kemaluan. Bagian tubuh lain dibiarkan terbuka.

Sementara para bangsawan dan pedagang menggunakan kain katun atau sutera yang dililitkan pada tubuh hingga lutut. Mereka juga memakai sejenis topi yang sangat lebar, dengan lengan yang juga lebar dan terbuka di bagian depan.

Vitre mencatat, orang Aceh juga biasanya memakai pakaian dari belacu biru, warnanya merah lembayung. Menurutnya, kebiasaan mereka yang suka memakai sorban sungguh aneh. Sorban itu diikat seperti gulungan sedemikian rupa hingga ujung kepalanya tak tertutup.

Di pundak mereka memakai baju atau rompi dengan lengan yang lebarnya bukan kepalang lalu ketat di bagian pergelangannya. Sebuah “lunghee” melilit pinggang, pedang panjang di sisi, yang bergantung pada sabuk yang diselempangkan.

Berdasarkan sketsa seorang pedagang Inggris, Peter Mundy pada 1637 sabuk itu diselempangkan di bahu kiri, senjata yang masuk dalam sarung itu panjang sekali. Senjata ini digantungkan di bawah lengan dan pegangan senjata itu tertahan di bawah ketiak. Selain pedang panjang tadi, mereka juga memakai keris. Ini semacam pisau belati.

Semua laki-laki mencukur habis kumis dan jenggot mereka. Semua berjalan tanpa alas kaki, dari raja sampai orang paling kere sekalipun.

“Mereka tak berkulit sehitam orang Guinea. Hidungnya juga tak sepesek mereka. Mereka berkulit kuning atau coklat. Berperawakan cukup tinggi,” catat Vitre.

Adapun perempuan umumnya mengenakan kain katun dari pinggang hingga lutut. Sepotong kain lain menutupi bagian dada hingga pinggang. Meskipun demikian ada pula perempuan yang bertelanjang dada, hanya mengenakan selendang yang disampirkan di bahu menutupi sebagian dada. Kepala mereka tak ditutup dan membiarkan rambut dipotong pendek.

Setiap perempuan telinganya dilubangi dan diselipi benda selebar empat jari. Selain itu pada tulang rawan telinganya terdapat juga lubang-lubang kecil yang diselipi bunga-bunga. Mereka mengenakan gelang tembaga, timah putih, atau perak. Beberapa di antara mereka juga mengenakan cincin di jari manisnya.

Agar tubuhnya wangi, para perempuan biasanya menumbuk rempah wangi dan merendamnya dalam air, seperti batang lidah buaya, cendana, dan jeruk purut. Mereka menggosokkan bahan-bahan itu ke bagian tubuh.

Para gadis kalau tidak diikat rambutnya di belakang kepala, mereka berambut pendek. Sehingga membuat mereka sulit dibedakan dari lelaki, kecuali karena buah dadanya.

Sementara itu, pejelajah Inggris lainnya, William Dampier pada 1688 memberikan gambaran sedikit berbeda. Katanya, masyarakat Aceh yang berkedudukan tinggi biasanya memakai kupiah di kepala dari kain wol berwarna merah atau warna lain. Mereka memakai celana pendek. Bangsawan memakai sepotong kain sutera yang longgar di atas pundak. Sementara rakyat kecil telanjang dari pinggang ke atas. Mereka juga tidak memakai kaos kaki atau sepatu. Hanya orang kaya yang memakai sandal.

Penari

Dalam dunia hiburan, dandanan para penarinya pun begitu semarak. Penari perempuan misalnya, sebagaimana diungkapkan Augustin de Beaulieu. Di atas rambut mereka ada sebentuk topi yang terdiri dari gulungan emas dengan jambul-jambul sepanjang 1,5 kaki juga dari gulungan emas. Topi itu ditelengkan ke sebelah telinga. Mereka memakai anting-anting besar yang juga terdiri dari untaian emas. Untaian itu menggantung hingga bahu.

Bahunya ditutupi sejenis hiasan ketat yang melingkari leher dan melebar membentuk lidah lancip melengkung seperti gambaran sinar matahari. Seluruhnya dari lempeng emas yang diukir aneh sekali.

Di tubuh bagian atasnya, mereka mengenakan kemeja atau baju dari kain emas dengan sutera merah yang menutupi dada dengan ikan pinggang besar yang sangat lebar. Bahannya dari untingan-untingan emas. Pinggul mereka diikat ketat dengan selajur kain emas, sebagaimana kebiasaan di negeri itu. Di bawahnya, celana juga dari kain emas. Panjangnya tak lebih dari lutut. Di bagian bawahnya digantungi beberapa kerincing emas kecil. Lengan dan kakinya telanjang. Namun, dari pergelangan tangan hingga siku tertutup berbagai renda emas berpermata. Itu seperti juga di atas siku dan dari pergelangan kaki sampai betis.

Di pinggang, masing-masing ada keris atau pedang yang pegangan dan sarungnya bertahtakan permata. Tangan mereka juga memegang kipas besar dari emas dengan beberapa kerincing kecil di pinggirnya.

Bagi Beaulieu pakaian yang dikenakan gadis-gadis penari itu aneh, namun mereka sangat cantik. “Tak kukira ada yang seputih itu di negeri sepanas ini, sedangkan dandanannya belum pernah saya lihat sedemikian … sukar bagi saya menerangkannya, sebab seluruhnya dari emas belaka,” kata Beaulieu.

Kuku dan Keris

Rupanya, selain emas dan permata, orang-orang Aceh masa lalu juga menjadikan kuku sebagai tanda status sosial. Orang kaya bisa dibedakan dari rakyat biasa lewat kukunya. Seringkali orang kaya membiarkan kuku ibu jari dan kelingkingnya tumbuh panjang. “Ini tanda kalau mereka tak melakukan pekerjaan kasar dengan tangannya,” tulis Danys Lombard.

Keris juga menambah kekuasaan bagi pemiliknya. Lombard mencatat, keris pada masanya merupakan lambang kekuasaan, selain cap. Tanpa keris, tak ada pegawai yang dapat mengaku bertugas melaksanakan perintah raja. Para pegawai istana membawa keris kalau menyambut orang asing untuk mengantar mereka menghadap raja.

John Davis, seorang juru mudi Inggris, pada 1599 menjelaskan keris semacam badik yang mata dan pegangannya terbuat dari logam yang oleh raja dinilai lebih berharga dibanding emas. Pegangannya bertakhtakan batu-batu delima.

Memakai keris sembarangan sangat dilarang dan terancam hukuman mati. Namun, jika raja yang memberikan keris itu, dengan hanya memegangnya dia mampu mengambil makanan tanpa membayar dan memerintah orang lain layaknya kepada budak.

“Semua penjelajah atau hampir semuanya, memberi gambaran yang sama dari kekuasaan yang berkat keris itu melekat pada si pemakai,” tulis Lombard.[historia.id]

Arak-arakan perayaan Idul Adha di Kesultanan Aceh. Sketsa Peter Mundy 1637. (Sumber: Anthony Reid, Menuju Sejarah Sumatra).
Biografi - Hari Raya Idul Adha 1637.Peter Mundy terkagum-kagum kala menyaksikan prosesi itu. Seperti dikisahkannya dalam buku Denys Lombard berjudul Kerajaan Aceh Zaman Sultan Iskandar Muda, ia melihat semua warga Kesultanan Aceh seolah larut dalam suatu perayaan pesta akbar: seluruh lapangan besar antara pintu masuk istana hingga ke masjid Bait ur-Rahman dihiasi dengan bendera-bendera besar. Sultan datang dengan menaiki gajah yang dihias sangat megah dan mewah.

“Kedatangan Sultan diiringi arak-arakan besar yang terdiri atas 30 barisan…” ujar pedagang Inggris tersebut

Mundy juga melihat, dalam barisan ke-28 ada 30 ekor gajah yang dihias dengan benda mirip menara kecil di atas punggungnya. Di setiap menara berdirilah dengan gagah masing-masing seorang serdadu yang berpakaian merah seraya memegang bedil. Pada deretan pertama rombongan yang terdiri atas 4 ekor gajah, gadingnya masing-masing dipasangi dua pedang besar. Banyak di antara gajah itu memiliki nama, salah satunya, gajah yang dinaiki Sultan, bernama Lela Manikam.

Perayaan Idul Adha yang disaksikan Mundy bertepatan dengan pengangkatan Iskandar Tsani sebagai sultan. Karena itu, tak aneh jika prosesinya berlangsung sangat panjang dan melibatkan banyak petinggi kerajaan, tentara, para pelayan istana, berbagai senjata, dan simbol kebesaran kerajaan. Menurut Amirul Hadi dalam Aceh: Sejarah Budaya dan Tradisi ada banyak alasan yang menjadikan perayaan Idul Adha kerap melibatkan seluruh elemen negeri secara massif. Namun yang pasti, faktor Aceh sebagai seuatu kerajaan Islam menjadikan penguasanya memiliki otoritas politik maupun agama. Perayaan juga menggunakan dua tempat, yakni istana sebagai simbol perayaan sedang masjid sebagai simbol keagamaan.

Mundy melanjutkan, ketika sampai di dalam masjid, Sultan dan para pembesar istana masuk untuk melaksanakan ibadah. Setelah beriabadah di masjid bersama Syaikh Syams ud-Din, Sultan pergi ke tempat rajapaksi. Di sana hewan-hewan yang akan dikurbankan sudah diikat di bawah kemah. Sultan kemudian melakukan penyembelihan pertama menggunakan belati emasnya. Begitu muncul tetesan darah pertama, belati diserahkan kepada Syaikh Syams ud-Din untuk meneruskan prosesi penyembelihan hewan kurban. Dari kesaksian Mundy, Sultan saat itu mengurbankan 500 kerbau muda. Tidak hanya Sultan, pejabat kerajaan pun ikut berkurban. Salah satunya adalah Kadi Malik ul-adil.

Perayaan Idul Adha di rajapaksi dilanjutkan hingga selesai sementara Sultan kembali lagi ke istananya. Dalam perjalanan pulang Sultan beserta rombongan arak-arakannya diiringi berbagai macam musik. Rakyat sangat tertarik melihat rajanya. Anthony Reid dalam Menuju Sejarah Sumatra menulis bahwa ibu-ibu yang sedang hamil juga keluar untuk menyaksikan rajanya. Banyak yang melahirkan anak di jalan atau di pasar, bahkan ada orang yang tidak mendapat tempat dan harus berdesakan karena terlalu banyak orang yang ingin menyaksikan arak-arakan ini. Begitu banyak orang yang terlibat dan panjangnya prosesi membuat hampir tidak ada ruang yang tersisa dan sedikit kacau. Oleh karena itu, menurut Mundy prosesi tersebut sangat tidak beraturan.

Bersumber dari Adat Aceh, disebutkan Amirul Hadi bahwa ada lebih banyak peserta yang terlibat dengan lencana kebesaran kerajaan yang lebih lengkap dibanding perayaan dan prosesi lain di Kesultanan Aceh. Idul Adha memang secara resmi dijadikan perayaan paling penting di sana saat itu. [historia.id]

Deliar Noer (1926-2008). tirto.id/Quita
Biografi - Suatu kali, setelah menyusun naskah kumpulan karangan Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Ajip Rosidi meminta Deliar Noer untuk membuatkan kata pengantar. Deliar Noer bersedia. Setelah buku terbit, Ajip bermaksud memberikan honor kepada Deliar untuk kata pengantar buku tersebut. Deliar menolak honornya.

“Uang itu dikembalikannya dengan alasan bahwa dia merasa berutang budi kepada Mr. Sjafruddin dan kawannya segenerasi, maka penulisan pengantar itu dianggapnya sebagai penghormatannya kepada beliau,” tutur Ajip dalam obituari untuk Deliar Noer seperti termuat di buku Mengenang Hidup Orang Lain (2010: 188).

Deliar Noer dikenal sebagai intelektual dengan spesialisasi politik dan sejarah Islam Indonesia abad ke-20. Hasil risetnya banyak yang sudah dipublikasikan penerbit-penerbit besar, termasuk karyanya yang terkait sejarah tokoh Islam. Salah satunya biografi Mohammad Hatta yang berjudul Mohammad Hatta: Biografi Politik (1990).

Ia meraih gelar doktor ilmu politik dari Universitas Cornell, Itacha, Amerika Serikat pada 1963 dan menjadi orang Indonesia pertama yang berhasil menggondol doktor dalam bidang tersebut. Disertasinya, "The Rise and Development of the Modernist Movement in Indonesia", membahas bagaimana tokoh dan kelompok-kelompok Islam bergerak di era kolonial.

Disertasinya kemudian dialihbahasakan dan dibukukan dengan judul Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942 pada 1980. Dalam buku itu, Deliar juga mencatat keadaan umat Islam di Indonesia sebelum abad ke-20. Di masa itu, menurut Deliar, sikap taqlid “merajalela di kalangan umat Islam mulai abad XI hingga abad XIX. Apa yang disebut Ijtihad, yaitu usaha dan daya bersungguh-sungguh untuk menemukan tafsir serta pendapat tentang sesuatu soal, tidak lagi diakui.”

Hidup Deliar Noer memang tidak pernah jauh dari Islam. Ia tumbuh besar dalam keluarga Minangkabau yang merantau di Sumatera Timur. Ayahnya, Noer Joesoef, adalah pegawai pegadaian yang doyan mengadakan pengajian.

Kondidi ekonomi keluarganya tergolong lumayan. Setidaknya, sewaktu bocah, Deliar Noer pernah belajar di Hollandsche Inlandsch School (HIS) partikelir milik perguruan Taman Siswa di Tebing Tinggi, lalu ke HIS milik pemerintah. Lulus sekolah dasar 7 tahun itu, dia sebentar bersekolah di SMP kolonial—yang disebut Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO)—di kota Medan.

Larut dalam Revolusi
Sayangnya, Deliar Noer tidak bisa sekolah dengan normal seperti banyak pemuda seumurannya. Perang Pasifik meletus. MULO tak bisa berjalan lagi setelah Balatentara Jepang mendarat. Para siswa mau tidak mau harus melanjutkan di SMP yang disebut Chu Gakko. Sempat terpikir olehnya untuk belajar di INS Kayutanam di zaman Jepang itu. Belakangan, Deliar hijrah ke Jakarta. Maksud hati untuk sekolah, tapi dia terjebak dalam revolusi. Dia berada di pihak Republik. Di masa revolusi pula, ia pernah jadi penyiar Radio Republik Indonesia (RRI).

Waktu ada lowongan di Akademi Militer di Yogyakarta, Deliar Noer mendaftar, namun tidak diterima. Setelah itu dia dianjurkan pergi ke Cikampek, tetap untuk berjuang di pihak Republik.

“Nasibku agaknya memang tidak untuk aktif di dalam tentara, padahal keinginanku kuat juga untuk itu. Aku malah telah mengupahkan pembuatan uniform serba hijau dalam rangka itu,” tutur Deliar dalam Aku Bagian Ummat, Aku Bagian Bangsa: Otobiografi Deliar Noer (1996: 218).

Setelahnya, Deliar Noer berangkat ke Singapura. Di sana ia menjadi Sekretaris Perdagangan pemerintah.

Usai revolusi, Deliar Noer, yang sempat bekerja di Departemen Luar Negeri dan jadi guru SMA Muhammadiyah ini, kemudian kuliah. “Aku masuk di Akademi Nasional jurusan Sosial Ekonomi Politik tahun 1950,” sebut Deliar dalam autobiografinya (1996: 301).

Di awal 1950-an, Deliar Noer adalah aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Jakarta. Pernah jadi Ketua Cabang (1951-1953) dan Ketua Pengurus Besar HMI (1953-1955).

Dia kemudian mengenal Mohammad Hatta ketika bekerja di Pers Biro Indonesia (PIA). Dalam autobiografinya Deliar mengaku, “Yang memacu hubungan ini adalah pertemuan mingguan antara beberapa orang wartawan dengan Hatta di rumah wakil presiden di Merdeka Selatan, ketika aku menjadi pemimpin desk bahasa Inggeris kantor berita PIA, bekas Aneta—kepunyaan Belanda” (hlm. 875).

Menjadi Akademisi
Deliar berhasil merampungkan sarjana mudanya di Universitas Nasional pada 1958. Berkat bantuan dana dari Yayasan Rockefeller, ia bisa kuliah di Amerika. “Karena prestasi saya baik, mereka memutuskan untuk membiayai saya sampai meraih doktor," akunya dalam Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1985-1986 (1986: 595-596).

Sepulang dari Amerika, pada 1963, Deliar kembali ke Pesisir Sumatera bagian Timur, yang sudah jadi Provinsi Sumatra Utara, dan menjadi dosen di Universitas Sumatra Utara (USU), Medan. Dia angkat kaki dari sana dua tahun kemudian karena berkonflik dengan golongan yang sedang berjaya, yaitu Partai Komunis Indonesia (PKI). Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan, Mayor Jenderal Sjarif Thayeb, dianggap sebagai orang yang melarangnya mengajar.

“Dia dipecat dari kampus USU karena desakan golongan kiri yang menuduhnya antek Amerika dan dekat dengan Hatta,” tulis Ajip Rosidi (hlm. 184).

Dia juga kena tuduh sebagai orang yang anti-Manifesto Politik (Manipol). Dia dan Hatta dianggap sama, berseberangan dengan Sukarno. Di masa-masa suksesi dari Sukarno ke Soeharto, antara 1965 hingga 1967, Deliar sempat dipekerjakan sebagai Kepala Biro Hubungan Luar Negeri, Departemen Urusan Riset Nasional di Jakarta.

Ketika Soeharto jadi Ketua Presidium Kabinet Ampera, Deliar termasuk dalam kelompok staf pribadi yang dikenal sebagai SPRI. Rupanya Deliar Noer tidak cocok berlama-lama jadi staf daripada jenderal yang belakangan jadi Presiden Republik Indonesia kedua itu. Dia berbeda paham dengan staf lainnya.

“Banyak contoh mengenai kebijakan dan langkah-langkah Soeharto yang tidak sesuai dengan cita-cita kemerdekaan kita,” tulis Deliar dalam Delapan Puluh Tahun Deliar Noer (2007: 174).

Sejak 1967, Deliar kembali ke tempat di mana orang terpelajar harusnya berada: kampus. Dia dijadikan Rektor Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jakarta—yang belakangan jadi Universitas Negeri Jakarta. Namun, lagi-lagi dia berurusan dengan orang yang sama pada 1974.

Kala itu Sjarif Thayeb sudah jadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di awal Orde Baru. Ajip Rosidi menyebut dia “dipecat ketika hendak membacakan pidato pengukuhannya sebagai guru besar pada bulan Juni 1974, padahal masa jabatannya hanya tinggal beberapa bulan lagi” (hlm. 183).

Sang menteri menuduhnya sebagi penghasut. Kala itu, masih hangat-hangatnya gerakan mahasiswa yang disebut Malapetaka 15 Januari 1974 alias Malari 1974.

Setelahnya, Deliar Noer pun tak punya tempat mengajar. Tapi kampus bergengsi tak pernah tidur ketika melihat dosen bagus. Jauh di seberang lautan, Australian National University (ANU) di Canberra meliriknya. Terbebaslah dia sebagai manusia tanpa penghasilan yang tinggal di rumah kontrakan. “Daripada tidak bisa makan di negeri sendiri, lebih baik cari makan di negeri orang," kata Deliar Noer dalam Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia.

Tak hanya di ANU, dia juga pernah menjadi pengajar tamu di Universitas Griffith, Brisbane. Sebagai orang dekat Hatta, Deliar Noer pernah diajak untuk membangun partai bernama Partai Demokrasi Islam Indonesia (PDII). Setelah Soeharto lengser, dia mencoba mendirikan Partai Umat Islam, namun tidak mendapat dukungan yang cukup. Kiprahnya di dunia partai politik tak sebaik nama besarnya di dunia ilmu pengetahuan.

Sepanjang Ramadan hingga lebaran, redaksi menyuguhkan artikel-artikel yang mengetengahkan pemikiran para cendekiawan dan pembaharu Muslim zaman Orde Baru dari berbagai spektrum ideologi. Kami percaya bahwa gagasan mereka bukan hanya mewarnai wacana keislaman, tapi juga memberi kontribusi penting bagi peradaban Islam Indonesia. Artikel-artikel tersebut ditayangkan dalam rubrik "Al-Ilmu Nuurun" atau "ilmu adalah cahaya".

Sumber: tirto.id - Humaniora
Penulis: Petrik Matanasi

BARANGKALI Balaputradewa satu-satunya raja Sriwijaya yang diingat banyak orang. Dia terkenal sampai India karena membangun asrama bagi pelajar Sriwijaya di Nalanda. Padahal, Sriwijaya mulai maju sebagai kerajaan maritim paling tidak sejak abad 7. Namanya memudar pada abad 12.

Sementara Balaputradewa menjadi raja Sriwijaya pada abad 9. Lantas siapa saja yang menjadi raja Sriwijaya? Pertanyaan ini cukup merepotkan para ahli.

“Dalam kajian Sriwijaya yang menyulitkan kita adalah menyusun genealogi raja-rajanya, karena prasasti tak menyebut nama raja dengan terang,” kata Bambang Budi Utomo, arkeolog senior Puslit Arkenas, kepada Historia.

Tak jelas juga siapa yang memulai imperium besar ini. Informasi awal muncul dalam Prasasti Kedukan Bukit bernama Dapunta Hyang. Namun, sesungguhnya yang disebut prasasti dari tahun 682 itu hanyalah gelar.

Untungnya, Prasasti Talang Tuo memperjelasnya. Ditemukan di Palembang, prasasti dari tahun 684 ini menyebut tokoh Dapunta Hyang Sri Jayanaga. Kedua tokoh itu dianggap orang yang sama karena prasasti itu dikeluarkan dalam jarak waktu berdekatan.

“Kita baru tahu nama lengkapnya setelah ditemukan prasasti tentang taman, Prasasti Talang Tuo,” ujar Bambang.

Menurut Slamet Muljana dalam Sriwijaya berdasarkan isi Prasasti Talang Tuwo, Dapunta Hyang Sri Jayanaga dipuja dengan doa yang muluk setelah dia memerintahkan pembuatan taman Sriksetra. Taman yang ditanami beraneka buah-buahan itu diciptakan demi kehidupan semua makhluk. 

“Jadi logisnya Dapunta Hyang adalah gelar raja Sriwijaya yang bernama Sri Jayanaga,” catat Slamet Muljana.

Siapa yang melanjutkan pemerintahannya?

Menurut Bambang, informasinya terputus sampai muncul nama Balaputradewa. Ada petunjuk kecil dari Prasasti Ligor A dan kronik Tiongkok. Prasasti itu menyebut raja Sriwijaya menyerupai Indra yang membangun kuil di Ligor (kini, Nakhon Si Thammarat di Thailand selatan) pada 775.

Hsin-t’ang-hsu, catatan sejarah yang disusun berdasarkan berita Ch’iu T’ang Shu atau sejarah lama, ketika Dinasti Sung berkuasa pada abad 11. Tercatat Kerajaan Shih-li-fo-shih (Sriwijaya) mengirim utusan ke Tiongkok pada 670-673 dan 713-741.

Pada 724, seorang utusan bernama Kiu-mo-lo (Kumara) datang ke Tiongkok. Kaisar memberi gelar jenderal padanya. Dia juga memberi gelar pada raja Sriwijaya bernama Che-li-to-le-pa-mo (Sri Indrawarman).

“Jika masa pemerintahan itu kita hubungkan dengan Prasasti Ligor A, yaitu 775, maka selisih 51 tahun, mungkin Sri Indrawarman masih memerintah, mungkin juga sudah diganti putranya,” tulis Slamet. Bisa jadi raja yang dilukiskan serupa Dewa Indra oleh Prasasti Ligor A adalah Sri Indrawarman atau anaknya yang entah siapa namanya.

Tak banyak lagi informasi mengenai pemegang takhta berikutnya. Permasalahan genealogi kian ruwet ketika sampai ke Balaputradewa dalam suksesi Sriwijaya. Dalam Prasasti Nalanda dari tahun 860, Balaputradewa mengaku keturunan Sailendra, sebuah wangsa di Jawa. Ini menjadi pertanyaan bagaimana seorang keturunan Jawa bisa berkuasa di Sumatra.

Namun, setidaknya dia menjadi raja Sriwijaya lebih jelas. Prasasti itu menyebut namanya sebagai Maharaja di Suwarnadwipa, sebutan lama bagi Sumatra yang identik dengan Sriwijaya.

Setelah Balaputradewa, ada dua nama yang disebut dalam kronik Tiongkok sebagai raja di San-Bo-Zhai (Sumatra). Namun, keduanya tak didukung data prasasti. Dalam catatan Sejarah Dinasti Song (960-1279), disebutkan pada 960, Si-ri-hu-da-xia-li-tan mengirimkan utusan ke Tiongkok. Rajanya bernama Si-ri-wu-ya. Dua puluh tahun kemudian, rajanya sudah berganti. Ha-chi atau Haji (Aji) tertulis sebagai raja yang mengirim utusan ke Tiongkok pada 980.

Informasi agak terang muncul soal dua raja selanjutnya. Selain dari catatan Sejarah Dinasti Song, kedua raja ini juga disebut dalam prasasti berbahasa Tamil, Prasasti Leiden dari tahun 1005.

Kronik Tiongkok menyebut pada 1003, Raja Si-ri-zhu-la-wu-ni-fo-ma-diao-hua mengirimkan utusan ke Tiongkok. Utusan ini menyampaikan kepada kaisar kalau mereka mendirikan vihara Buddha bagi sang kaisar. Untuk itu mereka memohon agar penguasa Tiongkok bersedia memberikan nama dan genta. Pada 1008, penggantinya, Se-ri-ma-la-pi juga mengirim utusan ke Tiongkok.

Kedua raja itu merupakan ayah dan anak. Dalam Prasasti Leiden disebutkan Sri Marawijayotunggawarman, putra Raja Cudamaniwarman keturunan Sailendra, raja Kataha dan Sriwijaya, menghadiahkan sebuah desa di Nagippattana. Sementara sang ayah menghadiahkan sebuah biara bernama Cudamaniwarmanwihara. Hadiah ini, diberikan pada tahun pertama pemerintahan Raja Cola, Rajaraja I (1005/1006).

Berikutnya, pada 1017 berita Tiongkok kembali menyebut Raja Ha-chi-su-wu-cha-pu-mi mengirimkan utusan yang membawa surat berhuruf emas dan beberapa hadiah kepada kaisar. Pada 1028, raja yang berbeda, Raja Si-li-die-hua atau mungkin dibaca Sri Deva, mengutus bawahannya ke Tiongkok. Dua tahun sebelum utusan ini datang, Sriwijaya diserang Kerajaan Cola dari India Selatan. Dalam Prasasti Tanjore (1030) disebutkan Raja Sangramawijayattungawarman ditawan.

Dalam Asia Tenggara Masa Hindu-Buddha, George Coedes memperkirakan raja yang ditawan itu segera diganti. Yang tercatat dalam kronik Tiongkok itu bisa jadi adalah raja yang menggantikan.

Bambang menjelaskan, Sriwijaya masih tercatat mengirimkan bantuan ke Tiongkok dalam pembangunan kuil Tao di Kanton. Dalam Prasasti Kanton (1079) tercatat perbaikan kuil T’ien Ching dilakukan atas biaya raja San-fo-ts’i bernama Ti-hu-ka-lo.

Nama itu mungkin yang terakhir dari berita-berita tentang penguasa Sriwijaya. Informasi penguasa di Suwarnadwipa baru muncul kembali saat di Jawa sudah berkuasa Krtanagara, raja Singhasari. Namun, agaknya kekuasaan di Sumatra sudah beralih dari Sriwijaya ke Kerajaan Melayu. Pusat kekuasaannya berubah ke Dharmmasraya di barat Sumatra.

Lewat Prasasti Padang Roco (1286) yang ada di lapik arca Amoghapasa diketahui kalau Krtanagara menghadiahi rakyat Bhumi Malayu arca itu. Raja di Bhumi Malayu itu bernama Sri Maharaja Srimat Tribhuwanaraja Mauliwarmmadewa.

Gelar Srimat sebelumnya juga pernah muncul. Ia tercantum dalam Prasasti Grahi (1183) untuk raja bernama Srimat Trailokyaraja Mauplibhusanawarmadewa. Adapun prasasti ini berada di Chaiya, selatan Thailand yang sebelumnya pernah menjadi negeri bawahan Sriwijaya.

Menurut Slamet Muljana, gelar Srimat dan nama Mauli hanya dikenal oleh raja-raja Melayu. Tak pernah sebelumnya digunakan oleh penguasa trah Sailendra, baik di Sumatra maupun di Jawa.

“Dengan kata lain Kerajaan Sriwijaya pada 1183 sudah runtuh digantikan Kerajaan Malayu, dan wilayah Semenanjung tak lagi diperintah Sriwijaya, melainkan Kerajaan Melayu,” jelasnya.| historia.id

Ribuan warga Palestina yang melancarkan aksi di berbagai titik perbatasan Gaza-Israel, ditembaki serdadu Israel (Foto: idf.il)
SEOLAH tak mempedulikan nyawa manusia, militer Israel meladeni demonstrasi “Great March Return” rakyat Palestina dengan tembakan. Akibatnya, lebih dari 100 orang tewas dan 1000 lainnya terluka.

Israel mengklaim para serdadunya menjaga kedaulatan. Insiden berdarah itu menambah panjang deretan insiden berdarah yang sejak lama terjadi. Suasana makin dikeruhkan oleh peresmian Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Yerussalem pada Selasa (15/5/2018).

Meski banyak pemimpin dunia mengutuk dan mengecam keputusan itu, Presiden Donald Trump bergeming. AS bahkan mematahkan sejumlah resolusi yang dikeluarkan Dewan Kemanan (DK) PBB. “Apapun resolusinya akan di-veto AS. Mereka kan pegang hak veto,” ujar Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia Profesor Hikmahanto Juwana kepada Historia.

Eksodus Penduduk Palestina

Great March Return dihelat untuk memperingati eksodus besar-besaran orang Palestina. Dalam Perang Palestina 1948, sekira 700 ribu warga Palestina mengungsi dari tempat tinggal mereka akibat pendudukan Israel. Menurut Benny Morris dalam The Birth of Palestinian Refugee Problem Revisited, hingga kini para penyintas dan keturunan mereka tersebar di Yordania (dua juta), Lebanon (428 ribu), Suriah (478 ribu), Tepi Barat (788 ribu), dan Jalur Gaza (satu juta).

Hari pengungsian itu dikenal sebagai Nakba atau Yawm an-Nakba, yang berarti Hari Bencana. Pada 1950-an, Liga Arab menyebutnya sebagai Hari Palestina. Oleh Yasser Arafat Hari Nakba ditetapkan secara resmi pada 1998. “Orang-orang Arab di Israel-lah yang awalnya mengajarkan para penduduk di wilayah Israel untuk memperingati Hari Nakba,” cetus mantan Wakil Walikota Yerusalem Meron Benvenisti dalam Son of Cypresses.

Mempertanyakan Legalitas Kedubes Amerika

Dalam peringatan 70 tahun Hari Nakba yang jatuh tahun ini, rakyat Palestina menggelar Gerakan 40 ribu warga Palestina di berbagai wilayah Gaza. Berbarengan dengan gerakan itu, AS meresmikan perpindahan kedubesnya dari Tel Aviv ke Yerusalem. Keputusan itu ibarat menyiram bensin ke bara api hubungan Palestina-Israel. “Besar dugaan, motifnya Trump ingin mewujudkan janji kampanyenya,” ujar Hikmahanto.

Trump berpijak pada undang-undang (UU) bernama Jerusalem Embassy Act (JEA) yang RUU-nya dicetuskan kali pertama oleh Senator Bob Dole di Komite Senat Bidang Luar Negeri dan Komite Kongres Bidang Hubungan Internasional Senat, 13 Oktober 1995. Setelah diluluskan Senat dan Kongres pada 24 Oktober 1995, JEA resmi jadi UU pada 8 November 1995.

JEA berangkat dari prinsip AS bahwa Yerusalem berdasarkan sejarahnya merupakan bagian dari pemerintahan di bawah Inggris (Mandatory Palestine). Untuk memperkuat prinsip itu, AS menggunakan UU Yerusalem Israel yang –mengklaim Yerusalem sebagai ibukota Israel– diterbitkan Knesset (badan legislatif Israel) pada 30 Juli 1980.

Kebijakan Trump meruntuhkan fondasi toleransi yang dibangun para pendahulunya. Meski ayat 3 JEA menyatakan bahwa Kedubes AS harus sudah dipindah dari Tel Aviv pada 31 Mei 1999, pemerintahan Clinton hingga Barack Obama senantiasa menunda pelaksanaannya. Mereka berpijak pada ayat 7, di mana presiden berhak menunda proses pemindahan kedubes selama enam bulan.

Trump sebetulnya sempat mengikuti para pendahulunya, namun pada Desember 2017 dia mengakui Yerusalem adalah ibukota Israel meski kembali menandatangani penundaan pemindahan kedubes. Pada 15 Mei 2018, berbarengan dengan 70 tahun deklarasi kemerdekaan Israel, Trump meresmikan pemindahan Kedubes AS dari Tel Aviv ke Yerusalem yang kemudian diikuti Guatemala.

Keputusan Trump yang menggugurkan sejumlah resolusi DK PBB itu menuai kecaman keras dari berbagai pihak. Keputusan itu melanggar banyak hukum internasional sekaligus mencederai legitimasi AS sebagai penengah konflik Israel-Palestina.

“Dunia harus terus menunjukkan penentangannya. Termasuk mengingatkan Trump, rakyat AS, dan kepentingan AS di luar negeri bisa jadi korban kebijakannya. Ditambah, dunia juga mesti mendorong Rusia atau negara-negara pemilik hak veto lainnya di DK PBB untuk melakukan tindakan unilateral yang bisa membuat Trump berpikir ulang,” lanjut Hikmahanto.

Tindakan unilateral mesti diambil mengingat jika persoalan itu dibawa ke DK PBB, hasil resolusinya bisa kembali di-veto AS. “Atau masyarakat dunia hendaknya merangkul warga AS dengan harapan bisa dihentikan (atau dibatalkan) melalui lembaga peradilan di AS, atau bahkan mendorong agar Presiden Trump di-impeach (dimakzulkan),” tutup Hikmahanto.

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget