Halloween Costume ideas 2015
Latest Post

Ilustrasi
Biografi - Video panas antara janda berinisial RN yang begituan dengan SP beredar luas di tengah masyarakat Kecamatan Cempaga, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, sejak pekan lalu.

Ada dua video sangat hot yang beredar. Video pertama berdurasi dua menit 54 detik.

Sementara itu, video kedua memiliki durasi dua menit 50 detik.

”Memang sempat heboh karena orang desa itu juga pelakunya,” kata salah satu warga yang enggan namanya ditulis sebagaimana dilansir laman Prokal, Selasa (17/7).

Dia menduga RN dan SP melakukan hubungan layaknya pasangan suami istri di dapur.

“Sebab, ada perabotan dapur dan ada pihak yang merekam melalui lubang dinding kayu. Makanya agak gelap,” tambah dia.

Dia juga menyayangkan ulah RN dan SP. Sebab, dua insan bukan muhrim itu bersebadan di rumah orang lain.

Menurut dia, warga memang sudah mengintai gerak-gerik pasangan selingkuh itu.

“Padahal, rumah itu bukan rumah perempuan maupun lelaki tersebut. Mereka cuma berkunjung saat malam. Ternyata begitu kelakuannya,” kata dia. | JPNN

Biografi - Baru-baru ini, Bupati Tegal Enthus Susmono, berpidato di depan makam Sultan Amangkurat I dalam acara jamasan. Bupati yang merupakan seorang dalang itu mencanangkan nama kabupaten yang dipimpinnya menjadi Tegal Hadiningrat agar lebih terjalin hubungan erat antara Tegal dengan Surakarta Hadiningrat.

“Ini hasil pertemuan dengan keluarga Keraton Surakarta Hadiningrat,” katanya.

Enthus yang selalu mengidentifikasi dirinya sebagai santri dan diusung Partai Kebangkitan Bangsa, agaknya perlu membaca lebih banyak riwayat Amangkurat I.

Dendam Berkarat yang Menjadikannya Biadab
Amangkurat I menghabiskan malam di pendapa keraton Plered sembari berpikir keras: bagaimana cara terbaik membalas dendam kepada mereka yang mbalelo.

Dua hari sebelumnya, terjadi insiden yang membuat dia murka. Pangeran Alit, adiknya sendiri, berusaha menyerang istana dan mendongkelnya dari tahta. Sang adik tewas terbunuh. Ia jelas senang. Tapi yang terus menggelayuti pikirannya adalah: apa langkah berikut untuk membasmi kelompok yang selama ini dicurigai berkomplot dengan adiknya?

Biografi - Perhelatan Piala Dunia 2018 memasuki babak akhir. Dua tim tebaik bakal bertarung di final pada 15 Juli 2018 mendatang. Tim nasional Prancis yang mempermalukan Belgia 1-0, akan menjadi penantang Kroasia yang baru saja mengalahkan Inggris 2-1.

Kelolosan Prancis ke babak final membuat semua penggemar bersuka cita, tak terkecuali disc jockey (DJ) Dinar Candy. DJ seksi ini menjagokan Prancis sebagai juara Piala Dunia 2018.

Ada momen menarik sebelum laga Prancis melawan Belgia dimulai. Dinar Candy sesumbar melakukan nazar yang terbilang ekstrem. Dinar Candy berjanji untuk mengenakan bra di pinggir jalan andaikata Prancis menang melawan Belgia.

Patroli tentara Belanda di Binjai, Sumatera Utara . Foto: gahetna.nl.
KOTA Binjai pada 13 Juli 1949 tampak lengang. Prajurit  I.J.C Hermans masih ingat hari itu cuaca cerah dan kelihatannya begitu aman, damai dan tentram. Namun menjelang petang, keadaan di markas militer Belanda mendadak berubah penuh hiruk-pikuk.

“Seorang prajurit dalam keadaan terengah-terengah melapor pada komandan setempat di Binjai. Sang komandan melihat dengan keheranan seorang asing yang tiba-tiba muncul di hadapannya, berpakaian hanya bercelana dalam saja,” kenang Hermans dalam “Ups and Downs in Kompani Doea” termuat dalam kumpulan tulisan Gedenkboek 5—11 RI.

Si prajurit yang cuma mengenakan sempak itu bernama Jan van Thoor. Thoor adalah seorang dari anggota kolone perbekalan Belanda yang hendak menuju Desa Telagah, di Langkat Hulu. Dia merupakan salah satu korban penghadangan yang terjadi di Bukit Gelugur, Rumah Galuh dekat kampung Keriahen, Tanah Karo.

Menurut pengakuan Thoor, saat sedang dalam dalam perjalanan ke Telagah, tiba-tiba kelompoknya diserbu dan segera dilumpuhkan tanpa perlawanan. Yang masih hidup ditawan dan dilucuti. Perbekalan yang mereka bawa dirampas oleh pasukan penyergap. Tak hanya senjata, pakaian yang dikenakan tentara Belanda itu turut dilucuti hingga hanya menyisakan celana dalam.

Beberapa nama serdadu yang tertangkap dalam penyergapan adalah Dr. van Bommel, Sersan Donken, Sjengske Vaes, Jan Wolfs, van Galen, Gerrit Stoffelen – termasuk van Thoor yang berhasil menyelamatkan diri. Mereka berasal dari Kompi 2 Batalion 5-11, unit pasukan yang didatangkan dari negeri Belanda yang pernah menghadapi Jerman dalam Perang Dunia II.

Menurut veteran tentara pelajar Amran Zamzami dalam memoar Jihad Akbar di Medan Area, Batalion 5-11 merupakan pasukan infantri yang beroperasi di jalur Binjai-Tanjung Pura dan sekitarnya. Unit tentara Belanda ini dibantu pasukan lokal yang berpihak pada Belanda bernama Barisan Pengawal Negara Sumatera Timur (NST). Saat terjadi penyergapan di Langkat, nasib mereka tidak dapat dipastikan. Namun berdasarkan kesaksian Thoor, banyak tentara Belanda yang terluka berat.

“….. kami berhari-hari melakukan patroli yang melelahkan untuk mencari mereka. Tiap kali kami berangkat dengan penuh pengharapan, pada waktu pulang kami selalu merasa terpukul karena tidak menemukan hasilnya,” demikian catatan Hermans mengenai situasi pasca penyergapan.

Terjebak di Basis Gerilya

Penyergapan terjadi karena tentara Belanda berada di wilayah berbahaya. Mereka memasuki sarang lawannya. Dalam buku Kadet Berastagi yang disunting Arifin Pulungan, Desa Telagah adalah pintu keluar masuk orang-orang gunung dan gerilyawan tentara Indonesia yang ingin melintas ke dataran tinggi Tanah Karo melalui jalan-jalan tikus (jalan setapak).

“Sebenarnya apa yang terjadi pada tanggal 13 Juli1949 dalam peristiwa penelanjangan serdadu Belanda di Desa Telagah adalah hasil penyergapan pasukan TNI Kompi Mohammad Yusuf  Husein dari Batalion Nip Xarim yang berlokasi di daerah kantong ini. Dan pasukan yang menyergap itu adalah peletonnya Lukman Husin,” tulis Arifin Pulungan.

Setelah pertempuran berlangsung selama satu jam, tentara Belanda kewalahan. Begitu mereka menyampaikan isyarat menyerah, pasukan gerilya TNI segera menyerbu ke jalan raya dan melucuti senjata tentara Belanda tersebut. Dalam catatan A.R Surbakti,  veteran perang kemerdekaan di Tanah Karo, sebanyak 3 orang tentara Belanda dapat ditewaskan 3 orang lagi dapat ditawan.

“Dua pucuk senjata otomatik dan 6 pucuk karaben dirampas dan sebuah truk dibakar,” tulis Surbakti dalam Perang Kemerdekaan II: Di Tanah Karo-Karo dan Dairi Area. Menurut Surbakti, sejak Januari 1949 memang telah digencarkan operasi penyerangan untuk merebut pos pertahanan Belanda di sepanjang garis status quo. Pada bulan April setiap batalion mengatur giliran kompi-kompinya untuk menyusup dan beroperasi ke daerah pendudukan Belanda. 

Tawanan dan Korban

Selain tentara Belanda, beberapa pasukan dari Barisan Pengawal NST juga turut menjadi korban penyergapan. Sejak itu, tentara Belanda intensif melakukan pencarian. Menyadari keselamatan tentaranya yang terancam, pesawat-pesawat capung (pipercub) Belanda mendrop obat-obatan serta bahan-bahan pembalut luka untuk pertolongan pertama di kawasan sekitar Desa Telaga. Namun selama berhari-hari kemudian tidak diperoleh berita perihal tentara Belanda yang tertawan.

Pihak Belanda sendiri bukannya tidak melawan. Dalam pertempuran itu, dua orang gerilyawan TNI gugur. Mereka bernama Kopral Dahlan dan Prajurit Azis. Keduanya dikebumikan di kampung Gurubenua, Tanah Karo.

Saat diumumkan gencatan senjata pada 15 Agustus 1949, barulah diketahui nasib tentara Belanda yang selamat dalam tawanan. Semua  yang tertawan dipulangkan secara bertahap. Pada bulan Oktober, pihak tentara Indonesia memulangkan van Galen dan Stoffelen. Kemudian menyusul Dr. van Bommel dan Sersan Donken.

Prajurit Wolfs dan Vaes dipastikan tewas akibat luka-luka. Jenazah Wolfs diketemukan dan kemudian dimakamkan di pekuburan Belanda Padang Bulan, Medan. Sedangkan jenazah Vaes, secara resmi dinyatakan hilang. [historia.id]

Biografi - Pada 1623 seorang pelaut VOC bernama Jan Cartensz mengabarkan adanya rangkaian gunung yang puncaknya berselimut salju di Papua. Karena wilayah itu begitu dekat dengan garis khatulistiwa, tentu saja informasi itu dianggap aneh. Informasi itu berlalu begitu saja hingga lebih dari dua abad berikutnya.

Sampai awal abad ke-20, pedalaman Papua adalah misteri. Naturalis Alfred Russel Wallace menyebutnya "terra incognita terbesar di bumi". Tetapi, setidaknya suatu usaha untuk mengenal tanah antah berantah itu telah dilakukan, dimulai dari pesisirnya.

Pada 1903 seorang geolog cum sejarawan bernama Prof. Dr. C.E.A. Wichmann menjelajahi Teluk Geelvink (sekarang Teluk Cendrawasih) hingga Teluk Humboldt (sekarang Teluk Yos Sudarso) di pesisir utara. Itulah ekspedisi ilmiah pertama ke Papua. Selain mengumpulkan data geografi fisik, ekspedisi Wichmann sekaligus mencoba mencari cebakan batu bara yang bisa dieksploitasi.

Lalu sebuah ekspedisi besar memasuki pedalaman Papua diinisiasi Dr. Hendrikus Albertus Lorentz pada 1907. Itu bukan penjelajahan pertamanya. Ia telah mengakrabi Papua sejak ikut dalam ekspedisi Prof. Wichmann. Ekspedisi Dr. Lorentz mencoba memasuki pedalaman dari sisi selatan sebelah timur dan selanjutnya mencoba mendekati puncak-puncak bersalju di pegunungan tengah Papua.

JIKA ingin membayangkan bagaimana suasana Jawa pada era surutnya pengaruh Hindu-Buddha, Kisah Panji bisa menjadi acuan. Ceritanya menggambarkan suasana budaya dan geografi lokal, tentang kerajaan yang pernah ada sekaligus sepak terjang para ksatria di Jawa.

Secara garis besar, Kisah Panji merupakan kumpulan cerita yang isinya seputar kepahlawan dan cinta Raden Inu Kertapati dan Dewi Sekartaji atau Dewi Candra Kirana. Ceritanya punya banyak versi yang menyebar luas di kawasan Nusantara dan Asia Tenggara.

Filolog dan pakar sastra Jawa Kuno, Poerbatjaraka dalam Tjerita Pandji dalam Perbandingan berpendapat Kisah Panji berlatar belakang Kerajaan Kadiri. Sebagaimana disebutkan dalam Kakawin Smaradhahana, Raja Kadiri Kameswara punya permaisuri Sri Kiranaratu dari Janggala. Kameswara kemudian dikenal dengan Raden Inu Kertapati. Pun permaisurinya yang sama-sama bernama Kirana.

Namun, arkeolog Universitas Indonesia, Agus Aris Munandar berpendapat Kisah Panji justru lebih mengacu pada peristiwa di era Majapahit. Tepatnya sejak awal Majapahit, era Wijaya hingga masa cicitnya, Hayam Wuruk. Kisah Panji mulai digubah setelah masa kejayaan Majapahit hingga paruh pertama abad ke-15 M.

“Cerita Panji adalah gudang data kebudayaan yang berkembang di Jawa sezaman dengan penggubahan kisah itu,” kata Agus dalam seminar Festival Panji Internasional 2018 di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Selasa sore (12/7).

Aspek budaya yang menurut Agus bisa ditengok dalam Kisah Panji misalnya soal birokrasi pemerintahan kerajaan. Dalam kerajaan, raja adalah penguasa tertinggi, memiliki istri utama yang disebut permaisuri, dan sejumlah selir yang juga tinggal di istana.

Raja mempunyai putra mahkota yang disebut yuwaraja yang kelak menggantikannya. Dalam Kisah Panji, dia adalah Raden Inu (Hino) Kertapati atau Raden Panji, putra mahkota Kerajaan Janggala. Dia punya pengiring bernama Kadeyan, yaitu para ksatria pengiring dan teman setia.

Pejabat lain adalah arja yaitu tangan kanan raja atau setara dengan patih; rangga, demang (kepala daerah yang statusnya lebih tinggi dari desa), dipati (adipati), tumenggung, dyaksa, manguri, akuwu, lurah (kepala pasukan), dan gulang-gilang (pengawal bersenjata); pangalasan (panggilan untuk ajudan); dan inya (pelayan perempuan yang sudah tua yang bertugas mengiringi putri raja)

“Disebutkan juga jenis jabatan yang belum dapat diketahui tugasnya secara pasti, seperti bupati gedong, mantri anom. Harus ada kajian lebih lanjut,” kata Agus.

Selain soal birokrasi pemerintahan, Kisah Panji juga memuat soal agama terutama Hindu-Siwa. Buddha hanya disebut sepintas khususnya dalam versi Panji Kuda Semirang yang menyebut bhiku dan Begawan Gotama.

“Kisah Panji itu secara garis besar berkisar soal kewiraan, seorang ksatria yang mahir berperang. Sementara Budhhisme kan mengajarkan ahimsa. Ini tidak sejalan,” kata Agus.

Kisah Panji juga menguraikan cukup lengkap soal kondisi istana, misalnya istana Jenggala, Panjalu, Gegelang, dan Bali.

Khususnya dalam versi Panji Angreni Palembang, Malat, Wangbang Wideya, dan Panji Kuda Narawangsa disebutkan adanya kedaton, puri, atau keraton sebagai tempat tinggal raja. Bangunan lain adalah paseban agung (bangunan tanpa dinding untuk berkumpul), siti inggil, kaputren, pendapa, pagelaran, tepas, bale kambang atau yasa kambang. Ada juga taman di istana bernama taman baginda.

Digambarkan pula istana dilindungi tembok keliling yang tinggi. Kompleksnya terdiri dari sejumlah halaman yang bersekat. Beberapa pintu gerbang istana disebut wijil pisan (pintu gerbang pertama), wijil kaping rwa atau kaping pindo (pintu gerbang kedua), wijil ping tri (pintu gerbang ketiga, yang terluar).

“Misalnya dalam Malat digambarkan pada wijil pisan, pintu gerbang pertama yang dekat dengan bangunan di mana raja tinggal, terdapat orang-orang Melayu dan Gegelang yang bermain gamelan,” kata Agus.

Pembagian halaman dalam istana ini juga disebut dalam kitab Nagarakrtagama. Halaman keraton Majapahit terbagi tiga, masing-masing ditandai pintu gerbang.

“Dinyatakan adanya pintu gerbang wijil ping tri, wijil ping kalih, wijil pisan dekat dengan tempat tinggal Rajasanagara (Hayam Wuruk, red.),” kata Agus.

Menurut Agus, berdasarkan Kisah Panji juga rekonstruksi perkotaan sezaman bisa dilakukan. Alun-alun menjadi pusatnya. Istana raja si selatan. Wilayah angker di sisi barat yang pada masa Islam biasanya menjadi lokasi masjid agung. Pasar (pken) di utara alun-alun. Puri untuk putra mahkota di utara pasar.

“Dalam masa perkembangan Islam, pola tata kota ini tetap berlanjut di sejumlah kota di Jawa,” kata Agus.

Kisah Panji pun kaya data militer. Hampir semua versi Kisah Panji menggambarkan peperangan. Karenanya penjabaran strategi perang banyak dijumpai di sini. Misalnya penataan pasukan bernama Garudda Wyuha. Bentuknya serupa burung garuda yang tengah mengembangkan sayap, kepala terjulur ke depan, dengan paruh siap mematuk.

“Dalam strategi tempur itu, para ksatria pemimpin pasukan berada di bagian paruh, dan sayap kanan kiri,” ujar Agus.

Dalam Malat dinyatakan Raden Panji membentuk pasukan tempur bernama Dwiradameta. Artinya, dua ekor gajah sedang birahi. Dalam bentuk ini, pemimpin pasukan ada di ujung belalai dan di ujung dua gading gajah. Sementara tentara membentuk badan gajah yang lebar.

Aspek kesenian juga banyak disebut dalam Kisah Panji seperti tentang permainan gamelan, seni tari, tembang, seni pahat relief, dan lukis.

Menarik pula soal penyebutan nama-nama tempat di Kisah Panji. Beberapa bahkan masih dikenal hingga sekarang. Misalnya, dalam Hikayat Panji Kuda Semirang, disebutkan soal Goa Selomangleng di dekat Kerajaan Daha (Kadiri).

Kini, di sebelah barat Kota Kediri masih terdapat tinggalan arkeologis yang disebut Goa Selomangleng. Goa buatan ini dikerjakan dengan cara melubangi bukit batu menjadi beberapa bilik.

“Ketika Kisah Panji digubah, goa sudah tidak berfungsi. Masyarakat tak tahu lagi fungsinya makanya dinyatakan saja sebagai tempat tinggal raksasa karena suasananya seram,” kata Agus.

Belum lagi soal penanda sosial yang banyak dijabarkan di dalam Kisah Panji. Pun tentang gambaran masyarakatnya. Kisah Panji jelas menuturkan bagaimana aktivitas masyarakat pada golongan istana, rakyat biasa, dan kaum agamawan.

“Aspek kebudayaan dalam cerita-cerita Panji belum banyak dilakukan. Saya ini hanya kulitnya,” kata Agus. Padahal, kajian data budaya dalam kisah ini akan bisa memperluas pemahaman sejarah budaya Jawa. | historia.id

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget