Halloween Costume ideas 2015

Korban Tsunami Aceh yang Ingin Disuntik Mati Dirujuk ke RSUZA

Berlin Silalahi (46 tahun), korban tsunami yang digusur dari Barak Bakoy, Kecamatan Ingin Jaya Aceh Besar, mengajukan permohonan euthanasia atau suntik mati ke Pengadilan Negeri Banda Aceh akibat sakit dialaminya. | Foto: Dokumentasi Hotli Simanjuntak/EPA
Biografi - Setelah penantian panjang, Berlin Silalahi (46 tahun), korban tsunami yang digusur dari Barak Bakoy, Kecamatan Ingin Jaya Aceh Besar, sedikit bernapas lega mengenai penangan penyakit dialaminya. Rencananya, lembaga sosial Dompet Dhuafa akan membantu pengobatan Berlin Silalahi dengan membawanya ke Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA), Banda Aceh.

Berlin Silalahi pernah mengajukan permohonan euthanasia atau suntik mati ke Pengadilan Negeri Banda Aceh, akibat sakit dialaminya. Karena hingga sekarang belum ada rekam medis penyakit yang diderita oleh Berlin Silalahi.

"Kita akan fasilitasi membawa Berlin ke dokter spesialis. Setelah mendapat hasil, kita bisa membantu penanganannya untuk menjalani pengobatan," kata Direktur Dompat Dhuafa Aceh Muhammad Ilham," kepada merdeka.com, Senin (08/05/2017).

Muhammad Ilham mengatakan, dilihat dari riwayat obat yang dikonsumsi, Berlin menderita asma dan penyakit radang tulang, penyempitan urat saraf tulang belakang. Akan tetapi, untuk kepastiannya butuh pemeriksaan medis yang dilakukan oleh dokter spesialis. "Kita akan bawa Berlin secepatnya ke dokter ahli," ujar dia.

Selain Berlin, Dompet Dhuafa juga akan menangani kesehatan 17 Kepala Keluarga (KK) Lainnya yang mengungsi di kantor Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA). Mereka semua ada sekitar 75 orang, baik dewasa maupun anak-anak.

Penyakit yang diderita sekarang, seperti Inspeksi Saluran Pernafasan (Ispa), penyakit kulit seperti gatal-gatal, terutama anak-anak, kemudian penyakit lambung.

"Itu memang penyakit yang sering diderita oleh pengungsi di mana saja," kata dia.

Pengobatan ini gratis diberikan kepada mereka. Rencananya, sebut Muhammad Ilham, akan mengunjungi pengungsi ini sebanyak sekali dalam dua minggu. Ini dilakukan untuk memastikan kesehatan mereka selama masih berada di tempat penampungan sementara.

"Untuk Dompet Dhuafa di Aceh, kita memang khusus untu penanganan kesehatan," pungkasnya. [merdeka.com]
Labels:

Post a Comment

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget