Halloween Costume ideas 2015
May 2017

Biografi - Banyak yang tidak tahu mengenai sejarah masjid Agung Baing Yusuf yang kini berdiri megah di pusat Purwakarta kota, nama masjid tersebut diambil dari nama sosok penyebar agama Islam di Purwakarta.

Sosok tersebut adalah Raden H Mochammad Joseoef bin Raden Djajanegara atau yang dikenal dengan Syekh Baing Yusuf, yang diketahui orang pertama yang menyebarkan ajaran Islam di Purwakarta pada era 1800-an.

Diceritakan oleh salah satu pengurus masjid Agung Baing Yusuf, RH Sanusi AS, Baing Yusuf yang masih keturunan kerajaan Padjajaran, lahir di Bogor pada tahun 1700-an dengan kecerdasan yang diatas rata-rata.
Makam pembawa agama Islam di Purwakarta Raden H Mochammad Joseoef bin Raden Djajanegara atau yang dikenal dengan Syekh Baing Yusuf. (Foto/arah.com/Haryanto)
"Sekitar 1826, Baing Yusuf mulai mendirikan mesjid ini (masjid agung) sebagai tempat syiar Islam. Saat itu tempatnya masih hutan karena pusat pemerintahan masih berada di Wanayasa," ujar Sanusi saat ditemui di Purwakarta.

Perjalanan menuju Purwakarta oleh Syekh Baing Yusuf pada umurnya 23 tahun, diawali dari daerah kelahirannya Bogor hingga Purwakarta. Perjalananya itu berasal dari arahan mimpinya untuk mencari sebuah tempat menyebarkan agama Islam.

Saat Baing Yusuf datang ke Purwakarta, warganya masih belum banyak memeluk keyakinan sebuah agama, dan mayoritas belum tersentuh pendidikan seperti membaca atau menulis.

"Ilmu agama yang dimilikinya dulu didapat dari tanah Mekkah, beliau pergi ke Arab di usia 13 tahun dan Kembali ke Indonesia di usia 23 tahun," katanya.

Karena ingin mengajarkan ilmu agama, dirinya membangun sebuah bangunan sederhana yang kini menjadi masjid agung Purwakarta, untuk mengajarkan warga ilmu agama.

Sanusi menjelaskan untuk mempermudah warga Purwakarta mendalami ilmu agama yang disebarkan, Baing Yusuf membuat sebuah kitab fikih dan tasawuf dengan menggunakan bahasa sunda, yang notabene menjadi bahasa sehari-hari warga.

"Menyusun kitab fikih dan tasawuf dengan bahasa Sunda, tulisannya sih huruf arab tapi ada bahasa sundanya. Karena? dulu kan mayoritas masyarakat berbahasa Sunda, dan belum bisa membaca tulisan Arab," jelas Sanusi.

Seiring waktu berjalan, pusat pemerintahan pun di pindah ke Purwakarta pada pertengahan tahun 1800an, tempat masjid berdiri kini. Saat itu juga masyarakat semakin ramai yang mengerti dan memeluk agama Islam.

"Pindahnya pemerintahan dari Wanayasa ke Purwakarta, disini udah berjalan penyebaran agama dengan menggunakan kitab susunan beliau, setelah itu semakin masif dan ramai," tambahnya.

Tidak hanya dari negeri Arab, Baing Yusuf pun memperdalam ilmu agama dari salah seorang alim ulama Indonesia, bernama Syaikh Campaka Putih atau yang lebih dikenal sebagai Pangeran Diponegoro.

Dengan kecerdasan yang sangat tinggi, dari dirinya berumur tujuh tahun sudah dapat berbahasa Arab dan hanya dengan jarak satu tahun telah memahami isi kitab suci Al-Quran, oleh karena itu tidak sedikit yang berguru kepadanya, hingga menjadi ulama ulama besar di Indonesia.

"Salah satu muridnya yang dikenal banyak orang adalah imam Masjidil Haram, Syekh Nawawi Al-Bantani," ungkapnya.

Syekh Nawawi Al-Bantani  merupakan sosok intelektual dan ulama terkenal bertaraf internasional, yang juga sempat menjadi Imam Masjidil Haram yang juga penulis 115 kitab yang meliputi bidang ilmu fikih, tauhid, tasawuf, tafsir, dan hadis.

Kini, masjid yang dulunya di bangun dengan sederhana, berdiri megah dengan beberapa kali perbaikan hingga seperti saat ini dan menjadi saksi bisu sejarah penyebaran  agama Islam di kabupaten terkecil kedua di Jawa Barat?.

Tempat tinggal Syekh Baing Yusuf yang berada tepat dibelakang masjid, kini berubah menjadi sebuah makam yang setiap harinya terus dikunjungi warga, untuk mendoakan ulama penyebar ajaran Islam di daerah yang kini di pimpin oleh Dedi Mulyadi. (arah.com)

Berbagai macam buah tumbuh subur di wilayah Indonesia salah Satunya adalah buah alpukat. Namun taukah anda jika buah alpukat sebenarnya berasal dari Negara Meksiko dan Amerika Tengah. Buah Alpukat memiliki nama latin Persea Americana yang berarti tumbuhan penghasil buah meja.

Buah Alpukat memiliki ciri kulit lembut tak rata berwarna hijau tua hingga ungu kecoklatan, tergantung pada varietasnya. Daging buah apokat Berwarna hijau muda dekat kulit dan kuning muda dekat biji, dengan tekstur lembut. Kini buah alpukat telah terkenal di mancanegara selain Buahnya lembut dan dapat diolah menjadi just, ternyata buah alpukat juga memiliki khasiat atau manfaat yang baik bagi tubuh kita salah Satunya untuk mengobati berbagai macam penyakit.

Kandungan nutrisi dari buah alpukat yang melimpah membuat buah ini menjadi salah satu buah yang banyak digemari oleh Banyak orang dengan berbagai varian olahan. Alpukat atau avokad memiliki kandungan nutrisi yang sangat tinggi. Alpukat Atau avokad setidaknya mengandung 11 vitamin dan 14 mineral yang bermanfaat. Alpukat kaya akan protein, riboflavin (atau dikenal Sebagai vitamin B2), niasin (atau dikenal sebagai vitamin B3), potasium (atau lebih dikenal sebagai kalium), dan vitamin C.


    Mencegah resiko penyakit stroke
    Menangkal radikal bebas
    Menjaga kesehatan mata
    Menjaga kesehatan jantung
    Penyembuh Sakit Maag
    Mencegah kanker prostat
    Membantu Turunkan Kolesterol
    Terapi mata : Pernah memiliki kantung mata dan membeli krim yang mahal namun hasilnya tidak memuaskan? Lain kali coba Anda Menggunakan alpukat. Baringkan tubuh Anda dan letakkan beberapa potong buah alpukat tepat di bawah mata. Setelah 20 menit Anda Akan mendapatkan hasilnya.


Manfaat Buah Alpukat Bagi Ibu Hamil :

Buah alpukat terasa lezat dan segar jika dikonsumsi namun buah ini ternyata banyak manfaatnya terutama bagi wanita hamil. Buah alpukat Berkhasiat untuk menjaga kecantikan kulit agar terlihat lebih lembab. Apalagi wanita hamil keadaan kulitnya menjadi sensitif karena perubahan Hormon.

Zat anti aging yang terkandung dalam krim kecantikan dengan harga mahal ternyata juga terkandung dalam buah alpukat untuk mencegah Penuaan dini. Buah alpukat mengandung berbagai zat dan vitamin yang dibutuhkan kulit dalam pembentukkan jaringan kolagen, selain itu Buah alpukat juga mengandung nutrisi zat besi, kalsium, phospor, zodium, potasium, vitamin A, dan C, dan juga vitamin B kompleks, dan E.

Selain bermanfaat untuk kesehatan kulit dan rambut buah alpukat juga berguna untuk mencegah penyakit Spina Bifida pada janin yang Dikandung. Spina Bifida adalah keluarnya jaringan sumsum tulang belakang dari punggung. Resiko tersebut akan dihambat oleh Asam Folat Yang terkandung dalam buah alpukat.

Asam folat adalah nutrisi yang penting dikonsumsi untuk ibu hamil agar calon buah hati terhindar dari cacat otak dan kerusakan sumsum Tulang belakang. Ternyata buah alpukat banyak ya manfaatnya bagi ibu yang sedang menjalani masa kehamilan.

Manfaat Buah Alpukat Bagi Kecantikan :

Alpukat memiliki banyak manfaat. Bijinya digunakan dalam industri pakaian sebagai pewarna yang tidak mudah luntur. Batang pohonnya dapat Digunakan sebagai bahan bakar. Kulit pohonnya digunakan sebagai pewarna warna cokelat pada produk dari bahan kulit. Daging buahnya Dapat dijadikan hidangan serta menjadi bahan dasar untuk beberapa produk kosmetik dan kecantikan.

Selain itu, daging buah apokat untuk mengobati sariawan dan melembabkan kulit yang kering. Daun Alpukat digunakan untuk mengobati Kencing batu, darah tinggi, sakit kepala, nyeri saraf, nyeri lambung, saluran napas membengkak dan menstruasi yang tidak teratur. Bijinya Dapat digunakan untuk mengobati sakit gigi dan kencing manis.

Mengurangi Keriput : Antioksidan dan asam amino yang terkandung dalam alpukat juga dapat membantu untuk membuang racun yang Mengakibatkan penuaan dini dan kerutan pada kulit.

Membersihkan kulit : Kaya vitamin A, alpukat membantu untuk mengangkat sel kulit mati dari tubuh Anda. Minyak buah ini dapat dengan Mudah diserap oleh kulit dan cocok dijadikan lotion untuk memijat. Minyaknya dapat meresap jauh ke dalam dan mampu memberi nutrisi pada Lapisan kulit. Pada gilirannya, ini membantu merangsang pertumbuhan sel kulit baru dan meningkatkan sirkulasi darah pada kulit Anda.

Pelembab kulit : Alpukat juga bisa melembabkan kulit super kering. Campur 1 buah alpukat, satu telur, 2 sendok teh oatmeal, dan satu Sendok teh lemon juice. Tempelkan ke wajah dan kemudian biarkan selama 15-20 menit, kemudian bershikan dengan air hangat. Lakukan hal Ini 2 kali seminggu dan Anda akan mendapatkan kulit yang indah.

Manfaat Buah Alpukat  Untuk Rambut :

    Alpukat yang sudah dikupas lalu dihancurkan.
    Kemudian siapkan santan secukupnya.
    Cara pemakaiannya dengan mencampurkan alpukat dan santan secara rata hingga teksturnya mengental seperti shampo.
    Kemudian bubuhkan sedikit demi sedikit ke atas rambut anda dengan melakukan seperti menyisir agar merata ke seluruh rambut.
    Biarkan selama 10-15 menit, kemudian bilaslah hingga bersih.
    Manfaat Alpukat untuk membuat rambut berkilau, lembut dan bercahaya.

    Ambil 1 buah daging alpukat.
    Haluskan kemudian tambahkan 1 buah kuning telur dan setengah sendok teh minyak zaitun, aduk hingga rata.
    Oleskan pada rambut sambil dipijat halus.
    Diamkan selama 25 menit kemudian bilas dengan shampoo dan kondisioner sampai bersih.

Biografi - Pukul empat sore lebih lima belas, Surya sudah merapikan meja kubikelnya dan bergegas pulang. Dari jendela kantornya di lantai sepuluh, dia bisa melihat kendaraan menyemut di sepanjang Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan. Pada petang bulan-bulan lain, biasanya ia memilih kembali ke rumah selepas Isya. Namun, khusus bulan Ramadan ini, ia memaksa diri turut berjejal di tengah kemacetan demi tiba sebelum adzan Magrib berkumandang.

Pada bulan Ramadan, orang biasanya selalu menyempatkan diri untuk berbuka puasa bersama, entah itu bersama keluarga ataupun teman-temannya. Tidak selalu di rumah, tetapi juga di tempat-tempat makan yang biasanya juga sudah terbiasa menyediakan fasilitas hidangan buka puasa.

Jadwal buka puasa bersama pun biasanya sudah mengantre. Mulai dari dengan teman-teman SMA, kuliah, teman arisan, hingga teman-teman kantor lama. Sebagian menganggapnya sebagai ajang reuni. Mendekatkan diri dengan orang-orang yang sudah lama tidak disapa untuk macam-macam kepentingan, atau melepaskan sejenak rutinitias individual menjadi alasan-alasan klasik mengapa banyak orang ingin berbuka bersama pada bulan ini. Dengan latar budaya kolektif di Indonesia yang begitu kental, makan bersama jadi sesuatu yang sakral terlepas dari potensinya untuk dikomodifikasi oleh aneka industri.

Apakah hanya alasan-alasan ini saja yang menjadi keuntungan makan bersama pada Ramadan?

Psikolog klinis sekaligus salah satu penggagas The Family Dinner Project, Dr. Anne K. Fishel, mengungkapkan berbagai keuntungan yang didapatkan dengan makan bersama keluarga secara general. Katanya, berdasarkan riset teranyar, kebiasaan makan bersama dapat menekan angka penyalahgunaan zat-zat terlarang dan tingkat depresi remaja, serta memperbaiki situasi psikologi anak-anak yang berpengaruh terhadap nilai akKebiademis mereka. Pada saat makan bersama, tentu terjadi percakapan di dalamnya. Inilah yang bisa memicu anak-anak yang sedang belajar berbicara atau membaca untuk menguasai kosakata lebih cepat.

Ketika orangtua menyajikan masakan dari dapur sendiri pada momen makan bersama, anak-anak dapat menyerap tradisi dari sepiring makanan yang mereka santap. Resep adalah salah satu warisan budaya keluarga yang dapat melekat pada benak setiap orang dan hal ini bervariasi dari satu rumah ke rumah lainnya. Di samping itu, Robin Fox, dosen Antropologi di Rutgers University, New Jersey, menyatakan bahwa makan bersama keluarga mengajarkan anak-anak untuk menjadi anggota masyarakat dan budaya. Berbagai nilai dan normativitas dapat ditransfer oleh orang-orang dewasa di meja makan, baik melalui percakapan secara langsung maupun aksi-aksi kecil seperti berdoa bersama, menuangkan hidangan ke piring anggota keluarga lainnya, atau mengucapkan terima kasih kepada si pembuat makan.

Makan bersama keluarga juga menjadi ajang yang tepat untuk meneruskan cerita sejarah internal kepada anak-anak. Hal ini menjadi signifikan bagi perkembangan psikologi si anak karena berkaitan dengan cara penilaian diri dari pengenalan terhadap akar keluarga alias historisasi diri. Selanjutnya

Biografi - Kelompok militan Maute pro ISIS menyerang Kota Marawi, Mindanao, Filipina, sempat menyandera dan membunuh beberapa warga sipil sejak Selasa pekan lalu. Meski umat Nasrani di wilayah itu adalah minoritas, tetapi kaum muslim setempat berusaha menolong mereka sekuatnya.

Banyak cerita tentang toleransi mengalahkan batas agama, sebagai wujud saling membantu dan mengesampingkan perbedaan iman ditunjukkan warga muslim di Marawi. Sejak konflik meletup, mereka sudah menyelamatkan ratusan warga pemeluk Kristen dari kepungan militan.

Dilansir dari laman The Philippine Star, Senin (29/5), kabar itu disampaikan staf pemerintahan Wilayah Otonomi Muslim Mindanao, Myrna Jocelyn Henry. Selama empat hari belakangan, warga muslim di Marawi bahu-membahu membantu menyelamatkan atau mengungsikan tetangga mereka yang memeluk Kristen ke daerah lebih aman. Bahkan kabarnya, seorang jaksa muslim berhasil meloloskan 42 warga Kristen yang terjebak di sebuah sekolah yang dibakar pihak militan.

"Kami belum tahu pasti berapa rincian warga Kristen yang diselamatkan. Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada warga muslim Marawi yang menolong mereka yang bukan pemeluk Islam," kata Henry.

Menurut Wakil Gubernur Lanao del Sur, Mamintal Adiong Jr., anak buahnya bernama Salma Jayne Tamano, dan keluarga Maranao juga ikut mengungsikan para warga Kristen berjumlah 39 orang. Menurut Kepala Polisi Lanao Del Sur, Senior Superintendent Oscar Nantes, para pengungsi itu tidak makan berhari-hari dan cuma tiarap di lantai di rumah pasutri renta muslim di Lilod Madaya dan Saduc, demi menghindari para militan. Pemilik rumah juga berhasil diselamatkan.

Menurut laporan, sekitar 2200 warga juga masih terjebak di kawasan pertempuran. Mereka sudah mengirimkan pesan singkat minta diselamatkan secepatnya. Kini militer Filipina masih menyisir seluruh Marawi buat memukul mundur kelompok bersenjata. Mereka juga masih membombardir daerah-daerah diyakini sebagai basis pertahanan militan.

Pertempuran antara kelompok militan Maute dan pasukan pemerintah Filipina di Kota Marawi sudah hampir sepekan berlangsung. Konflik bersenjata pecah setelah militer Filipina gagal saat mencoba menangkap pentolan kelompok Abu Sayyaf, Isnilon Hapilon. Hal itu menimbulkan aksi balasan dari pihak militan. Diduga, mereka sengaja menargetkan warga sipil supaya mendapat pengakuan dari ISIS. Hingga hari ini, tercatat konflik sudah menelan korban jiwa 61 militan, sebelas tentara dan polisi Filipina, dan 19 sipil.

Sebagian dari anggota kelompok bersenjata juga berasal dari Indonesia dan Malaysia. Mereka meyakini Filipina adalah arena pertempuran buat ISIS di Asia Tenggara. [Mdk]

Brigadir Medi Andika
BIOGRAFI- Majelis hakim menyatakan Medi terbukti melakukan tindak pembunuhan berencana terhadap anggota DPRD Bandar Lampung M Pansor.

“Menjatuhkan hukuman pidana mati terhadap terdakwa,” ujar Ketua Majelis Hakim Minanoer Rachman saat persidangan di Pengadilan Negeri Tanjungkarang, Senin (17/4/2017).

Putusan ini disambut tepuk tangan Umi Kalsum, istri Pansor, dan para kerabatnya.

Tidak hanya Umi, Medi juga terlihat tepuk tangan saat duduk di kursi pesakitan usai hakim membacakan putusan.

Putusan ini sama dengan tuntutan penuntut umum yang menuntut Medi dengan hukuman mati.

Pada sidang yang digelar  Rabu (29/3/2017),  jaksa penuntut umum menuntut Brigadir Medi Andika dengan hukuman pidana mati.

Medi Andika adalah terdakwa kasus mutilasi anggota DPRD Bandar Lampung, M Pansor.

Dalam tuntutannya, jaksa penuntut umum Agus Priambodo menilai, perbuatan Medi terbukti melakukan tindakan pembunuhan berencana sebagaimana diatur dalam Pasal 340 KUHP.

“Menuntut terdakwa dengan pidana mati,” ujar Agus.

Sontak para pengunjung sidang berdiri dan berteriak histeris.

Istri Pansor, Umi Kulsum, anaknya Fanny dan para kerabat bertepuk tangan senang mendengar tuntutan penuntut umum. Mereka berteriak bahagia.

Terlihat Umi, Fanny dan kerabatnya menangis. Mereka berpelukan di kursi pengunjung sidang.

Majelis hakim pun langsung meminta para pengunjung sidang untuk tenang.

Agus mengatakan, tidak ada alasan pemaaf dan pembenar terhadap Medi selama dalam persidangan.

“Sepanjang persidangan tidak didapat hal yang dapat membebaskan terdakwa ataupun alasan pemaaf dan pembenar,” kata Agus.

Agus mengatakan, hal yang memberatkan adalah perbuatan Medi meninggalkan rasa pedih di keluarga korban, Medi adalah anggota polisi dan berbelit-belit selama persidangan.

Untuk hal yang meringankan, Agus mengatakan, tidak ada.

Harapan Keluarga

Ekspresi pengunjung sidang kasus mutilasi anggota DPRD Bandar Lampung M Pansor, saat jaksa membacakan tuntutan terhadap terdakwa Brigadir Medi Andika di Pengadilan Negeri Tanjungkarang, Rabu (29/3/2017). Jaksa menuntut Brigadir Medi Andika hukuman pidana mati.

Sebelumnya, Malhan, kerabat Pansor berharap putusan majelis hakim terhadap terdakwa Medi sesuai tuntutan jaksa yakni hukuman mati dan tidak berubah.

“Kami sekeluarga berharap dan meminta majelis hakim menghukum terdakwa sesuai tuntutan, dan tidak berubah,” kata Malhan, kepada Tribun Lampung, Minggu (16/4).

Malhan mengatakan, pihak keluarga besar telah melakukan rapat menghadapi sidang putusan.

“Kami keluarga besar sudah rapat di rumah saya kemarin. Kami sekeluarga besok (hari ini, red) akan datang lebih ramai dari biasanya di pengadilan untuk mendegar putusan ini,” ujarnya.

Menurutnya, meskipun jumlah keluarga yang datang akan lebih banyak dari hari biasanya, bukan untuk melakukan tindakan anarkistis atau membuat keributan di pengadilan.

Karena kata Malhan keluarga besar akan tetap bersikap kondusif apapun putusannya. “Bukan berarti kami mau ribut, kami tetap kondusif apapun putusannya kami serahkan ke majelis hakim,” ujar Malhan.

Menurut Malhan pihak keluarga besar juga berharap pengakuan terdakwa Medi bisa ditindaklanjuti penegak hukum, sehingga apa yang selama ini masih menjadi misteri semuanya bisa terungkap.

“Kami minta dan memohon, apa yang disampaikan terdakwa dalam repliknya ditelusuri, ditindaklanjuti. Kalau memang itu benar, biar semua jelas, terang dan adil,” kata Malhan.

Minta Doa

Sementara terdakwa Medi selain banyak berdoa di tahahan, ia juga meminta doa dari sang ibunda dan istrinya. Hal ini diungkapkan Sopian Sitepu, kuasa hukum Medi, Minggu  kemarin.

“Dari komunikasi saya dengan Medi, kegiatan dia saat ini lebih banyak berdoa kepada yang kuasa. Ia juga minta istri dan ibunya mendoakannya. Apapun putusannya besok ( hari ini, red), Medi siap lahir batin,” kata Sopian.

Sopian menuturkan, Medi juga meminta kepada yang Maha Kuasa agar diberikan kekuatan menghadapi putusan besok (hari ini, red).

“Ia juga berdoa untuk diberikan kekuatan menghadapi putusan, termasuk medoakan majelis hakim agar jernih memutus perkaranya,” kata Sopian.

Kondisi batin Medi kata Sopian, jauh lebih baik dan lega pasca mengungkapkan apa yang selama ini dipendamnya terkait keterlibataan orang lain dalam kasus ini.

“Setelah dia ungkapkan fakta keterlibatan orang lain dalam replik kemarin, dia mengaku batinnya lebih tenang dan lega,” katanya.

Kasus pembunuhan Pansor yang menghebohkan publik Lampung diawali hilangnya anggota dewan ini pada pertengahan April 2016.

Kemudian publik kembali digegerkan dengan temuan potongan tubuh yang diduga jasad Pansor di sungai OKU Timur, Sumatera Selatan.

Selanjutnya awal Mei 2016, Polda Sumsel memastikan potongan tubuh yang ditemukan di OKU benar almarhum Pansor, sesuai hasil tes DNA Puslafbor Mabes Polri yang mengambil sampel DNA dari potongan bagian tubuh korban.(bruniq)

 Letkol Inf Joko Tri Hadimantoyo
BIOGRAFI- Konon kabarnya, kemampuan seorang anggota Kopassus TNI AD setara dengan delapan prajurit TNI biasa.

Sedikit banyaknya, hal itu berhasil dibuktikan oleh Sertu Wahyu Fajar Dwiyana, anggota Kopassus dari Satuan 81/Penanggulangan Teror.

Sertu Wahyu yang setiap harinya berlatih penanggulangan teror itu, tidak berkelahi melawan anggota TNI, melainkan menghajar delapan pemuda yang berada dalam pengaruh minuman keras.

Kepala Penerangan Kopassus Letkol Inf Joko Tri Hadimantoyo dalam siaran persnya menyebutkan, peristiwa berawal saat Sertu Wahyu pulang ke kampung halamannya di Sumedang untuk menikah.

Ia kemudian melintas di jalan Tanjung Sari, Sumedang, Jawa Barat.

Di jalan tersebut, Sertu Wahyu yang mengendarai sepeda motor, melihat seorang pemuda yang juga mengendarai sepeda motor, tiba-tiba diadang oleh delapan pemuda, lalu dikeroyok.

Sertu Wahyu pun memutuskan untuk melerai.

“Spontan dia turun dari motornya dan mengimbau secara baik-baik agar mereka tidak melakukan pengeroyokan dan penganiayaan secara brutal,” jelas Letkol Joko.

Namun, imbauan baik-baik oleh Sertu Wahyu yang saat itu mengenakan pakaian preman, tidak dihiraukan.

Para pemuda mabuk itu justru berusaha mengeroyok sang anggota Kopassus.

“Kedelapan pemuda tersebut berbalik berusaha mengeroyok Sertu Wahyu, meskipun dirinya sudah mengaku anggota TNI, tetapi tetap tidak dihiraukan,” imbuh Letkol Joko.

Alhasil, Sertu Wahyu pun melawan. Perkelahian tidak imbang tersebut berakhir dengan Sertu Wahyu sebagai pemenang.

Satu orang pemabuk tersungkur tak sadarkan diri dihajar Sertu Wahyu, dan tujuh lainnya memutuskan kabur

The late Nicky Hayden (left) always praised the greatness of Valentino Rossi. (AFP PHOTO / AL-WATAN DOHA / KARIM JAAFAR)
Sport - All MotoGP players, including fans, are still mourning the death of one of the charismatic riders, Nicky Hayden. He breathed his last breath after five days of intensive care at Bufallini Hospital, Cesena, after a bicycle accident.

The departure of pebalab from the United States certainly leaves some memory in the world of MotoGP racing. One of the biggest heritage is the 2006 MotoGP champion.

Although the champion at the time, Hayden honestly still recognize the greatness of Rossi. He even often praised the once-team driver at Repsol Honda.

The victory achieved by Kentucky Kid in that year was dramatic. The reason, he was able to ensure the champion in the last series at Valencia Circuit.

Rossi had eight points ahead of Hayden in the second standings before the final race at Valencia Circuit. That is, the top five positions enough for Rossi to win the 2006 MotoGP at once won the sixth title in a row.

But unexpectedly, Rossi suffered bad luck at the race in the Spanish GP. Rossi who started in pole position, fell on the fifth lap at the second corner. Rossi had returned to the track, but only able to finish in 13th position at that time.

Hayden who was behind the three leading finish in third position, while beating Rossi points in the final standings. He won the 2006 MotoGP championship by five points from his rivals at the time.

At the Valencia circuit, the first podium Troy Baylis won from Ducati and Loris Caprossi second position, also from Ducati.

Hayden who was underestimated, a success champion in his fourth year career in MotoGP. Although the champion he still praised the greatness of Rossi at that time.

The late rider who died at 35 years old ever said the only MotoGP title he won in 2006 was very special.

"Of course, I mean in a great way (very special) .I have thousands of respect for Valentino Rossi because as we know, he is the best rider of all time," Hayden said during an exclusive interview with MotoGP official website in 2016.

"He (Rossi) is the only one, in my opinion, who has done well in our era for MotoGP and is raising that level now."

Hayden then ruined Rossi's ambition of trying to set a MotoGP champion record six times in a row.

"Being a rider who was able to beat him that year is not easy, I have a few chances that things go well, and defeating him is definitely very special."

Nicky Hayden is not the best rider in MotoGP because throughout keriernya only managed to reach three times the first podium. Nevertheless, he is also remembered as a rider who once defeated the king of MotoGP, Valentino Rossi. (CNN)

Biografi - On Tuesday, a gay couple in Aceh was punished with 85 strokes of the cane — despite protests from human rights advocates — for violating the province’s Islamic bylaw that bans homosexuality.

In North Jakarta on Monday, police arrested 141 men for allegedly violating the 2008 Pornography Law, which bans, among others, the provision of porn or making people “objects or models” of porn — clauses that respectively carry a maximum penalty of six and 10 years imprisonment.

For the people of Aceh, the sharia option was allowed in its 2005 international peace agreement with the government, though its bylaws remain controversial, even in the province. But the latter incident, a raid on a gym, clearly shows strong support for authorities barging in on the private realm, even without Aceh’s moral police.

The Jakarta Police were backed up by the Pornography Law, itself the product of a war between secular- and religious groups, the latter of which won the war with the tacit approval of the administration of then president Susilo Bambang Yudhoyono.

Critics’ fears materialized as the law, however vague, has been used by authorities and conservative parties to interfere in the private sphere, including sexuality. Sexual minorities are among the expected victims, with few sympathizers among our homophobic society — including those who recently joined shouts of, “Uphold the Pancasila,” referring to Indonesia’s state ideology, which promotes “a just and civilized humanity.”

Raids and arrests of allegedly gay people bring to mind past and present persecutions and criminalizations of sexual minorities. The most extreme example is perhaps the reportedly large portion of homosexuals among victims of the Nazi gas chambers.

Many of us think we are beyond such cruelty. Yet, the instant circulation of images of the mostly undressed men arrested in North Jakarta — being herded to police headquarters with some of their faces clearly visible — shows that Indonesians share similar homophobic sentiments with Nazi rulers. The leaked images were shared with exclamations of horror and support for the police, whom people praised for attempting to safeguard the youth and society from such “sinful” same-sex relations.

Continuous moral boosts for authorities to “protect” citizens’ morality will only endanger us as we virtually hand them a blank check to do so — just because police actions against gays are justified by the Pornography Law.

And like the Blasphemy Law, it further stigmatizes minorities, who, due to being “different,” find few effective channels to raise their voices. Religious groups claim that Indonesians, as God-fearing people, can in no way accept homosexuality. But, as Indonesia is not a religious state, authorities must keep out of the private realm, and limit religious issues to religious forums.

Following Monday’s raid, the police will need to, at least, clearly give proof of their allegations, including against the parties who allegedly made “objects of porn” out of the men. But by failing to protect the detainees’ privacy, the police are obviously riding on popularity based on widespread bigotry. Meaning, the National Police, under Gen. Tito Karnavian, have yet to safeguard the constitutional guarantee of our citizens’ basic human rights.[.thejakartapost.com]

Ilustrasi syekh yusuf
“Syech Yusuf adalah ulama pejuang, bahkan Nelson Mandela menjadikannya inspirasi bagi perjuangan rakyat Afrika Selatan melawan apartheid,” tulis Suryana Sudrajat dalam Ulama Pejuang dan Ulama Petualang: Belajar Kearifan dari Negeri Atas Angin (2006).

Belakangan, Syekh Yusuf pun menjadi tali penyambung antara Afrika Selatan dengan Indonesia. “Kedekatan Indonesia dan Afrika Selatan juga terbantu oleh Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati Al-Makasari Al-Bantani, pendakwah Islam asal Sulawesi Selatan yang disebut "Salah Seorang Putra Afrika Terbaik" oleh mantan Presiden Nelson Mandela,” demikian yang ditulis kantor berita Antara (23/04/2015).

Meski beda generasi, bahkan zaman, keduanya diasingkan oleh rezim (bermental) kolonial. Nelson Mandela oleh rezim apartheid kulit kulit putih dan Syekh Yusuf oleh rezim perusahaan bernama Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) Belanda. Tentu, Yusuf melawan VOC.

“Semasa hidupnya, beliau dikatakan senantiasa berulang-alik dari Pulau Robben ke Cape Town untuk menemui teman-temannya,” tulis Hanapi Dollah dalam Melayu Cape Town di Afrika Selatan (2010).

Lima tahun di Cape Town adalah lima tahun terakhir hidupnya di dunia. Dia meninggal pada 23 Mei 1699 dan dimakamkan di Cape Town. Meski banyak juga yang percaya bahwa dia bermakam di Gowa yang terhitung kampung halamannya.

"Semasa hidupnya, Yusuf dipuja sebagai orang sakti dan sesudah mati, makamnya dihias secara Islam dengan nisan yang indah, terdiri atas batu-batu yang tinggi, dan sampai sekarang masih dianggap keramat,” tulis Abu Hamid dalam Syekh Yusuf Makassar: Seorang Ulama, Sufi dan Pejuang (1994).

Abu Hamid juga menulis bahwa Syekh Yusuf berpihak pada Sultan Ageng Tirtayasa dalam perang dengan VOC, meski dia bukan asli Banten. Hamid mencatat Yusuf lahir pada 3 Juli 1626 di daerah Gowa, Sulawesi Selatan. Ketika belia, dia merantau untuk belajar ilmu agama. Dia ke Banten sebelum ke Serambi Mekah dan lalu ke Mekah.

“Nama Banten sudah sering didengar oleh Yusuf dari pelaut-pelaut dan pedagang-pedagang,” tulis Abu Hamid.

Menurut Suryana Sudrajat, dia belajar Islam di Timur Tengah, termasuk Mekah, Madinah, dan sebelumnya di Yaman. Dia juga sempat ke Suriah. Setelahnya, dia sempat kembali ke Gowa dan ke Banten lagi menjadi pemimpin agama di sana. Diduga, dia berkawan dengan Sultan Ageng sejak ia hendak belajar Islam ke Timur Tengah.

“Syekh Yusuf berada di Banten sekitar 20 tahun lamanya hanya diketahui sedikit peranannya sebagai Mufti Kerajaan Banten, guru bagi Sultan dan keluarganya, serta syekh tarikat bagi penduduk,” tulis Abu Hamid.

Di Banten, Yusuf menjadi bagian dari sejarah dan legenda masyarakat lokal, termasuk cerita bahwa ia berada di pihak Banten saat berperang dengan VOC.

Sekitar Januari 1683, Syekh Yusuf bersama Pangeran Purbaya dan Pangeran Kidul mengadakan perang gerilya di daerah Tangerang. “Dari Tangerang terus ke daerah Cimancung, lalu ke daerah Jasinga dan terus menyusuri sungai Cidurian. Kompeni memerintahkan van Happel untuk mengejar gerilyawan itu. Dari daerah Jasinga, Syekh Yusuf menuju arah timur, Jakarta Selatan untuk tujuan ke Cirebon.” Selanjutnya

PT Pos Indonesia (Persero) adalah sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak dalam bidang jasa Pengiriman surat dan logistik Jasa keuangan di Indonesia. Perusahaan ini didirikan pada tanggal 26 Agustus 1746, berkantor pusat di Bandung, Jawa Barat. Pos Indonesia dahaulunya berupa perusahaan umum (perum), namun seiring perkembangan perusahaan ini telah menjadi perseroan terbatas hingga sekarang. Seiring berjalannya waktu, Pos Indonesia telah mampu menunjukkan kreatifitasnya dalam pengembangan usaha perposan Indonesia dengan memanfaatkan insfrastruktur jejaring yang dimiliki yang telah mencapai sekitar 24 ribu titik layanan yang menjangkau 100% kota/kabupaten, hampir 100% kecamatan dan 42% keluarahan/desa serta 940 lokasi transmigrasi terpencil di Indonesia.

Untuk mencapai dan mewujudkan tujuan dari sebuah perusahaan ataupun suatu instansi, sebagaimana yang telah ditetapkan dalam visi dan misi-nya, maka dari itu pada bulan Mei tahun 2017 ini PT Pos Indonesia kembali membuka kesempatan berkarir bagi putra putri terbaik bangsa pada Lowongan Kerja Terbaru PT Pos Indonesia untuk mengisi posisi jabatan yang sedang dibutuhkan dalam lowongan yang ada saat ini.

Saat ini perusahaan ingin menghadirkan sumber daya manusia terbaik, mempunyai kemampuan dan keterampilan khusus untuk memenuhi spesifikasi pekerjaan yang dibutuhkan. Tujuan dari rekrutmen ini tentunya untuk memikat para pelamar yang kompeten bagi perusahaan atau instansi dengan mengacu kepada kemampuan atau ability, kecocokan antara persyaratan pekerjaan dengan pengetahuan dan motivasi yang merujuk kepada kecocokan karakteristik pekerjaan dengan kepribadian si pelamar.

Kepada calon pelamar kerja diharapkan untuk memperhatikan setiap informasi lowongan kerja yang diberikan pada tiap-tiap posisi jabatan yang dibutuhkan pada lowongan kerja yang openkerja.com muat. Bacalah seluruh informasi dengan cermat dan teliti agar setiap informasi yang diberikan bisa dipahami dengan baik. Berikut informasi persyaratan dan tata cara pendaftaran bagi calon pelamar.
Lowongan Kerja di PT Pos Indonesia Terbaru 2017
Closing Date:  31 Mei 2017

PT. Pos Indonesia (Persero) Membutuhkan Tenaga Kerja Kontrak Ditempatkan Di Kantor Pos se-Wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta Dengan Posisi :

ACCOUNT EXECUTIVE (Kode: AE)
Persyaratan Umum:

    Belum menikah dan bersedia tidak menikah selama terikat kontrak dengan vendor yang ditujukan oleh PT Pos Indonesia (Persero) dalam pengelolaan Tenaga Ahli daya;
    Apabila Melakukan pernikahan, bersedia mengundurkan diri dengan membuat surat pernyataan
    Belum pernah terikat kontrak dengan PT Pos Indonesia (Persero) di unit kerja manapun


Persyaratan Khusus:

    Berjenis kelamin Laki-laki/Perempuan
    Berpenampilan menarik
    Usia maksimal 30 tahun
    Pendidikan minimal Diploma 3 (D3)
    IPK minimal 2.75 untuk skala nilai 4
    Kompetensi:
        Memiliki kemampuan di Bidang Marketing
        Memiliki kemampuan komunikasi yang baik
        Memiliki kemampuan mengendarai Roda 4 (Melampirkan Copy SIM A)
        Memiliki integrasi yang tinggi
        Siap bekerja dalam tekanan


Calon pelamar yang dipanggil hanya yang memenuhi kriteria diatas dan akan dilakukan test di kantor pos terdekat/sesuai pengumuman selanjutnya.

Bagi Anda para pencari kerja yang tertarik untuk berkarir bersama PT Pos Indonesia dan memenuhi segala kebutuhan yang dipersyaratkan pada Lowongan Kerja PT Pos Indonesia Terbaru bulan Mei 2017 diatas, maka silahkan siapkan kelengkapan berkas administrasi lamaran kerja terbaru Anda seperti Surat lamaran, CV, ijazah, transkrip nilai, foto dan kelengkapan berkas pendukung lainnya seperti sertifikat dll. Susunlah berkas lamaran Anda dengan susunan yang rapi.

Adapun tata cara yang telah ditetapkan dalam proses rekrutmen ini yaitu dengan melakukan pendaftaran dan penyampaian dokumen kelengkapan administrasi permohonan dilakukan dengan mengirimkan Surat lamaran lengkap beserta CV dikirimkan via POS EXPRESS ke:

PT Dapensi Trio Usaha
Kantor Cabang Semarang
Jl. Kanguru Raya No. 1 A Semarang 50248

Paling lambat 31 Mei 2017
Catatan:

    baca disini

Biografi - Tiga pria bertubuh tegap diringkus pihak kepolisian karena membuat kegaduhan di kantor Gubernur Aceh, Selasa (23/5) sekira pukul 15.45 WIB. Ketiga pemuda itu adalah mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang hendak memeras ajudan Wakil Gubernur Aceh.

Ketiga mantan kombatan itu adalah Mahmud Abubakar (43), warga Gampong Merak, Keude Alue Nireh, Kecamatan Perlak Timur, Kabupaten Aceh Timur. Madarwan Zikri (39), warga Peulawi, Kecamatan Nurus Salam, Kabupaten Aceh Timur. Dan Khairul Azmi (30), warga Gampong Ajun Ayah Handa, Kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar.

Ketiga pelaku datang ke kantor Gubernur Aceh menggunakan mobil pribadi. Dua orang menggunakan baju safari berwarna cokelat dan satunya lagi pakaian bebas. Selain melakukan pemerasan, ketiga mantan kombatan ini juga ancam tembak ajudan Wakil Gubernur Aceh.

Saat melakukan pemerasan, ketiga mantan kombatan ini juga mengaku sebagai pengawal tertutup Wali Nanggroe Aceh, Malik Mahmud Alhaitar. Pengakuan ini saat ketiga pelaku hendak memeras dan mengancam ajudan Wakil Gubernur dengan meminta uang Rp 200 juta.

Mendapat ancaman seperti itu, kemudian ajudan Sekretaris Daerah (Sekda), Amri langsung menghubungi Panit Jatanras Polda Aceh untuk melaporkan pengancaman yang menimpa Akmal, ajudan Wagub Aceh.

Kemudian Team Resmob Jatanras Polda langsung menuju Tempat Kejadian Perkara (TKP). Saat petugas tiba, ketiga pelaku sempat hendak kabur, akan tetapi kesigapan petugas ketiga pelaku berhasil diamankan di depan kantor Gubernur Aceh.

Ketiga pelaku langsung diikat tangannya ke belakang dan tengkurap di lantai sebelum dibawa ke Mapolda Aceh. Ada beberapa anggota Brimob dan polisi berpakaian bebas membawa senjata laras panjang berjaga-jaga saat usai penangkapan ketiga pelaku.

"Ketiga pelaku itu hendak memeras ajudan Wagub Rp 200 juta. Setela ditangkap ketiga langsung diamankan oleh Subdit III Jatanras Polda," kata Kabid Humas Polda Aceh, Kombes Pol Goenawan.

Sementara itu, Komandan Pengamanan Khusus (Pamsus) Wali Nanggroe Aceh, Khalidin atau akrab disapa Teungku Barat, mengaku sangat menyesalkan aksi pemerasan yang dilakukan segelintir oknum di Kantor Gubernur Aceh.

"Apalagi membawa-bawa nama Pamtup Wali Nanggroe. Ini yang sangat kita sesalkan. Kita hanya meminta ini diluruskan," ujar Teungku Barat.

Dia mengatakan, kalau Pamtup atau pengamanan tertutup itu dari kepolisian. Jadi tak mungkin. Sementara pengamanan khusus atau Pamsus dari KPA memang ada, tapi dilakukan secara bergilir dari semua daerah.

"Artinya melibatkan banyak KPA dari semua wilayah. Yang perlu diketahui, tak ada pengawasan yang bersifat pribadi di kelembagaan Wali Nanggroe. Jadi tolong jangan dikait-kaitkan," kata Teungku Barat lagi.

Menurutnya, apa yang dilakukan oleh oknum di Kantor Gubernur Aceh kemarin, tak ada kaitannya dengan KPA atau kelembagaan Wali Nanggroe.

"Jadi ini murni oknum. Kita sendiri mengecam aksi memalukan ini. Apalagi mereka membawa embel-embel kelembagaan Wali Nanggroe saat ditangkap dan merusak image kelembagaan ini di mata masyarakat," pungkasnya. [merdeka.com]

AMP -  “Saya menyadari tugas ini sangat berat,” kata B.J. Habibie di Istana Merdeka. “Oleh karena itu, agar tugas tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil, maka dukungan sepenuhnya dari seluruh lapisan masyarakat sangat diperlukan.”

Sebagaimana halaman utama Republika edisi 22 Mei 1998, “Presiden BJ Habibie: Saya Membuka Diri Bagi Kritik”, Habibie kembali mengulang pernyataan meminta dukungan masyarakat buat menjalankan pemerintahan. “Agar waktu yang sangat terbatas ini dapat digunakan secara efektif dalam rangka penyelesaian krisis yang sedang dihadapi.”

Petikan pernyataan itu adalah pidato pertama Habibie, setelah selama sepuluh jam dilantik sebagai presiden menggantikan Soeharto, yang dibacakan sepuluh menit dan disiarkan langsung oleh TVRI pukul 19.30 dari Istana Merdeka, 21 Mei 1998.

Jumat, 22 Mei 1998, Habibie langsung mengumumkan kabinet baru bernama “Kabinet Reformasi Pembangunan”. Ia menganggap komposisi 36 menteri yang dilantik adalah “cerminan dari tuntutan mahasiswa,” yang sejak aksi demonstrasi pada awal Mei '98 menuntut reformasi politik, ekonomi, dan hukum secara menyeluruh.

Dua hari setelah Soeharto berhenti, desakan agenda reformasi untuk menggelar Sidang Istimewa MPR segera dijalankan. Tuntutannya: pemilihan umum “yang jujur dan bersih” cepat dilakukan, selambat-lambatnya enam sampai setahun setelah pelantikan presiden Habibie.

Amien Rais, saat itu Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhamdiyah yang namanya mencuat di panggung politik pasca-Soeharto, mengatakan bahwa Habibie “tidak akan menjadi presiden sampai 2003; hanya mengantarkan roda reformasi dan setelahnya akan turun.”

Amien menemui Habibie, empat jam setelah pelantikan presiden, bersama para tokoh lain seperti Emil Salim, Rudini, Adnan Buyung Nasution, Sudjana Sapi’ie, dan Nurcholis Madjid.

Sehari setelahnya, melalui Menteri Sekretaris Negara Akbar Tanjung, Habibie menyatakan kesediaan untuk segera menggelar pemilihan umum. Namun, pesta demokrasi itu sedianya harus merevisi terlebih dulu Undang-Undang Pemilu.

“Presiden mengatakan, bilamana aspirasi yang telah disampaikan tokoh itu memang sudah dapat dinformalkan secara konstitusional, maka presiden menyatakan siap segera melaksanakan pemilihan umum,” kata Akbar dilansir halaman utama Kompas, “Pemilu Secepatnya”, 26 Mei 1998.

Tepat seminggu menjabat presiden, Habibie menyetujui percepatan Pemilu dan Sidang Istimewa MPR. Ia mendatangi Gedung MPR/ DPR untuk menemui pimpinan legislatif buat membicarakan hal ini. Ini peristiwa langka seorang presiden ke gedung parlemen untuk berkonsultasi. Di era Soeharto, DPR bisanya yang mendatangi presiden ke Istana untuk membicarakan urusan kenegaraan.

Habibie dalam sidang pertama Kabinet Pembangunan Reformasi mengungkapkan bahwa ia menyepakati percepatan reformasi. Salah satu poinnya, konsensus masa jabatan presiden maksimal hanya dua kali. Konsensus ini kemudian dipakai dalam revisi UU Pemilu dan berlaku hingga saat ini.
Pergantian Komandan Militer
Segera sehari setelah Soeharto lengser, Panglima Komando Cadangan Strategis TNI AD Letnan Jenderal Prabowo Subianto diganti.

Prabowo—menantu Soeharto dari anak keempat, Siti Hediati Hariyadi (Titiek)—dipindah sebagai Komandan Sekolah Staf Komando (Seskoad) ABRI, menggantikan Letnan Jenderal Arie J. Kumaat. Posisi Pangkostrad lantas dijabat oleh Mayor Jenderal Johny Lumintang.

Pergantian itu tidak dihadiri Prabowo. Ia hanya menyerahkan tongkat komando kepada Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Subagyo HS, dua jam sebelum Mayjen Lumintang menjabat Pangkostrad pada 22 Mei 1998 pukul 19.30.

Tongkat komando diserahkan Subagyo kepada Lumintang, tetapi siangnya pindah tangan ke Djamari Chaniago. Lumintang hanya menjabat selama 17 jam hingga Sabtu pagi, 23 Mei. Ia ditugaskan buat “mengonsolidasikan pasukan Kostrad yang tersebar di seluruh wilayah DKI Jakarta.”

Senin, 25 Mei, Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Kopassus) yang dijabat Mayor Jenderal Muchdi Purwopranjono pun digantikan Mayjen Sjahrir MS.

Pergantian diam-diam di lingkaran petinggi militer itu menurut Jenderal Subagyo HS adalah hal lazim. “Pergantian jabatan ini …. dalam rangka penyegaran dan optimalisasi tugas organisasi,” ujarnya, dalam judul halaman utama Kompas, “Prabowo Subianto Diganti”, 23 Mei 1998.

Isu “pasukan liar” di balik pergantian Pangkostrad mengemuka. Ini tergambar pada harian sore Suara Pembaruan edisi 23 Mei dalam berita berjudul “Isu Meletusnya ‘Perang’ Di Tengah Kota”. Malamnya, setelah Mayjen Lumintang menjabat, suasana ibukota dilaporkan “mencekam.”

Di jalan-jalan, ribuan pasukan dari Kostrad, Pasukan Huru-Hara Kodam V Jakarta Raya, dan Kopassus disiagakan di sekitar Istana Merdeka dengan senjata lengkap.

Ribuan tentara itu berjaga di Kawasan Kota, Menteng, hingga Jalan MH Thamrin. Tank, water canon, dan kawat berduri terpacak di sejumlah jalan strategis.

Namun, setelah pergantian Pangkostrad ke tangan Lumintang, situasi itu berangsur reda.

Urut-urutannya: pukul 02.30, persenjataan berat milik Kodam dan Kostrad disingkirkan; enam tank melintas di Bundaran Hotel Indonesia dan empat panser melintasi Jalan Diponegoro; sejumlah pasukan Kostrad dan pasukan huru-hara dari Kodam segera dikembalikan ke markasnya masing-masing. Pukul 04.00 suasana Jakarta kembali tenang.

Prabowo, pihak tertuduh karena pergerakan Kostrad di bawah kendalinya, menepis tudingan kudeta yang akan mengarah pada Istana. Isu itu kabar bohong, katanya.

“Rubbish… rubbish…” kata Prabowo seraya tertawa, dan meninggalkan kerumunan wartawan, seusai dilantik sebagai komandan Seskoad, seperti ditulis Republika edisi 29 Mei 1998. SELANJUTNYA

Biografi - Tanggal 19 Mei, 19 tahun lalu, Soeharto menyadari kekuasaannya tinggal seujung kuku --bisa lepas kapanpun, tinggal tunggu waktu. Kala itu situasi negara sudah kacau balau. Kerusuhan merebak di mana-mana, dan ribuan mahasiswa demonstran menduduki Gedung MPR/DPR di Senayan, Jakarta.

Hari itu, Soeharto memanggil 9 tokoh Islam: Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang saat itu menjabat Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, budayawan Emha Ainun Nadjib, Nurcholish Madjid selaku Rektor Universitas Paramadina, Al Yafie sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia, Achmad Bagdja dan Ma’ruf Amin dari NU, Abdul Malik Fadjar dan Sumarsono dari Muhammadiyah, Yusril Ihza Mahendra selaku Guru Besar Hukum Tata Negara UI, dan KH Cholil Baidowi dari Muslimin Indonesia.

Kesembilan tokoh Muslim tersebut, selama dua jam lebih, memaparkan situasi terkini saat itu kepada Soeharto: rakyat ingin dia mundur.

Dihadapkan pada kenyataan tak terelakkan, Soeharto mengusulkan pembentukan Komite Reformasi dan berencana merombak kabinet. Kabinet Pembangunan VII hendak ia ganti menjadi Kabinet Reformasi.

Komite Reformasi akan terdiri dari unsur masyarakat, perguruan tinggi, dan pakar. Mereka bertugas merampungkan penyusunan Undang-Undang Pemilu, UU Kepartaian, UU Susunan dan Kedudukan MPR DPR dan DPRD, UU Antimonopoli, dan UU Antikorupsi.

Rencana itu sepintas tampak realistis, sebab reformasilah yang memang diinginkan rakyat.

Maka usai pertemuan maraton sepanjang pagi hingga siang itu, Soeharto menggelar konferensi pers, menyatakan tak keberatan untuk mundur dari jabatan presiden.

“Bagi saya, sebetulnya mundur dan tidak itu tidak menjadi masalah. Yang perlu kita perhatikan, apakah dengan kemunduran saya kemudian keadaan akan segera bisa diatasi. ... saya sebagai Presiden, Mandataris MPR, akan melaksanakan dan memimpin reformasi nasional secepat mungkin,” ujar Soeharto.

Pada bagian akhir pidatonya, Soeharto kembali menegaskan bahwa tak menjabat presiden sama sekali bukan soal baginya.

“Dalam bahasa Jawa, tidak menjadi Presiden, tidak patheken. Kembali menjadi warga negara biasa tidak kurang terhormat dari presiden asalkan bisa memberikan pengabdian kepada negara dan bangsa. Jadi, jangan dinilai saya sebagai penghalang. Tidak sama sekali. Semata-mata karena tanggung jawab saya.”SELANJUTNYA

Awal karier militer Prabowo Subianto (Foto: Facebook: Prabowo Subianto)
Biografi - Mei 1998 melahirkan hantu yang selamanya membayangi seorang Prabowo Subianto, membuat sang Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) harus mengakhiri karier militernya dengan noktah hitam.

Sang Letnan Jenderal harus berhenti dari kesatuannya kala Indonesia telah memasuki gerbang Reformasi. Ia disebut melakukan sesuatu di luar komando: penculikan terhadap aktivis prodemokrasi.

Insiden penculikan ini sudah dibahas di mana-mana, diketahui banyak orang, dan selamanya meninggalkan jejak meski Prabowo kini mantap menapaki hidup barunya di jalur politik.

Rentetan penculikan itu terjadi sepanjang Februari hingga Maret, dilakukan oleh salah satu unit pasukan di bawah Komando Pasukan Khusus (Kopassus) yang disebut Tim Mawar. Dua bulan itu, Kopassus masih berada di bawah Prabowo.

Ia menyandang jabatan Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus sejak 1 Desember 1995 sampai 20 Maret 1998, sebelum kemudian mengemban tugas sebagai Panglima Kostrad --dan langsung dicopot usai Soeharto mundur.

Saat Orde Baru tumbang, 9 aktivis yang diculik dikembalikan, dan 13 lainnya belum diketahui nasibnya sampai sekarang.

Prabowo dituduh secara sepihak mengerahkan pasukannya selama kerusuhan 1998. Surat rekomendasi pemecatan Prabowo tertanggal 21 Agustus 1998 menyebut Prabowo melanggar etika sebagai prajurit.

Namun “drama” dan desas-desus soal Prabowo tak hanya berhenti di seputar kasus penculikan. Prabowo juga disebut-sebut sebagai dalang kekerasan etnis yang terjadi di beberapa kota di Indonesia pada masa-masa genting itu.

Prabowo pun dituding menggerakkan pasukan Kostrad ke Jakarta, di luar komando resmi Wiranto sebagai Paglima ABRI, untuk mengepung rumah Presiden BJ Habibie pada 22 Mei 1998, sehari usai Soeharto lengser dan Habibie dilantik sebagai presiden menggantikannya.

Prabowo menemui Habibie, marah-marah karena sang presiden baru yang mencopot dia dari jabatan Pangkostrad, dan memutasinya menjadi Komandan Sekolah Staf dan Komando ABRI (Seskoad). Prabowo berkeras berdalih hendak mengamankan Habibie sembari geram karena dicopot dari jabatan strategisnya.

“Atas nama ayah saya, Prof. Soemitro Djojohadikusumo, dan ayah mertua saya, Presiden Soeharto, saya minta Anda memberikan saya tiga bulan untuk tetap menguasai pasukan Kostrad,” kata Prabowo seperti ditulis Habibie dalam autobiografinya, Detik-detik yang Menentukan.

Habibie menolak permintaan Prabowo, memintanya patuh pada putusan pimpinan.

“Saya berkesimpulan bahwa Pangkostrad (Letjen Prabowo Subianto) bergerak sendiri tanpa sepengetahuan Pangab (Jenderal Wiranto),” ujar Habibie.

Atas semua rumor di sekitar dirinya pada tahun 1998 itu, Prabowo terus mengatakan hal serupa: ia menghormati atasan. Intinya: ia tak mau menjelaskan apapun.

Tentu saja masa lalu semacam ini jadi batu sandungan yang cukup signifikan, misalnya ketika ia mengajukan diri sebagai calon presiden Republik Indonesia pada Pemilu 2014. Tudingan capres pelanggar hak asasi manusia (HAM) melekat erat padanya.

Pada debat calon presiden 9 Juni 2014, Jusuf Kalla sebagai calon wakil presiden dari kubu lawan, melontarkan pertanyaan soal penegakan HAM di masa lalu dan masa depan.

“Bagaimana Bapak ingin menyelesaikan pelanggaran hak asasi manusia di masa lalu dan menjaga hak asasi dipertahankan atas masyarakat?” tanya JK.

Prabowo menjawab pertanyaan itu dengan ucapan normatif.

“Dalam melaksanakan tugas sebagai prajurit dengan sebaik-baiknya, yang menilai itu atasan. Saya mengerti arah Bapak, tidak apa-apa. Saya ada di sini (sebagai capres), saya mantan prajurit, saya melaksanakan tugas sebaik-baiknya. Selebihnya atasan yang menilai,” kata Prabowo. 

Prabowo kemudian melanjutkan kegeramannya. “Bahwa saya tidak bisa menjaga HAM karena saya pelanggar HAM, kira-kira begitu kan Bapak arah (pertanyaan)-nya. Saya 30 tahun adalah abdi negara, petugas, yang membela kemerdekaan, kedaulatan, dan hak asasi manusia.”

Dalam sebuah wawancara dengan Majalah DeTak yang dimuat dalam buku Prabowo sang Kontroversi: Kisah Penculikan, Isu Kudeta, dan Tumbangnya Seorang Bintang, sikap Prabowo serbaambigu.

Dalam wawancara pada 19 Juli 1998 tersebut, Prabowo yang saat itu masih aktif di Kesatuan Angkatan Darat memilih mengeluarkan pernyataan aman.

Setiap ditanya soal penculikan dan kerusuhan Mei 1998, pola jawabannya serupa. Ia merasa tersinggung, tidak menjelaskan duduk perkara, namun menyatakan bertanggung jawab.

“Heran saya, kenapa sih kalian senang sekali menyebut saya sebagai biang keladi penculikan,” ujar Prabowo kesal.

“Saya seorang beragama. Tuhan maha tahu. Saya cinta negeri ini. Saya orang yang menghargai kemanusiaan. Demi Allah, saya tidak serendah itu. Saya memilih no comment. Semua persoalan menyangkut diri saya sudah saya serahkan ke Panglima ABRI,” kata dia.

Agustus 1998, Prabowo menjalani sidang Dewan Kehormatan Perwira (DKP), dan setelah melalui proses panjang, ia direkomendasikan diberhentikan dari ikatan kedinasan.

Semua bayang hitam itu, mungkin, bagi Prabowo ialah masa lalu yang tak penting lagi diungkit. Ia kini terus melaju di kursi Ketua Umum Partai Gerindra.(Sumber: Kumparan.com)

Biografi -  Kasus perkosaan massal saat prahara Mei 1998 selalu memunculkan tanya: Benarkah terjadi?

Ada kalangan yang meragukan itu, termasuk pemerintah Indonesia. Namun, sejumlah saksi dan pendamping korban punya cerita lain.

Ita Fatia Nadia, mantan direktur Kalyanamitra, organisasi nonpemerintah bagi kerja-kerja dan kesetaraan perempuan, menuturkan pengalamannya mendampingi serangkaian peristiwa perkosaan pada 12 hingga 15 Mei 1998. Dalam 4 hari itu, Ita bersama relawan lain menerima hampir 200 pengaduan kasus perkosaan. Dari segunung kasus itu, sebanyak 189 kasus terverifikasi.

“Tapi waktu Tim Gabungan Pencari Fakta masuk, banyak korban yang ditanyain, kemudian tidak mau mengaku. Karena itu ada perbedaan data dengan TGPF,” ujar Ita menjawab polemik perkosaan massal.

Alasan korban tidak mau mengaku, salah satunya, karena rasa takut yang sangat besar. Seorang korban perkosaan, Ita Martadinata, yang memutuskan untuk buka suara, justru dihabisi nyawanya sebelum bersaksi.

“Perempuan diperkosa itu sudah habis, apalagi dia Cina, apalagi ada hukum diskriminatif waktu itu, sehingga mereka lebih milih diam, aman tenang," ujar Ita Nadia. "Keamanan lebih penting daripada saya bercerita dan kasus saya diungkap. Karena kasus Ita Martadinata itu menjadi pembelajaran penting bagi mereka. Jadi TGPF itu dibuat setelah kasus pembunuhan Ita Martadinata.”

“Saya sampai merinding ingat kejadian itu,” ujarnya mengenang pembunuhan terhadap Ita Martadinata.

Selama 19 tahun, kasus perkosaan massal tidak pernah diusut tuntas. Alih-alih dituntaskan, soal perkosaan massal yang sistematis itu masih diperdebatkan. Tapi tidak bagi Ita. Ia melihat langsung korban-korban perkosaan pada Mei 1998 di Jakarta.

Menurut temuan Tim Gabungan Pencari Fakta Peristiwa 13-15 Mei 1998, yang dirilis Oktober 1998, "tidak mudah memperoleh data yang akurat untuk menghitung jumlah korban kekerasan seksual, termasuk perkosaan." TGPF menemukan adanya tindak kekerasan seksual di Jakarta dan sekitarnya, Medan, dan Surabaya. Jumlah korban yang diverifikasi tim: 52 orang korban perkosaan, 14 orang korban perkosaan dengan penganiayaan, 10 orang korban penyerangan/ penganiayaan seksual, dan 9 korban pelecehan seksual. (Baca: Temuan TGPF Peristiwa Kerusuhan Mei 1998)

Mawa Kresna dari Tirto mewawancarai Ita F. Nadia pada 17 Mei lalu di Cilandak Town Square, Jakarta Selatan. Obrolan membahas bagaimana pola-pola penaklukan terhadap tubuh perempuan sebagai teror kekuasaan di antara hari-hari menjelang kejatuhan Soeharto.

Pada waktu itu apa yang dilakukan teman-teman? Kenapa membentuk relawan?

Sejarah pembentukan tim relawan dari Romo Sandy (Ignatius Sandyawan Sumardi), melalui Institut Sosial Jakarta ketika peristiwa penyerangan PDI-P pada 1996. Romo Sandy membuat relawan yang disebut TRK, Tim Relawan untuk Kemanusiaan. (Serangan terhadap kantor PDI-nya Megawati di akhir kekuasaan Soeharto dikenal "Peristiwa 27 Juli")

TRK ini menghimpun sejumlah orang dan organisasi seperti YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia) dan wartawan. Saya waktu itu sebagai direktur Kalyanamitra bergabung di TRK. Waktu itu kerelawanan diumumkan sangat terbatas karena masalah ini menyangkut politik, sehingga yang diterima menjadi relawan itu harus tahu apasih peristiwa itu.

Jadi, Pak Sandyawan itu menskrining betul. Nah, kami itu ada yang tugasnya mencari korban penyerangan kantor, ada yang mengurusi aktivis PRD (Partai Rakyat Demokratik). Fungsinya adalah pendampingan, investigasi, dan dokumentasi. Dari 1996 itu kerelawanan tetap dijaga.

Ketika (kerusuhan Mei) 1998 meletus, pertama kali itu penyerangan mahasiswa Trisakti, ada penembakan mahasiswa, kami diminta untuk ke lapangan semua. Masih ada beberapa teman yang juga ikut.

Tanggal 12 Mei sesudah pemakaman mahasiswa di Tanah Kusir, saya pulang ke kantor, mendapat telepon dari Pak Sandy, "Mbak Ita, ini ada perkosaan."

Itu sore hari. Pak Sandy bilang, "perkosaan di daerah Jakarta Utara. Tolong ke sana." Enggak berapa lama, beliau telepon lagi: ada perkosaan di daerah Glodok.

Saya baru mau berangkat, dalam keadaan panik, muncul telepon lagi, bahwa di depan Trisaksi terjadi penyerangan terhadap perempuan oleh sejumlah orang dengan menggunakan mobil.

Kami terbiasa dengan perkosaan, tapi bukan perkosaan politik seperti KDRT (kekerasan dalam rumah tangga), jadi kami panik. Kemudian saya pergi ke Grogol, teman saya ke Jakarta Utara, dan ada yang ke Glodok.

Ketika sudah di lapangan, kami mikir: “Enggak bisa kerja begini”. Karena setelah itu kami mendapat telepon bahwa ada kasus yang sama di Jembatan Lima, Jembatan Dua, dan Jembatan Tiga. Kemudian di Pluit. Jadi malam itu jadi kaos. Waktu dari lapangan jam 2 malam, kami pulang dan bertemu dengan Pak Sandyawan.

Saat itu sudah mengecek bahwa perkosaan itu benar terjadi?

Iya. Kami sudah mengecek. Kondisinya parah, maaf ya, ada anak perempuan yang dipotong puting payudaranya. Itu langsung saya bawa ke Soekarno-Hatta untuk diberangkatkan ke Singapura. Jadi itu kacau. Motor saya taruh di gereja. Saya dibantu seorang pastor mebawa korban ke bandara.

Mbak Ita sendiri menemukan berapa korban perkosaan?

Waktu itu saya bawa tiga. Tapi di bandara, saya melihat ada tujuh korban lain yang sudah dalam keadaan panik dan stres. Sudah ada yang didorong pakai kursi roda. Jadi, malam itu adalah malam puncak kekacauan untuk orang semuanya pergi ke luar.

Saya menangani tiga korban. Lainnya sudah tidak bisa mengecek apakah yang lain itu diperkosa. Kondisinya tidak memungkinkan. Dan beberapa orang termasuk dari suster Katolik ikut membantu di Cengkareng.

Karena kondisinya yang sudah tidak bisa lagi ditangani, makin banyak telepon, akhirnya kami membuat Tim Relawan untuk Kekerasan terhadap Perempuan, TRKP. Kemudian malam sampai pagi, kami tidak tidur, kami melakukan identifikasi terhadap korban.

Kami mengidentifikasi masalahnya. Ada perkosaan, pelecehan seksual, pemukulan, penganiayaan, dilempari batu. Di Jembatan Lima, mereka diserang. Teman saya di sana, menemukan dua kasus perkosaan, tapi kekerasan itu terjadi di banyak tempat. Satu keluarga dianiaya. Kami petakan itu semua.

Kami lalu membentuk tim investigasi, tim pendampingan, dan tim pemindahan korban. Kami memutuskan membuka saluran telepon, mengumumkan kami butuh relawan, dan menggelar konferensi pers.

Sejak itu banyak relawan yang mendaftar. Saat itu kami juga membagi tugas dan hotline untuk (kasus) perkosaan di Kalyanamitra. Kalau masalah pembantaian, penganiayaan, pembakaran ada di Institut Sosial Jakarta tempat Pak Sandyawan.

Pada saat itu, beberapa teman membantu untuk koordinasi relawan: Jaringan Kerja Budaya, Hilmar Farid, seniman, akademisi; kami semua koordinasi. Ada juga tim dokumentasi. Tim media itu ketuanya Kamala Chandrakirana (Ketua Komnas Perempuan 2004-2009), dan tim pendampingan dari psikolog Atma Jaya. Kami juga bikin tim verifikasi: memastikan apakah benar ada laporan perkosaan, apakah perkosaan itu benar ada.

Ada berapa banyak laporan yang diverifikasi waktu itu?

Kami menerima laporan itu 150, dan kami verifikasi.

Semuanya korban perkosaan?

Iya, semua korban perkosaan. Tapi waktu TGPF (Tim Gabungan Pencari Fakta) masuk, banyak korban yang ditanyain, kemudian tidak mau mengaku. Karena itu ada perbedaan data dengan TGPF.

Ada berapa relawan yang bergabung waktu itu?

Ada banyak. Tapi kami saring relawannya. Karena riskan sekali kalau menerima sembarangan. Jadi kami menggandeng komunitas agama. Gereja Katolik, Kristen itu dengan PGI, Budha juga ikut. Mereka sangat kuat sekali. Kelompok NU juga gabung. Waktu itu Gus Dur langsung bilang, "NU bagian dari relawan." Mereka bagian di keamanan. Banser siap mengamankan. Jadi total relawan itu mungkin seribu lebih.

Waktu Soeharto turun, Anda di mana?

Saya selama Mei 1998 di jalanan terus bersama Pak Sandyawan. Nyaris tidak pernah pulang, enggak pernah ada di kantor. Tugas saya memastikan setiap simpul relawan itu bekerja. Tapi kalau memang ada kasus yang berat, saya baru turun langsung mendampingi. Misalnya, kayak perkosaan yang di Tangerang, satu keluarga diperkosa, ibunya meninggal, kakaknya meninggal. Saya waktu itu dibantu tim relawan Budha di Tangerang.

Perkosaan massal ini masih kontroversi. Apakah benar?

Jadi perkosaan itu cepat sekali. Seperti yang di Trisakti ada tiga anak cewek, mau pulang ditangkap, dimasukkan mobil, dianiaya, setelah selesai, dibuang saja.

Perkosaan massal itu terjadi. Korban pertama adalah perempuan Cina. Dalam tradisi Tionghoa, kalau kamu sudah diperkosa secara seksual, itu adalah aib yang besar untuk keluarga dan komunitas. Oleh sebab itu, dua korban perkosaan di Jembatan Tiga dan Jembatan Dua diberi pisau oleh keluarganya agar bunuh diri, karena aib. Aib keluarga, aib komunitas.

Jadi waktu TGPF masuk, banyak korban yang tidak mau muncul, karena menyatakan "pernah diperkosa" itu sudah enggak bisa. Yang bisa ketahuan itu, yang bicara itu, hanya beberapa yang kami dampingi.

Saya waktu itu selain ngurusin korban perkosaan, juga mengurusi yang demo. Jadi banyak relawan yang tidak hanya anak muda, tapi juga orang tua, ibu-ibu bakul. Mereka itu membungkus air minum pakai plastik, datang ke kantor kami dan memberikan air minum itu.

“Mbak, ini buat mahasiswa, ya, biar Suharto jatuh.” Itu yang mereka katakan ke kami. Nasi juga begitu. ibu-ibu buat nasi isi oseng tempe. Banyak sekali yang menyumbang. Ada uang. Tiba-tiba orang naik mobil datang ke kami memberikan plastik isi uang. Sehingga sampai selesai, kami serahkan ke Sandyawan. Total ada Rp380 juta dari sumbangan.

Puncak perkosaan itu kapan?

Tanggal 12, 13, 14, 15 Mei itu puncaknya. Itu kami semua kebingungan. SOP-nya kalau ada korban perkosaan, kami akan tanya, “Kamu mau di bawa ke mana?” Karena nomor satu bukan didampingi secara medis, korban harus merasa aman dulu.

Kelompok Budhis itu punya safe house. Saya buka sekarang: safe house mereka ada di sebuah apartemen mewah di Taman Anggrek, ada 1 unit. Satu lagi di Puncak. Terus ada juga dokter yang membantu kami, namanya Lie Dharmawan, dulu kerjanya di rumah sakit Pluit. Itu dokter yang paling banyak terima korban perkosaan. Dokter Boenjamin, Direktur Kalbe Farma.

Kebanyakan mau ke mana?

Kebanyakan korban maunya ke komunitas agama. Mereka enggak mau ke pendamping LSM. Semua ke komunitas agama, paling banyak itu Budha. Untuk Katolik, mereka ada safe house di Carolus.

Itu ada yang ke Singapura, ada berapa? Dan ke mana saja yang ke luar negeri?

Yang ke luar negeri itu yang kaya-kaya. Terbanyak ke Australia, Singapura, Amerika, dan Taiwan. Misalnya, saya pernah ke Amerika, ke New York dan Washington D.C., ada korban tujuh orang di New York dan dua orang di Washington. Mereka minta permanent resident.

Dari sembilan orang di Amerika, semua korban perkosaan?

Korban perkosaan itu 3 orang, salah satunya ada anak dari tokoh (off-the-record nama). Kemudian, ada ahli mode (off-the-record nama). Itu dari tengah jalan di Cengkareng, kalau enggak ada saya, sudah habis. Saya dulu pakai jilbab, jadi aman di perjalanan.

Korban lain yang ditangani Anda?

Ada korban ibu, kakak pertama, dan anak yang paling kecil meninggal semua. Yang kecil itu meninggal di pelukan saya. Ada juga kakak-beradik yang hamil, saya bawa ke Bali. Yang satu digugurkan. Di Surabaya, ada juga yang diperkosa. Transit di Jakarta. Dia diperkosa di dalam lemari karena ngumpet. Itu pelakunya tetangga belakang rumah sendiri.

Salah satu korban yang kita tahu adalah Ita Martadinata, ibunya adalah aktivis Budhis. Ibunya sangat vokal. Ita ini korban. Waktu itu PBB sudah tahu karena Ita adalah satu-satunya anak yang mau bersaksi. Dia sebetulnya tidak boleh pulang karena harus ke Amerika. Setelah seminggu pulang ke rumah, kami mendapat kabar Ita dibunuh. Jam 3 dibunuh, jam 5 saya sudah di sana. Darah itu masih hangat.

Bagaimana pesawat bersedia menerbangkan korban dengan mudah?

Nah ini yang menarik. Singapore Airlines sangat baik sekali. Loading itu gampang sekali. Tapi itu yang kaya-kaya.

Sesudah itu ada Tim Gabungan Pencari Fakta. Apa problemnya sehingga muncul perbedaan data? Sampai sekarang ini jadi polemik.

Saya betulnya salah salah satu anggota TGPF. Tapi dua minggu setelah itu, saya mengundurkan diri. Masalahnya korban penyiksaan, pembakaran, penjarahan itu beda dengan korban perkosaan. Perkosaan itu adalah pembunuhan integritas diri dari tubuh perempuan.

Perempuan diperkosa itu sudah habis, apalagi dia Cina, apalagi ada hukum diskriminatif waktu itu. Sehingga mereka lebih milih diam, aman tenang. Keamanan lebih penting daripada saya bercerita dan kasus saya diungkap. Karena kasus Ita Martadinata itu menjadi pembelajaran penting bagi mereka. Jadi TGPF itu dibuat setelah kasus pembunuhan Ita Martadinata.

Jadi kasus pembunuhan itu menjadi pembelajaran bagi korban perkosaan untuk tidak bicara. Mereka tidak akan bicara. Mereka harus menjaga nama baik keluarga dan keluarga pun memastikan tidak ada yang mengetahui kalau keluarganya menjadi korban. Ini yang tidak diketahui pemerintah, oleh polisi.

Kembali ke TGPF, itu diketuai oleh Da'i Bachtiar dari polisi, ada tentaranya juga. Mereka dalam rapat-rapat selalu mengatakan, “Kami percaya ada perkosaan kalau kami bisa ngomong langsung dengan korban.”

Saya bilang, “tidak bisa.”

TRKP tidak pernah mau menyebutkan nama. Karena kami pernah menyebutkan nama, malah didatangi polisi dan dipaksa mengaku dan dipaksa ke rumah sakit untuk dilihat vaginanya.

Jadi untuk saya ini sebuah pelanggaran HAM dan pelanggaran privasi. Karena itu saya mundur. Karena polisi sudah menyalahi aturan untuk menyelidiki perkosaan.

Saat awal menerima laporan dari korban, tidak melapor ke polisi? Atau polisi tidak bertindak saat ada kejadian itu?

Tidak ada sama sekali. Polisi saat itu ngurusi kaos. Karena semua orang tidak mungkin bicara pada militer. Dan di antara (korban) terhadap perempuan Tionghoa, sebagian besar cepak-cepak semua.

Ada dugaan ini dilakukan secara sistematis?

Menurut saya tidak mungkin perkosaan dilakukan dalam waktu 3 menit, 5 menit. Itu terlalu lama. Jadi begini modusnya: datang, ada yang menjarah, setelah menjarah datang lagi, memperkosa.

Jadi merusak, menjarah, memperkosa. Memperkosa itu terakhir. Dan antara orang yang merusak, menjarah dan memperkosa itu berbeda. Polanya lebih banyak pemerkosa itu berbeda. Di Cengkareng itu di pinggir jalan.

Tapi enggak ada saksi?

Ada saksi. Ada keluarga. TGPF waktu itu tidak mau menerima ketika kami menghadirkan pendamping dari Budha dari suster-suster. Mereka disumpah. TGPF tidak mau mengakui. Dr Lie banyak menerima korban, tapi dia malah diteror, sampai keluarganya pindah ke luar negeri. Justru pendamping malah diteror.

Ini pelajaran berharga buat kita: Tidak bisa lagi percaya sama militer.

Banyak perkosaan yang tidak menggunakan penis, tapi menggunakan alat. Jadi cepat, tinggalkan.

Orang bilang perkosaan berarti dinikmati, dong. Itu kurang ajar sekali! Di TGPF, waktu itu, polisi juga bilang begitu. “Kalau gitu, Cina-Cina itu menikmati dong diperkosa. Bagaimana ini?” Kurang ajar sekali!

Yang di Tangerang itu tidak diperkosa. Mereka pakai alat.

Saya mau katakan: perkosaan ini menjadi modus untuk meneror masyarakat di dalam perubahan politik dengan menggunakan tubuh perempuan. Dan itu terjadi di Rwanda, Bosnia, Jerman, Jepang, juga Timor Leste.

Perkosaan 98 itu bisa ke internasional karena waktu itu, setelah Soeharto lengser, pelapor khusus PBB kekerasan perempuan, Radhika Coomaraswary, mengundang saya untuk membawa kasus itu. Kami membuat laporan cepat, dan pendamping datang, ada hampir 200 kasus perkosaan berdasarkan laporan semuanya.

Kami bawa data ini ke ke Kolombo, Sri Lanka. Radhika minta laporan itu dilengkapi, jadi total 189 korban setelah kami verifikasi. Itu terjadi mass rape. Laporan itu kemudian dibawa ke Jenewa. Oleh UN (PBB) dimasukkan ke dalam agenda. Di Swiss, saya membacakan kembali.

Bulan agustus 1998, Radhika datang ke Indonesia dan ditolak oleh pemerintah. Habibie saat itu. Tapi Wiranto masih. Hanya Prabowo yang dipecat. Kami akhirnya berusaha mempertemukan korban dengan Radhika di Hotel Sari San Pasific.[Sumber: tirto.id]

Muhammad Adam, taruna Akpol yang tewas di tangan seniornya (REPRO FEDRIK TARIGAN)
Biografi - Kasus meninggalnya taruna di sekolah kedinasan kembali terulang. Kasus terbaru dialami oleh Brigadatar Mohammad Adam, taruna tingkat dua, Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang Jawa Tengah (Jateng) yang meninggal akibat penganiayaan yang diterima dari para seniornya.

Terulangnya kasus serupa akibat dari kebiasaan "pembinaan" yang bernuansa perpeloncoan yang selama ini kerap terjadi di sekolah kedinasan. Menurut Anggota Komisi X DPR Dadang Rusdiana selama ini tradisi menyiksa junior oleh para senior sudah menjadi kebiasaan di sekolah kedinasan.

Kebiasaan itu harus dihilangkan. Upayanya dapat dilakukan oleh pengawas atau pembina di kampus sekolah dengan memberikan pengawasan superketat. Lalu disertai dengan pembinaan mental lainnya. "Penanaman nilai-nilai diperlukan di dalam proses pembelajaran maupun di luar proses pembelajaran," kata Dadang kepada JawaPos.com, Jumat (19/5).

Lebih jauh dia menuturkan, kasus ini terjadi tidak terlepas dari dugaan pembiaraan atau ketidakawasan dari pembina. Jika di sekolah kedinasan sudah ada pengawasan super ketat, maka kasus penyiksaan tidak akan terjadi. "Pengawasan di kehidupan berasrama harus terkendali dengan baik," tegas.

Sebelumnya, Brigdatar Mohammad Adam taruna Akpol meninggal dunia pada Kamis dini hari (18/5) sekira pukul 02.30 WIB. Diduga Adam menjadi korban pengeroyokan oleh para seniornya.

Kabid Humas Polda Jawa Tengah, Kombes Djarod Padakova mengaku pada jenazah Adam ada bekas luka lebam di bagian dada dan jari tangannya. Sehingga dia menduga ada luka lebab itu di bagian dada menimbulkan kerusakan pada kedua paru-paru korban yang menimbulkan kekurangan oksigen. (jawapos/JPG)

Biografi - Tapi hal itu tetap dilakukan oleh wanita yang terhebat. Sebab dia tahu sungguh besar pahala ketika mengabdikan diri dengan hanya mementingkan urusan keluarga dan mengenyampingkan urusan cita-cita. Dan bukan berarti pendidikan selama ini tak penting, seperti kata Dian Sastro Wardoyo “Entah nanti wanita itu akan berkarir atau menjadi ibu rumah tangga, tapi pendidikan bagi wanita itu penting”.

Banyak orang yang rela berjuang mati-matian demi untuk mengejar sebuah pendidikan, khususnya perguruan tinggi. Pendidikan bagi diri kita sendiri itu memang perlu, karena dengan pendidikan maka kita akan mendapatkan banyak ilmu. Bahkan pendidikan juga di perlukan untuk masa depan kita sendiri. Meskipun terkadang menempuh pendidikan pada perguruan tinggi itu tidaklah mudah. Karena selain dari bersaing dengan banyak orang yang juga ingin menempuh pendidikan yang sama, kita juga sering kali di bebani oleh besarnya biaya dalam menempuh pendidikan pada perguruan tinggi tersebut. Mulai dari sumbangan pembangunan, biaya SPP, uang SKS, biaya praktek, sampai pada buku-buku yang tentunya tidak murah harganya.

Jika sudah bertekad seperti itu, biasanya kita ingin supaya hasil jeri payah kita belajar selama ini tidak sia-sia saja dengan terus belajar dan berjuang agar suatu hari nanti kita mencapai sebuah kesuksesan. Tak terkecuali dengan wanita, karena semenjak pahlawan wanita kita yakni ibu Kartini mencetuskan adanya emansipasi untuk wanita, maka untuk urusan pendidikan antara pria dan wanita terdapat kesamaan yang tak bisa lagi untuk di ganggu gugat. Terdapat persamaan hak antara pria dan wanita, dan bukan hanya untuk urusan pendidikan saja, melainkan juga soal pekerjaan seperti di kantor-kantor misalnya. Maka dari itu, para wanita berusaha ingin mencapai sebuah kesuksesan tersebut melalui jalur pendidikan.

Wanita mana yang tidak ingin menikah?

Wanita mana yang tidak ingin menikah?, semua wanita pastinya ingin menikah, tak terkecuali dengan wanita karir. Sebab wanita karir juga wanita biasa seperti wanita pada umumnya. Yang juga ingin hidup bersama pasangan dan membina rumah tangga. Jika sudah menikah, tentunya semua wanita ingin mempunyai keturunan. Dan jika sudah mempunyai keturunan, maka tugas wanita akan lebih bertambah berat lagi. Wanita karir memang hebat, karena selain memikirkan urusan karir, wanita juga masih punya tanggung jawab untuk merawat dan membesarkan anak-anaknya ketika sudah menikah.

Tapi wanita karir itu sering kerepotan jika harus mengurus anak-anaknya sendirian

Tapi wanita karir itu sering kerepotan jika harus mengurus anak-anaknya sendirian, makanya dia butuh adanya baby sitter untuk memudahkan segala urusannya, terutama pada awal-awal dia baru melahirkan. Karena tidak mungkin jika dia harus mengajukan cuti lebih lama dari peraturannya. Kedengarannya memang aneh, ingin mengejar karir demi untuk mendapatkan uang dan masa depan, tapi dia sendiri juga mengeluarkan uang untuk membayar orang yang telah mengasuh anaknya.

Wanita terhebat adalah dia yang telah memiliki gelar sarjana, tapi lebih memilih untuk menjadi ibu rumah tangga

Wanita karir memang hebat, karena selain memikirkan urusan karir, wanita karir juga harus memikirkan anak-anaknya yang tak kalah menguras tenaga dan pikiran. Namun wanita yang terhebat adalah dia yang telah memiliki gelar sarjana, tapi lebih memilih untuk menjadi ibu rumah tangga. Membesarkan anak bersamaan dengan berjalannya karir itu tidaklah terlalu berat, meskipun terkadang sering kerepotan di sana sini, tapi tenang kan ada baby sitter. Karena yang lebih berat itu adalah ketika wanita yang telah memiliki gelar sarjana tapi harus rela melepaskan impiannya dengan hanya menjadi ibu rumah tangga.

Karena untuk melepaskan impian yang telah lama kita rajut selama ini tidaklah mudah, butuh kesiapan mental yang benar-benar kuat. Tapi hal itu tetap dilakukan oleh wanita yang terhebat. Sebab dia tahu sungguh besar pahala ketika mengabdikan diri dengan hanya mementingkan urusan keluarga dan mengenyampingkan urusan cita-cita. Dan bukan berarti pendidikan selama ini tak penting, seperti kata Dian Sastro Wardoyo “Entah nanti wanita itu akan berkarir atau menjadi ibu rumah tangga, tapi pendidikan bagi wanita itu penting”.

vebma.com

Biogarfi -  “Indonesia adalah negara demokrasi sekaligus negara hukum. Kalau ada keluar dari koridor itu, yang pas istilahnya, ya, digebuk.”

Kalimat ini terlontar dari mulut Presiden Joko Widodo (Jokowi), saat menjamu sejumlah pemimpin redaksi media massa di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (17/5/2017).

Pernyataan bernada ancaman ini tidak berdiri sendiri. Jokowi mengaitkannya dengan salah satu isu yang belakangan cukup ramai jadi perbincangkan yakni kebangkitan komunis. Sebagai presiden, Jokowi berjanji tidak akan segan-segan “menggebuk” pihak-pihak yang coba membangkitkan PKI dari kubur. Alasannya, PKI dilarang konstitusi.

“Saya dilantik jadi Presiden yang saya pegang konstitusi, kehendak rakyat. Bukan yang lain-lain. Misalnya PKI nongol, gebuk saja. TAP MPR jelas soal larangan itu (PKI),” ujar Jokowi.

Ada kemiripan antara cara komunikasi politik yang disampaikan Jokowi dengan apa yang pernah dilakukan Soeharto. Presiden terlama Indonesia itu menggunakan kata-kata bernada ancaman untuk menekan lawan-lawan politik yang berpretensi mengganggu kekuasaannya.

Selama 32 tahun, Soeharto menggunakan beragam kata untuk menekan sekaligus menyingkirkan lawan-lawan politiknya. Salah satu dari sejumlah kata agresif paling menonjol yang pernah diucapkan Soeharto adalah “gebuk”.
Soeharto dan Politik Pukul Sampai Habis
Dalam penerbangan pulang ke Tanah Air usai lawatan ke Yugoslavia dan Uni Soviet, Soeharto secara khusus mengemukakan istilah “gebuk”. Kata ini dia pakai saat menjawab pertanyaan wartawan tentang adanya tuntutan melakukan suksesi nasional. Seperti halnya Jokowi, Soeharto menyatakan Orde Baru sudah bertekad melaksanakan kemurnian Pancasila dan UUD 1945.

“Secara konstitusional silahkan melakukan apa saja, sampai mengganti saya; jalannya sudah ada yaitu melalui cara konstitusional… tetapi kalau dilakukan di luar itu, apakah ia seorang pemimpin politik atau sampai Jenderal sekali pun, akan saya gebuk. Siapa saja akan saya gebuk karena saya harus menertibkan pelaksanaan konstitusi itu!” kata Soeharto (Kompas, 29/9/1989).

Pengamat komunikasi politik Tjipta Lesmana dalam bukunya Dari Soekarno sampai SBY mengatakan kata “gebuk” bermakna "menghancurkan sampai rata tanpa belas kasihan". Kata ini menurutnya merefleksikan kegusaran Soeharto terhadap pihak-pihak yang coba merongrong kekuasaannya. Di antaranya, para pensiunan jenderal dan politikus sipil yang tergabung dalam kelompok Petisi 50.

“Rupanya, di mata Soeharto aktivitas politik para pensiunan Jenderal yang tergabung dalam Petisi 50 makin lama makin mengarah ke aksi makar untuk menggulingkan kekuasaannya,” tulis Tjipta.

Jakob Oetama, wartawan senior sekaligus pendiri Harian Kompas, turut hadir dalam pesawat yang digunakan Soeharto dari Uni Soviet dan Yugolavia. Dia mengingat kata “gebuk” digunakan Soeharto untuk merespons pertanyaan wartawan mengenai berbagai aksi unjuk rasa mahasiswa yang mirip dengan aksi mahasiswa di dekade 1970-an.

Ketika itu, ujar Jakob, Soeharto menyampaikan kata “gebuk” diikuti gerakan tangan mengepal siap meninju sambil tersenyum lebar dan tertawa terbahak-bahak.

“Soeharto mempertontonkan kekuatan, kekuasaan, keyakinan, kemenangan, dan posisinya dalam ketinggian terbang di atas 30.000 kaki di atas permukaan laut,” kenang Jakob seperti ditulis St Sularto dalam Syukur Tiada Akhir: Jejak langkah Jakob Oetama.
Korban Politik Gebuk Soeharto
Soeharto memang tidak pernah main-main memberikan ancaman. Dia membuktikan ancamannya dengan memejarakan sejumlah orang yang berani terang-terangan berseberangan dengan dirinya. Penandatangan Petisi 50, M Jassin, mengatakan Soeharto telah memenjarakan dua tokoh Petisi 50 yakni H.R. Dharsono dan Ir. Sanusi.

“Kata-kata gebuk, sewaktu Soeharto pulang dari Jepang di atas pesawat; ‘Siapa saja akan saya gebuk, walaupun jenderal atau pun sarjana’. Dan ternyata Soeharto betul-betul menggebuk Letjen. Purn. H.R. Dharsono dan Ir. Sanusi, sehingga masuk penjara,” kata Jassin dalam Saya Tidak Pernah Minta Ampun kepada Soeharto: Sebuah Memoar.

Usaha melanggengkan kekuasaan dengan dalih menjaga konstitusi juga kembali disampaikan Soeharto menjelang akhir-akhir kekuasaannya. Pada Maret 1997, saat meresmikan Asrama Haji Donohudan dan RSUD Dr. Moewardi Surakarta, Soeharto coba merespons tuntutan para oposan yang meminta dia tidak mencalonkan diri kembali sebagai presiden.

Lagi-lagi Soeharto mengatakan tidak keberatan diganti dan melepaskan jabatannya sebagai presiden jika rakyat memang sudah tidak mengkehendaki. Namun, dia menggaris bawahi, usaha untuk melengserkan dirinya mesti dilakukan secara konstitusional. Jika tidak, Soeharto tidak akan ragu-ragu “menggebuk”.

“Namun harus dilakukan secara konstitusional. Kalau tidak melewati ini, saya katakan ya saya gebuk, karena melanggar konstitusi. Saya juga dengar ada ini ada itu. Kalau sampai melanggar hukum, saya gebuk betul serta tidak akan ragu-ragu mengambil tindakan kepada mereka itu,” tulis Akbar Tandjung dalam bukunya The Golkar Way.Selanjutnya
loading...

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget