google.com, pub-7898008973708560, DIRECT, f08c47fec0942fa0 China Berencana Kembangkan Wisata Everest di Perbatasan Tibet | Biografi Nusantara Halloween Costume ideas 2015

China Berencana Kembangkan Wisata Everest di Perbatasan Tibet

Pendaki Gunung Everest mengantri menuju Everest Base Camp di ketinggian 5.364 meter di atas permukaan laut. (Foto: Arsip Abex)

Pemerintah China berencana mengembangkan pariwisata di sisi utara Gunung Everest tepatnya di perbatasan China-Nepal yakni Kota Gangkar, Tingri County, Tibet. Sejumlah anggaran telah disiapkan untuk membangun infrastruktur dan atraksi wisata di kaki Gunung Everest.

Perwakilan pemerintah China, Nyima Tsering mengatakan kepada surat kabar China Daily, Gangkar adalah tempat terbaik untuk melihat puncak Qomolangma, Cho Oyu, Shishapangma, Lhotse dan Makalu. Qomolangma adalah bahasa Tibet untuk Gunung Everest.

"Ada juga akan menjadi museum gunung, pusat penyewaan dan perbaikan untuk mobil, sepeda motor dan sepeda; dan restoran dan akomodasi," kata Nyima dikutip dari Daily Mail.

Pemerintah China berharap dengan pembangunan pariwisata di wilayah Gangkar, Tibet akan menjadi destinasi ski berskala internasional. Pengembangan ini juga diharapkan bisa meningkatkan perekonomian Tibet dan memberikan kesempatan kerja baru untuk masyarakat setempat di bidang pariwisata.

Menurut rencana, pemerintah China akan mengembangkan wilayah seluas 84.320 meter persegi atau seluas 12 kali lapangan sepak bola.

China Today melaporkan biaya pengembangan pariwisata Gunung Everest akan menelan biaya sebesar 20,4 juta dollar Amerika Serikat. Pengembangan pariwisata di Gangkar juga mencakup pembangunan helipad dan pusat medis.

Pengembangan pariwisata di kaki Gunung Everest ini direncanakan akan dimulai pada tahun 2017. Pemerintah China berharap proyek ini akan selesai pada tahun 2019.

Gunung Everest sendiri melintasi perbatasan Nepal dan Tibet. Pendakian Gunung Everest bisa dimulai dari sisi Nepal dan juga Tibet.

Gunung Everest dikunjungi hingga 10.000 pendaki dari seluruh dunia setiap tahunnya. Hal itu menjadi potensi besar untuk mendatangkan keuntungan lewat sektor pariwisata.
Kondisi base camp Gunung Everest , hari Minggu ini, sehari setelah gempa dashyat bermagnitud 7,9 yang memicu longsor di gunung tertingi di dunia ini (Foto: Roberto Schmidt/Agence France-Presse/Getty Images)

Dikritik

Di musim pendakian sebelumnya, pendaki gunung menghindari sisi Tibet karena konflik yang sedang berlangsung antara Tibet dan China, serta kurangnya infrastruktur.

Wartawan Conde Nast Traveler, Lilit Marcus menulis bahwa helipad akan membuat lebih mudah bagi helikopter untuk menyelamatkan pendaki yang terluka dalam kejadian longsor atau badai. Namun, helipad juga akan menarik pendaki kelas ekonomi atas menuju base camp Everest.

Bencana pada tahun 1996 bisa menjadi pelajaran ketika 12 orang tewas dalam satu hari setelah terjebak dalam badai salju di dekat puncak Everest.

Salah satunya, seorang sosialita asal New York Sandy Pittman, terkenal membayar uang yang terbilang besar untuk dibimbing menuju puncak Everest setelah gagal pada dua pendakian sebelumnya.
Tempat kemah di Gunung Everest. (Foto: The Telegraph)

Dalam buku Into Thin Air, John Krakauer menyebut bahwa praktik ini menyebabkan kemacetan di tempat-tempat berbahaya di gunung, dan pemandu mengambil risiko yang tidak perlu untuk mendapatkan tamu kaya ke atas.

Sebuah proyek infrastruktur baru besar-besaran di Tibet ini disebut akan bermanfaat bagi perekonomian, karena pasti akan memberikan aliran pendapatan ke daerah lain yang miskin.

Proyek pengembangan pariwisata ini juga dianggap yang baik dalam hal stabilitas lantaran masuknya wisatawan dari bagian lain dari China serta tentu akan menjadi sorotan dunia.

Di sisi lain, pendaki pasti akan menghargai infrastruktur dan akses ke gunung, tapi rencana tersebut bisa mengubah gunung menjadi perangkap kematian bagi pendaki pemula.
Labels:

Post a Comment

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget