Halloween Costume ideas 2015
June 2017

Header Al Hasan Nasruddin Ath Thusi. tirto.id/Sabit
Biografi - Nasiruddin al-Tusi atau bernama lengkap Abu Jafar Muhammad Ibn Muhammad Ibnu Al Hasan Nasiruddin Al-Tusi adalah seorang ilmuwan serba bisa dari Persia. Ia lahir pada 18 Februari 1201 Masehi di Kota Tus yang terletak di dekat Mashed, Persia (sekarang sebelah timur laut Iran).

Sebagai seorang ilmuwan yang tersohor pada zamannya, al-Tusi memiliki banyak nama, antara lain Muhaqqiq, Khuwaja Thusi, Khuwaja Nasir, al-Din Tusi, dan (di Barat dikenal sebagai) Tusi.

Di masa kecilnya, al-Tusi digembleng ilmu pengetahuan oleh ayahnya Muhammad Ibn al Hasan yang berprofesi sebagai ahli hukum di sekolah Imam Kedua Belas, sekte utama muslim Syiah. Selain digembleng ilmu agama, ia mempelajari Fiqih, Ushul Fiqih, Hikmah, dan Kalam, terutama pemikiran Ibnu Sina dari Mahdar Fariduddin Damad dan matematika dari Muhammad Hasib. Al-Tusi akhirnya menyelesaikan pendidikannya di Nihshapur, sekitar 75 kilometer barat Mashed.

Ia kemudian pergi ke Bagdad, yang pernah menjadi pusat kebudayaan ilmu pengetahuan dan puncak keemasan peradaban Islam. Di sana, ia mempelajari lagi ilmu pengobatan dan filsafat dari Qutbuddin dan juga matematika dari Kamaluddin bin Yunus dan fiqih serta ushul dari Salim bin Bardan.

Semasa hidupnya, Tusi mendedikasikan diri untuk mengembangkan berbagai ilmu pengetahuan seperti astronomi, biologi, kimia, metamatika, filsafat, kedokteran, hingga ilmu agama islam.

Menurut O'Connor dan Robertson, pengetahuan tambahan diperoleh dari pamannya begitu berpengaruh pada perkembangan intelektualnya. Al-Tusi lahir pada abad ke-13, saat dunia Islam mengalami era sulit. Pada zaman itu, militer Mongol menginvasi wilayah kekuasaan Islam yang begitu luas. Kota-kota dihancurkan dan penduduknya dibantai oleh tentara Mongol. Hilangnya rasa aman dan ketenangan menyebabkan banyak ilmuwan sulit mengembangkan ilmu pengetahuan.

Pada tahun 1220 masehi, invasi militer Mongol telah mencapai kota Tus, tempat Tusi dilahirkan. Kota itu pun dihancurkan. Di tengah situasi tak jelas, penguasa Islamiyah Abdurahim mengajak sang ilmuwan bergabung. Tawaran itu pun tak disia-siakan oleh al-Tusi. Ia bergabung menjadi salah satu pejabat Istana Islamiyah. Ia kemudian mengisi waktunya dengan beragam karya penting tentang astronomi, filsafat, logika serta matematika.

Akhirnya, pasukan Mongol yang dipimpin Hulagu Khan (cucu Jengis Khan) berhasil menguasai Istana pada 1256 dan meluluhlantakannya. Beruntung, nyawa al-Tusi selamat karena Hulagu sangat menaruh minat terhadap ilmu pengetahuan, khususnya astronomi. Tusi diangkat Hulagu menjadi penasihat ilmiah bagi pasukan Mongol, dan tak lama kemudian ia pun menikah dengan orang Mongol.

Posisi istimewa al-Tusi membuatnya merencanakan pembangunan The National Research Institute Astronomical Observatory atau disebut Observatorium Rasad Khaneh di Maragha. Perencanaan itu ia ungkapkan kepada Hulagu yang kemudian menyetujui keinginan ilmuwan Persia tersebut.

Hulagu saat itu telah menjadikan wilayah Maragha yang berada di wilayah Azerbaijan sebagai ibu kota pemerintahnya. Kepercayaan Hulagu kepada Al-Tusi membuat pemimpin tertinggi Mongol tersebut mendukung pembangunan observatorium megah pada 1259. Tiga tahun kemudian, tepatnya pada 1262, gedung Observatorium Maragha selesai.

Observatorium itu terletak di ketinggian barat Maragha, Provinsi Azerbaijan Timur, Iran, yang pernah dianggap sebagai salah satu observatorium paling bergengsi di dunia. Menurut Raghib As Sirjani dalam Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia, observatorium ini kemudian menjadi pegangan para ilmuwan Eropa di bidang astronomi.

Bangunan yang kini berbentuk setengah bola berwarna putih tersebut menjadi yang terbesar di masanya, terdiri dari serangkaian bangunan berukuran lebar 150 meter dan panjang 350 meter. Salah satu ciri khas bangunan ini adalah sebuah kubah yang memungkinkan sinar matahari memasukinya.

Observatorium Maragha
Ada misi penting yang membuat Tusi meminta Hulagu membangun observatorium, yakni agar tabel astronomi yang mampu memberikan prediksi tabel lebih tepat bisa disusun. Maka, bisa dibilang Observatorium Maragha merupakan sumbangan monumental al-Tusi yang sangat besar di bidang astronomi.

Pembangunan dan operasional observatorium melibatkan sarjana dari Persia dibantu astronom dari Cina. Teknologi yang digunakan pun tergolong canggih pada zamannya. Peralatan dan teknologi penguak luar angkasa yang digunakan ternyata merupakan penemuan al-Tusi, salah satunya adalah Kuadran Azimuth.

Selama 12 tahun menjabat sebagai pemimpin observatorium, al-Tusi berhasil membuat tabel planet seperti yang digambarkan dalam bukunya Zij-i ilkhani (Ilkhan Tables). Buku tersebut berisikan tabel astronomi untuk mengkalkulasi posisi planet dan nama-nama bintang. Model yang dihasilkan untuk sistem planet diyakini sebagai suatu yang sangat maju pada jamannya, dan digunakan secara ekstensif sampai berkembangnya model heliosentris pada masa Nicolaus Copernicus, astronom berkebangsaan Polandia.

Observatorium ini juga memiliki perpustakaan dengan 400 ribu jilid buku dalam semua bidang ilmu pengetahuan. Di tempat itu, al-Tusi tak hanya mengembangkan bidang astronomi saja, ia pun turut mengembangkan filsafat dan matematika.  Selanjutnya

Biografi - Kereta merapat di stasiun Jombang. Situasi stasiun tak terlalu ramai. Eropa tengah tergoncang tahun pertama Perang Dunia Kedua. Proklamasi kemerdekaan Indonesia masih enam tahun lagi. Keadaan Jombang baik-baik saja. Tenang dan normal.

Anggota aktif Gerakan Pemuda Ansor Jawa Tengah itu keluar dari gerbong kereta. Pandangannya mengitari area stasiun, mencari seseorang. Seseorang dari Tebuireng yang dalam surat akan menjemputnya. Ditelusuri dengan pandangannya, orang yang dimaksud ternyata ada.

Seorang pemuda. Kulitnya putih, wajahnya tampan. Tubuhnya padat berisi dan sedikit pendek. Sangat sulit menilai jika orang yang menjemputnya ini adalah seorang santri—atau dulunya seorang santri. Pakaiannya tidak mencerminkan itu. Tidak mengenakan sarung dan blangkon. Tetapi peci putih ala Jawaharlal Nehru dan celana panjang. Tampilan yang terlalu modis dan modern tentu saja pada era itu.

“Ahlan wa sahlan, marhaban… ahlan.. ahlan,” kata sambutan meluncur sambil menjabat tangan erat. Si tamu tidak kalah ramah menyalaminya.

Keduanya baru kali itu bertemu setelah hanya bertegur sapa lewat surat. Sudah barang tentu keduanya menyebutkan nama masing-masing. Basa-basi memperkenalkan diri sekalipun sudah tahu sama tahu.

“Saifuddin Zuhri,” kata si tamu sambil terus menjabat.

Orang yang menyalami membalas, “Wahid Hasyim.”

Iya, dia KH. Wahid Hasyim, ayah KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Zuhri lantas diantarkan Wahid keluar dari stasiun. Lengan Zuhri dipegang begitu erat, seolah Wahid takut Zuhri akan melarikan diri. Tangan Wahid yang lain menjinjing koper Zuhri. Keduanya langsung menuju jalanan depan stasiun. Di sana sudah menunggu delman milik Wahid. Setelah naik dan memastikan tidak ada yang tertinggal, keduanya menuju Pondok Pesantren Tebuireng.

Sepanjang perjalanan, Wahid bercerita banyak sekali kisah lucu di pesantren. Zuhri mendengarnya dengan antusias dan bisa mengikis rasa letih dalam perjalanan.

“Suasana jadi akrab sekali, seakan-akan kami dua orang sahabat yang telah lama berkenalan,” tulis Zuhri dalam Guruku Orang-orang dari Pesantren (2007: 140).

Sayangnya, cerita yang mengasyikkan dari Wahid ini tidak masuk semuanya ke pikiran Zuhri. Ada perasaan sungkan dan minder karena di hadapannya disadari benar adalah orang besar. Meskipun orang di hadapannya itu baru berusia sekitar 25 tahun, selisih sekitar 5 tahun lebih tua dari Zuhri, tetapi Zuhri sadar bahwa “Gus” yang jadi teman bicaranya adalah anak dari seorang kiai paling dihormati di tanah Jawa. Itu membuat Zuhri tidak bisa sepenuhnya menikmati percakapan.

“Dalam fantasiku, orang besar mestilah memperlihatkan mahal senyum. Kalau bicara dihemat. Perhatiannya dipusatkan kepada dirinya bukan kepada yang diajak bicara,” terang Zuhri. “Tapi orang yang satu ini tidak demikian. Pusat perhatiannya ditujukan kepadaku, orang kecil.”

Entah mimpi apa Zuhri sebelumnya, hari itu ia satu delman dengan orang yang diam-diam ia kagumi.

Mendekati Pesantren Tebuireng, dalam hati penuh syukur, Zuhri bisa diberi kesempatan mengunjungi salah satu pesantren yang termasyhur ini.

Begitu sampai, Wahid Hasyim menganjurkan Zuhri untuk istirahat sejenak, “Minumlah dulu, nanti aku antarkan menghadap Hadratus Syaikh.”

Yang dimaksud tentu saja sang ayah, KH. Hasyim Asya’ari. Mendengar akan menghadap Maha Guru, suasana hati Zuhri bercampur antara girang dan tegang. Gembira sekaligus takut. Orang yang akan jadi legenda itu akan ia temui langsung dan berhadap-hadapan. Sudah barang tentu merasa terhormat sekali Zuhri jadinya.

Zuhri mengakui untuk orang yang baru pertama kali bertemu dengan Hadratus Syaikh, akan ada pancaran wibawa yang membuat sedikit tertekan siapa pun yang bertamu.

“Ketika aku memberikan salam, beliau sedang duduk di atas permadani yang memenuhi ruangan tamu yang luas,” terang Zuhri.

Berbeda dengan putranya yang terlihat “modern”, Hadratus Syaikh masih setia dengan baju “Jawa”. Pakaian yang dikenakan terlihat seperti piyama yang tak berkerah. Berwarna putih kain katun, mengenakan sarung dan sorban. Saat Zuhri menghadap, Hadratus Syaikh sedang membaca sebuah surat.

“Aku heran sekali, melihat seorang tua yang usianya lebih dari 70 tahun masih dapat membaca tanpa kaca mata,” tulis Zuhri dalam otobiografinya.

Wahid Hasyim pun mendekat. Memperkenalkan Zuhri kepada ayahnya. Lalu keduanya terlibat pembicaraan menggunakan bahasa Arab yang bercampur bahasa Jawa. Sesekali Wahid menjawab pertanyaan Hadratus Syaikh dengan bahasa Jawa halus. Tentu bukan karena tidak mampu menjawab dengan bahasa Arab, tapi karena rasa hormat kepada orang tua sudah menjadi gerak refleks bicara Wahid.

“Tapi setelah KH. Wahid Hasyim memberitahu bahwa aku dari kalangan Pemuda Ansor, Hadratus Syaikh kontan menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan denganku,” terang Zuhri.

Meski begitu, sesekali Hadratus Syaikh juga menanyai Zuhri dengan bahasa Arab. Zuhri pun menjawabnya dengan bahasa Indonesia, mengikuti cara Wahid yang juga sesekali menjawab percakapan itu dengan bahasa Jawa halus. Artinya, dalam pembicaraan tiga orang itu, ada tiga bahasa yang digunakan oleh masing-masing. Bahasa Arab oleh Kiai Hasyim, Bahasa Indonesia oleh Zuhri, dan Bahasa Jawa halus oleh Wahid Hasyim. Selanjutnya

Biografi - Otoritas Turki mengirimkan kapal pertamanya yang membawa bantuan pangan ke Qatar. Selain itu, Turki juga mengirimkan bantuan ke negara sahabatnya itu berupa kontingen kecil tentara beserta kendaraan lapis baja. Bantuan ini dikirim pada Kamis, kemarin, 22 Juni 2017.

Dilansir dari Reuters, Jumat, 23 Juni 2017, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan juga sudah berkomunikasi dengan para pemimpin Arab Saudi terkait ketegangan di wilayah Teluk tersebut.

Seperti diketahui, Turki mendukung Qatar setelah sejumlah negara Teluk, mulai Arab Saudi, Mesir dan lainnya memutuskan hubungan diplomatik, termasuk ekonomi terhadap Qatar. Berbagai tuduhan bahwa pihak Qatar sebagai negara yang mendukung aksi terorisme. Meski tuduhan ini juga dibantah Turki.

Sebagai negara sekutu, Turki ingin membantu Qatar. Sejak lama, Turki punya peranan sebagai mediator di kawasan tersebut. Upaya bantuan ini juga untuk meredam pengaruh pihak yang kontra seperti Arab Saudi.

Sementara, dua negara dilaporkan memiliki kesepakatan yang ditandatangani bersama pada 2014. Dalam undang-undang yang disepakati, antarnegara bisa mengirimkan bantuan termasuk militer.

Adapun dalam bantuan ini, lima kendaraan lapis baja dan 23 personel militer tiba di kota Doha pada Kamis kemarin. Pihak Turki menyatakan bantuan ini merupakan tahapan baru sebagai langkah kerangka tindakan hukum mengenai pelatihan militer dan kerja sama antara kedua negara.

Hingga sekarang, sekitar 88 tentara Turki sudah berada di Qatar. Jumlah ini dikutip Reuters dari surat kabar Hurriyet. Rencananya, selain 'kontingen' tentara angkatan darat, dipertimbangkan pula bantuan kontingen angkatan udara ke Qatar.

Kapal Turki

Empat ribu ton persediaan makanan kering, buah, dan sayuran dibawa kapal Turki pertama. Kapal ini berangkat dari sebuah pelabuhan di provinsi Izmir, Turki barat, Kamis pagi. Sumber dari kantor berita Turki, Anadolu mengatakan bantuan ini diharapkan tiba di Doha dalam waktu sekitar 10 hari.

Pihak otoritas Turki menegaskan bantuan terhadap Qatar ini tak bermaksud untuk mengancam pihak lain. Juru Bicara Presiden Turki, Ibrahim Kalin, menyatakan pengiriman bantuan ini bukan bertujuan untuk memanaskan tensi di kawasan teluk.

"Kami tidak ingin ada ketegangan dengan negara Teluk manapun, kami juga tidak ingin mereka bertengkar satu sama lain. Ini adalah pendekatan kami terhadap masalah krisis ini dari awal," kata Ibrahim, Kamis, di Ankara, Turki.

Menurutnya, jika ada negara Teluk yang tak setuju dengan kebijakan Turki, maka bisa dimaklumi. Namun, sebagai negara sahabat, ia mengingatkan agar negara lain juga bisa memahami kebijakan Turki yang ingin berbuat terhadap Qatar.

"Jika dua teman Anda, dua tetangga saling tidak setuju satu sama lain dan jika ada sesuatu yang dapat Anda lakukan mengenai hal ini, wajar jika kita bertindak," tuturnya. (viva)

Biografi - Hari ini media sosial diramaikan oleh perbincangan mengenai asal-usul patih Kerajaan Majapahit, Gadjah Mada. Muaranya adalah perdebatan apakah Gadjah Mada benar seorang muslim?

Nama Gadjah Mada memang harum hingga kini. Tentu karena ia dikenal sebagai sosok patih pemersatu beragam wilayah kepulauan yang kemudian bernama Nusantara.

Ahli arkeologi dari Universitas Indonesia Ali Akbar mengatakan, saking mewanginya nama Gadjah Mada membuat banyak wilayah di Indonesia yang merasa memilikinya. Termasuk dengan makamnya, ada beberapa pihak di wilayah tertentu yang mengklaim jasad Gadjah Mada dikebumikan di sana.

Namun hingga kini belum ada bukti arkeologi atau naskah kuno sahih yang menyatakan bagaimana akhir hidup Gadjah Mada, di mana dan dengan cara apa ia dikuburkan.

"Yang pertama figur Gadjah Mada sangat terkenal, dia kan tangan kanan Kerajaan Majapahit. Tapi akhir hidupnya nggak ada yang tahu, karena itu sampai sekarang nggak ada makam Gadjah Mada yang definitif. Namun memang ada beberapa yang mengklaim dengan menyebutkan bukti arkeologis," kata Ali Akbar dalam perbincangannya dengan kumparan (kumparan.com), Kamis (15/6).

Namun Ali menjelaskan, diceritakan dalam Kitab Negarakertagama, sebelum Gadjah Mada meninggal, dia melakukan ekspedisi ke luar Pulau Jawa.

"Ada ekspedisi ke Dompu, Seram, dan berbagai wilayah di Pulau Luar Jawa lainnya. Dampaknya adalah hampir semua masyarakat setempat (mengklaim) di situ ada makam Gadjah Mada. Misalnya datang ke Lombok ada yang mengklaim di sana makam dia ada di dekat air terjun," bebernya.

 Selanjutnya

Biografi - Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Setyo Wasisto menyatakan bahwa permintaan Red Notice yang diajukan Polda Metro Jaya ke Interpol untuk kasus konten pornografi dengan tersangka Rizieq Shihab ditolak. Alasan penolakan Interpol karena bukti dalam kasus ini belum memenuhi syarat.

"Saya tadi dapat informasi dari Sekretariat NCB Interpol Indonesia, kasus ini dikembalikan lagi ke Polda Metro Jaya," kata Setyo di Mabes Polri (12/6/2017).

Interpol menolak Red Notice kasus Rizieq karena bukti yang ada dalam gelar perkara yang dilakukan oleh Polda Metro Jaya dan Interpol belum memenuhi syarat untuk penerbitan Red Notice.

Red Notice adalah permintaan penahanan terhadap seorang pelaku kriminal yang telah masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) dan tersangka kepada Interpol. Dengan penerbitan Red Notice, pergerakan pelaku kriminal di luar negeri menjadi terbatas.

"Itu kan sudah gelar perkara. Ternyata gelar perkaranya belum cukup. Jadi dikembalikan ke penyidik," katanya.

Ditanya mengenai kabar Rizieq yang mendapatkan visa unlimited dengan jangka waktu tidak terbatas, Setyo menyatakan tidak mau menjawab soal itu. Karena, menurutnya hal ini bukan wewenangnya untuk menjawab.

"Saya bukan yang berwenang untuk menjawab itu," katanya.

Tidak hanya itu, Setyo juga menyatakan bahwa pihaknya tidak memiliki persiapan khusus untuk menjemput maupun mengenai rencana kedatangan Rizieq. Meskipun, sempat dikabarkan bahwa akan ada massa pendukung Rizieq yang berencana untuk menyerbu bandara.

"Belum ada rencana untuk itu," katanya.

Sampai saat ini Rizieq Shihab masih berada di Arab Saudi dan belum diketahui kapan akan kembali ke Indonesia. Bahkan, penasihat hukum Rizieq, Sugito Atmo Prawiro, menyatakan dirinya belum mendapat informasi apapun terkait kedatangan Rizieq.

"InsyaAllah belum datang hari ini," katanya kepada Tirto (12/6/2017).

Saat ditanya mengenai visa unlimited Rizieq, Sugito enggan menjawab. Sugito menyebut visa tersebut tidak memiliki masa kedaluwarsa. Ia juga memilih bungkam saat ditanya kemungkinan Rizieq untuk menetap permanen di Saudi Arabia.
Imigrasi Tegaskan Tidak Ada Visa Unlimited
Meski begitu, Kabag Humas Ditjen Imigrasi Agung Sampurno menyatakan tidak ada visa unlimited seperti yang dimaksudkan. Melainkan, menurutnya visa hanya ada dua jenis, yakni single dan multiple.

"Visa itu secara universal diartikan hanya ada dua: single dan multiple. Maksudnya entry-nya atau ijin masuk. Mau masuk sekali atau berkali-kali masuk," katanya saat dihubungi Tirto (12/6/2017).

Ia pun menjelaskan bahwa yang dimaksud visa adalah izin masuk yang diberikan oleh suatu negara kepada orang asing melalui perwakilan negaranya.

Sehingga, untuk mengetahui jenis visa yang dipakai Rizieq masuk ke Arab Saudi, adalah kewenangan Kedutaan Besar Arab Saudi untuk Indonesia.

"Itu kewenangan negara pemberi visa. Kalau misal Arab Saudi, ya tanya ke Kedubes Arab Saudi," katanya.

Beredar kabar mengenai kepulangan Imam Besar FPI Rizieq Shihab pada Senin (12/6/2017) mengingat visa Rizieq di Arab Saudi akan habis. Bahkan sehari sebelumnya, pada Minggu (11/6/2017) sempat tersiar kabar bahwa Rizieq akan kembali ke Indonesia. Tetapi kabar ini ditepis oleh penasihat hukum Rizieq, Sugito Atmo Prawiro yang justru menekankan bahwa kliennya mendapat izin tinggal lebih lama di Arab Saudi.

Pengacara Rizieq lainnya, Kapitra Ampera mengaku tidak mengetahui secara pasti tanggal Rizieq kembali dari Arab Saudi. Namun, ia memastikan, Rizieq sudah mendapat perpanjangan visa dari Kedubes Arab Saudi sehingga kemungkinan besar akan tinggal di sana lebih lama.

Direktorat Kriminal Khusus Polda Metro Jaya telah menetapkan Imam Besar Front Pembela Islam, Rizieq Shihab sebagai tersangka dalam kasus dugaan chat berkonten pornografi dengan wanita bernama Firza Husein, Senin (29/5/2017). Polisi menerapkan Pasal 4 ayat 1 juncto pasal 29 dan atau Pasal 6 juncto pasal 32 dan atau Pasal 9 juncto Pasal 35 Undang-undang nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi.

Sebelum Rizieq, Firza Husein juga sudah ditetapkan sebagai tersangka pornografi dalam kasus itu pada Selasa (16/5/2017). Untuk diketahui, kasus chat antara Rizieq dan Firza mencuat setelah tersebar di sebuah situs bernama domain baladacintarizieq. Di situs yang kini sudah tidak bisa diakses itu, terdapat percakapan mesra seorang pria bernama akun WhatsApp Rizieq dengan wanita diduga Firza Husein. (Tirto)

Abu H. Muhammad Amin Blang Bladeh yang akrab dengan panggilan Tumin. Beliau salah satu murid Abuya Syeikh Muda Waly Al Khalidy (ulama paling berpengaruh dalam melahirkan Ulama di Aceh) dan beliau salah satu murid Abuya Syeikh Muda Waly yang masih ada di Aceh dan beliau tercatat sebagai Ulama Aceh yang senior dan sepuh yang masih ada berusia lebih kurang sekitar 85 tahun. Beliau juga merupakan murid Abu Hasan Krueng Kale (Syaikh Muhammad Hasan al-Aasyie al-Falaki) yang ikut aktif berjuang menegakkan kemerdekaan Republik Indonesia.

Sehubungan dengan sapaan ini (Tumin) beliau berkelakar, kira-kira begini ucapan beliau, “Ka dumno tuha, hana dihei Tgk (saya sudah tua begini namun tidak dipanggil Tgk)..”, Spontan saja kami yang berada dihadapan beliau tak sanggup menahan tawa yang membuat riuh ruang rumah Beliau.

Dalam berbicara beliau memiliki ciri khas, gaya bicaranya halus tidak blak-blakan dan bijaksana. Walaupun usia sudah sangat tua, tapi waktu beliau berdiri dan berjalan tubuh beliau masih tegak tidak membungkuk, dan tidak perlu memakai tongkat dan semangatnya seakan masih muda.

Beliau merupakan salah satu Ulama sepuh Aceh dan ini terbukti ketika ada forum-forum pertemuan Ulama beliau begitu sangat menonjol dan beliau merupakan ulama yang ahli dibidang ilmu Fiqh, khususnya madzhab Syafi’i. Dalam banyak masalah beliau sangat gigih mempertahankan pendapat yang kuat dalam madzhab Syafi’i ketika terjadi kontroversi antar sesama Ulama Aceh .

Selain ahli dibidang fiqh, beliau juga seorang yang sangat mahir dibidang tauhid, sangat menguasai kitab Syarah Al-Hikam karangan Syaikh ‘Ataillah As-Sakandari, mudah dicerna ketika beliau menerangkan tentang kalam-kalam hikmah yang terkandung dalam kitab tersebut. Beliau juga seorang Ulama ahli Thariqat Al-Haddadiyah.

Beliau merupakan pimpinan dayah (pesantren) Al Madiinatuddiniyah Babussalam, Blangbladeh, Kec.Jeumpa, Kab.Bireuen yang merupakan induk dari beberapa dayah salafiah di Aceh yang sudah mendidik santri sejak zaman Belanda. Awalnya, dayah tersebut didirikan Tgk H Imam Hanafiah pada tahun 1890. Setelah Tgk Imam Hanafiah meninggal, estafet kepemimpinan dayah itu dilanjutkan anaknya Tgk. Mahmudsyah.

Sejak Tgk Mahmudsyah meninggal hingga sekarang dayah itu dipimpin anaknya yaitu Tgk. Muhammad Amin atau yang lebih dikenal dengan Abu Tumin. Abu Tumin adalah cucu Tgk. Imam Hanafiah. “Dayah ini adalah dayah salafiah yang terus berupaya melahirkan kader-kader ulama dan berjuang keras agar syariat Islam tidak hanya sebatas wacana,” ujar Abu Tumin menjawab wartawan Serambi Indonesia.

Dayah yang berciri khas pengajian ilmu fiqih, tauhid, dan tafsir dalam rentang waktu yang sudah mencapai 121 tahun mendidik generasi muda, dayah itu sudah dikenal luas dan telah ada belasan dayah lain yang merupakan cabang dari dayah tersebut.

Dayah yang berada di kompleks Masjid Blang Bladeh itu, memiliki beberapa bangunan bertingkat selain tempat penginapan santri dan balai pengajian. Bahkan, dayah itu dibangun pada dua lokasi terpisah, yaitu satu untuk putra yang disebut Al Madiinatuddiniyah Babussalam Putra yang ada di Desa Kuala Jeumpa, dan satu lagi Babussalam Putri yang berada di Blang Bladeh. Sebagai orang yang dianggap sebagai tokoh ulama Aceh dan Bireuen, Abu Tumin selain memimpin dayah itu secara terjadwal dirumah beliau untuk guru-guru yang mengajar mulai dari hari Senin-Kamis, beliau juga memimpin pengajian di rumahnya selepas shalat jum’at untuk kaum ibu-ibu yang berdatangan sesak penuh kerumah beliau dan setiap bulan diundang untuk memimpin pengajian akbar yang diikuti oleh Ulama dan Umara di Kampung Beusa Seubrang, Peureulak, Aceh Timur dan ditempat-tempat lain.

Pada akhir/awal nama dayah-dayah di Aceh, ada tiga sebutan populer yang disandingkan bergandengan namanya yaitu Madinatuddiniyah adalah bagian dari Al Madinatuddiniyah Babussalam Bireuen, Darusaa’adah adalah cabang dari Darussaa’adah Teupin Raya (Pidie), dan Al-Aziziyah adalah cabang dayah Mudi Mesra Samalanga Bireuen. “Tiga sebutan itu masing-masing memiliki ciri khas tersendiri,” ujar Abu Tumin.

Kita doakan beliau agar selalu sehat, sanggup membina dan mendidik umat ke jalan kebenaran yang beri’tiqad Ahlussunnah Waljama’ah. Aamiin..

BAGIKAN SEBANYAK-BANYAKNYA AGAR SEMUA ORANG KENAL DENGAN Abu Tumin – H. M. Amin Mahmud 🙂

Sumber : Fanspage Facebook Pesantren Darul Munawwarah Kuta Krueng Aceh

Biografi - Begitu cepat Allah swt memberikan bantahan terhadap tulisan Asa Firda Inayah alias Afi tentang "Agama Warisan". Melalui kisah tragis kematian artis Yana Zein, artikel tersebut menjadi kehilangan makna dan hanya pepesan kosong.


Afi menulis begini:

“Saya tidak bisa memilih dari mana saya akan lahir dan di mana saya akan tinggal setelah dilahirkan. Kewarganegaraan saya warisan, nama saya warisan, dan agama saya juga warisan."

Tulisan ini tiba-tiba viral atau sengaja diviralkan. Afi sontak menjadi terkenal, diundang media arus utama yang selama ini menjadi pendukung Ahok. Presiden Jokowi lalu mengundangnya ke Istana Negara tepat di Hari Kelahiran Pancasila. Bahkan Menteri Agama Lukman Hakim Saefuddin pun rela berfoto bersama Afi sambil tersenyum untuk memberikan dukungan terhadap tulisan tersebut.

Artikel itu kemudian dikampanyekan sebagai buah pikir yang tepat untuk mendukung kebhinekaan dan NKRI. Dua tema yang mendadak ramai sejak Ahok menista agama dan kemudian dipenjara. Tujuannya jelas: menohok umat Islam dan para ulama yang selama ini terus berjuang menuntut keadilan terhadap Ahok.

Di saat bersamaan seorang artis senior wafat. Namanya Yana Zein. Bukan kematian biasa karena saat akan dimakamkan, terjadi peristiwa menyedihkan karena antara ayah dan ibu almarhum bersitegang soal agama anaknya.

Swetlana, ibu Yana Zein, mengaku memiliki bukti bahwa putri tersayangnya tersebut telah menganut agama Kristen.

"Saya ibunya, saya punya bukti kalau KTP dia Kristen. Waktu sakit keras, Yana bilang 'tolong kalau ada apa-apa, saya mau dikuburkan secara Kristen'. Agama semua sama, saya kira Yana berhak memilih. Yana juga ada tanda tangan sendiri kalau dia jadi Kristen," ujarnya.

Sang ayah, Nurzaman Zein, tak kalah argumen. Dia meminta Yana harus dikuburkan secara Islam.

"Namanya Suryana Nurzaman Zein. Dia meninggal di bulan Ramadhan. Dia meninggal dengan khusnul khotimah," kata Nurzaman.

Rumah duka akhirnya gaduh. Sang ibu menjerit histeris saat ayah Yana melantunkan ayat suci Al-Quran di sebelah peti jenazah.

Kisah pilu ini membuktikan bahwa agama bukanlah warisan. Keimanan seorang manusia tidak diturunkan otomatis dari ayah dan ibunya. Jika memang warisan, Yana Zein pasti beragama Islam dan tak perlu ada kericuhan saat akan dimakamkan.

Bagi orang beriman, tulisan Afi dan kematian Yana Zein yang terjadi saat bersamaan harus dilihat dalam kacamata keimanan. Bahwa inilah campur tangan Allah swt untuk memberi bukti tidak ada "agama warisan". Dan jika masih ada di antara kita yang membenarkan tulisan Afi meski Allah swt sudah "membantahnya" melalui kematian Yana Zein, saya tak tahu dengan cara apalagi Dia harus memberi petunjukNya.(konfr/Opini)

Biografi - Peristiwa Geger Pacinan yang terjadi selama 13 hari pada bulan Oktober 1740 mengisi lembar-lembar sejarah Batavia dengan jejak darah. Di ibukota Hindia Belanda yang dikuasai VOC itu, telah berlangsung aksi pembantaian massal terhadap warga etnis Tionghoa.

Ribuan orang Cina, termasuk peranakan, meregang nyawa dibantai serdadu Belanda, banyak di antara mereka yang disembelih secara sadis di halaman belakang Balai Kota Batavia. Tercatat, 5.000-10.000 jiwa menjadi korban tewas, belum termasuk yang dipenjara tanpa pengadilan, hilang tanpa jejak, atau terluka parah akibat kejadian berdarah tersebut.

Geger Pacinan disebut pula dengan istilah Tragedi Angke, merujuk nama suatu daerah di pesisir utara. Mulanya, Batavia memang dibangun di atas puing-puing kota pelabuhan Jayakarta sebelum dipindahkan lebih ke tengah atau area Jakarta Pusat sekarang.

Salah satu versi tentang asal-muasal kata Angke dicetuskan oleh Alwi Shahab (2002:103) dalam buku Betawi: Queen of the East. Menurutnya, kata Angke berasal dari salah satu ragam bahasa Cina, Hokkian, yakni “ang" atau “merah” dan “ke” yang artinya “sungai”. Dengan demikian, "Angke” dapat dimaknai sebagai “sungai merah”, warna dari darah orang-orang Tionghoa yang dibantai pada 1740 itu.

Dan, orang yang harus bertanggungjawab atas berlangsungnya tindak penghancuran etnis yang mirip dengan aksi genosida beraroma SARA tersebut adalah sang gubernur jenderal, Adriaan Valckenier.

Jejak Karier Sang Penguasa

Adriaan Valckenier adalah putra daerah Amsterdam, ia dilahirkan di ibukota Belanda itu pada 6 Juni 1695. Keluarga Valckenier memang kadung lekat dengan kekuasaan. Ayah Adriaan merupakan anggota Dewan Kota sekaligus pejabat VOC yang bekerja di Amsterdam, kantor pusat perusahaan dagang Hindia Timur itu. Sedangkan kakeknya, Gillis Valckenier, pernah menjabat sebagai kepala daerah.

Setelah merintis karier di kota kelahirannya, Adriaan Valckenier meninggalkan Amsterdam pada 22 Oktober 1714 menuju Hindia Belanda. Tanggal 21 Juni 1715, ia menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Batavia, dan mulai mengabdi untuk VOC yang sudah menancapkan pengaruhnya di bekas bandar dagang Sunda Kelapa itu.

Karier politik Valckenier dimulai pada 1730 ketika dirinya diangkat sebagai anggota Dewan Hindia atau Raad Extra Ordinair alias semacam parlemen luar biasa VOC. Hanya dalam waktu 3 tahun, ia sudah menjadi anggota dewan secara penuh. Pada 1736 atau saat menapak usia matang yakni 41 tahun, Valckenier masuk ke jajaran tim penasihat Gubernur Jenderal VOC saat itu, Abraham Patras, yang menjabat sejak 11 Maret 1735.

Tanggal 3 Mei 1737, Abraham Patras meninggal dunia. Adriaan Valckenier pun langsung ditunjuk sebagai penggantinya di waktu yang sama. Ia menjadi Gubernur Jenderal VOC ke-25. Ini adalah jabatan paling istimewa untuk menyebut penguasa tertinggi di Hindia Timur (Indonesia).

Geger Cina di Batavia
Semua bermula dari serbuan imigran dari negeri Cina yang kian berdatangan ke Batavia di awal abad ke-18. Sebenarnya, dibukanya Batavia untuk orang luar sudah dimulai pada masa Gubernur Jenderal Hendrick Zwaardecroon (1720-1725) yang bahkan sampai merumuskan jabatan baru yakni Kapitan Cina untuk mengatur masyarakat etnis Tionghoa di Batavia dan wilayah-wilayah lainnya di Hindia Belanda.

Ketika Adriaan Valckenier menjabat sejak 1737, populasi orang Cina di Batavia meningkat pesat seiring lesunya perekonomian dunia yang menjalar hingga ke Hindia Belanda. Salah satu indikasinya adalah lemahnya VOC dalam persaingan perdagangan gula dengan Brasil (Greg Purcell, South East Asia Since 1800, 1965:14).

Itu belum termasuk kesulitan yang juga menyerang aspek-aspek ekonomi lainnya. Jumlah pengangguran di Batavia pun melesat. Kondisi bertambah runyam karena kaum pendatang dari Cina semakin memadati kota. Yang bermukim di dalam tembok kota saja ada sekitar 4.000 orang, sedangkan yang di luar benteng tidak kurang dari 10.000 orang.

Untuk mengatasi atau setidaknya mengurangi kepadatan penduduk di Batavia, Adriaan Valckenier kemudian mengirimkan orang-orang Cina, terutama mereka yang belum punya pekerjaan, ke Sri Lanka, juga ke wilayah Afrika Selatan yang diduduki VOC (Paul H. Kratoska, South East Asia, Colonial History: Imperialism Before 1800, 2001:122).

Saat rencana tersebut mulai berjalan, terdengar kabar yang meresahkan. Beredar rumor bahwa orang-orang Cina yang dikirim ke Sri Lanka atau Afrika Selatan dengan kapal itu justru dilemparkan ke laut sebelum sampai ke tempat tujuan (Jocelyn Armstrong, et.al., Chinese Populations in Contemporary Southeast Asian Societies, 2001:32).

Kabar yang belum jelas kebenarannya itu tak pelak memantik kepanikan di kalangan bangsa Cina yang masih bertahan di Batavia. Gerakan perlawanan untuk menentang kebijakan Gubernur Jenderal mulai menyeruak.

Pembantaian pun Dimulai
Akhir September 1740, situasi Batavia dan sekitarnya semakin genting karena aksi perlawanan dari komunitas Cina kian sering terjadi dan cukup masif. Willem G.J. Remmelink (2002:164) dalam Perang Cina dan Runtuhnya Negara Jawa, 1725-1743, menuliskan bahwa orang-orang Tionghoa itu berkumpul, mempersenjatai diri, dan mulai menyerang unit-unit penting, termasuk pabrik-pabrik gula.

Adriaan Valckenier selaku Gubernur Jenderal pun menggelar rapat darurat dengan Dewan Hindia pada 26 September 1740. Hasilnya, diberikan perintah dan kuasa kepada ketua dewan yakni Gustav Willem Baron van Imhoff untuk bertindak tegas (Benny G. Setiono, Tionghoa dalam Pusaran Politik, 2008:113).

Van Imhoff sebenarnya tidak ingin menerapkan tindakan berlebihan untuk menindak pemberontakan tersebut. Rapat beberapa kali digelar lagi karena kubu kubu van Imhoff dengan pihak pendukung Valckenier masih terlibat perdebatan. Itu berlangsung hingga terdengar kabar bahwa benteng Batavia telah dikepung oleh orang-orang Cina.

Maka, aksi yang lebih beringas dari penguasa pun dimulai pada 7 Oktober 1740. Setiap orang Cina, dari bayi sampai orang tua, juga tak peduli pria atau wanita, dihabisi dengan membabi-buta. Bahkan, orang Tionghoa yang sedang dirawat di rumah sakit pun tidak luput dari pembantaian (Lilie Suratminto, “Pembantaian Etnis Cina di Batavia 1740”, Jurnal Wacana, April 2004, h. 24).

Sertu Nicolas dan Sertu Wahyu Fajar Dwiyana.  merdeka.com
Biografi - Aksi preman sudah meresahkan. Mereka menganiaya dan hendak memperkosa. Namun saat berhadapan dengan prajurit Kopassus, para begundal ini kena batunya.

Sertu Wahyu Fajar Dwiyana jadi perbincangan. Prajurit Kopassus ini melintas di Jalan Tanjung Sari, Sumedang pada Kamis (25/5) pukul 20.30 WIB. Dia melihat seorang warga sedang dikeroyok delapan orang preman mabuk.

Wahyu spontan turun dari sepeda motor dan mengajak sekelompok pemuda itu untuk menyelesaikan masalah secara baik-baik. Dia berniat menyelamatkan warga yang dikeroyok tersebut.

Namun, delapan pemuda itu tidak menerima. Meskipun Sertu Wahyu sudah mengaku anggota TNI, mereka tidak menghiraukan dan berusaha mengeroyok. Akhirnya terjadi perkelahian antara Wahyu dengan delapan pemuda mabuk itu.

Joko mengatakan Wahyu membela diri hingga akhirnya berhasil memukul roboh dan melumpuhkan salah satu pengeroyoknya. Melihat salah satu rekannya roboh, pemuda-pemuda mabuk lainnya akhirnya melarikan diri ke berbagai arah.

"Pengeroyok yang berhasil dilumpuhkan kemudian dibawa ke Koramil Tanjung Sari bersama korban warga yang dikeroyok sebagai saksi. Pelaku kemudian diserahkan ke Polsek Tanjung Sari untuk penuntasan hukum lebih lanjut," kata Kepala Penerangan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI Angkatan Darat Letkol Inf Joko Tri Hadimantoyo.

Masih ada sosok pemberani lainnya. Dia adalah Nicolas Sandi Harewan, anggota Kopassus TNI AD dari Sat-81. Prajurit muda itu menyelamatkan seorang karyawati berinisial I yang hendak diperkosa di dalam angkot tahun 2012 lalu.

I (31) nyaris diperkosa dalam angkot C-01 jurusan Ciledug-Kebayoran Lama di sekitar Lapangan Banteng. Dia sudah dibekap oleh tiga orang pria yang berada di dalam angkot tersebut.

Untungnya I berteriak minta tolong dan didengar Nicolas yang kebetulan melintas dengan motor dalam posisi beriringan dengan angkot itu.

Melihat ada kejanggalan di angkot itu, dia pun mengejarnya. Nicolas sempat melemparkan helmnya supaya angkot berhenti. Si sopir yang mengetahui kendaraannya dibuntuti, para pelaku lantas melempar I keluar dari angkot. Saat itu, posisi angkot tepat berada di depan Gedung Mahkamah Agung, Jalan Medan Merdeka Utara.

Nico segera menolong karyawati tersebut. Aksinya menyelamatkan I dari para begundal malam itu.

Sejumlah petinggi TNI memberikan penghargaan pada Serda Nico. Pangkatnya dinaikkan satu tingkat menjadi Sersan Satu. [merdeka.com]

Al-Battani merupakan salah seorang ahli astronomi dan matematikawan muslim pada abad pertengahan yang cukup berpengaruh. Salah satu karyanya yang cukup populer adalah Kitab al-Zij, yang pada abad ke-12 diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dengan judul De Scientia Stellarum atau De Motu Stellarum.

Berkat penemuannya, saat ini kita bisa mengetahui bahwa dalam setahun ada 365 hari, 5 jam, 46 menit dan 24 detik (sumber lain menyebut 365,24 hari). Penemuan Al-Battani ini dianggap akurat, bahkan keakuratan pengamatan yang dilakukan Al-Battani ini membuat seorang matematikawan asal Jerman bernama Christopher Clavius menggunakannya untuk memperbaiki kalender Julian.

Atas izin Paus Gregorius XIII, kalender lama akhirnya diubah menjadi kalender yang baru dan mulai digunakan pada tahun 1582. Kalender inilah yang kemudian banyak digunakan oleh masyarakat hingga saat ini (Joseph A. Angelo, JR, Encyclopedia of Space and Astronomy, 2006).
Pengikut dan Penyempurna Teori Ptolomeus
Al-Battani lahir sekitar tahun 858, di Harran. Ia memiliki nama lengkap Abu Abdullah Muhammad ibn Jabir ibn Sinan al-Raqqi al-Harrani al-Sabi al-Battani. Orang Eropa menyebut Al-Battani dengan sebutan Albategnius.

Ia adalah anak dari ilmuwan astronomi, Jabir Ibn San'an Al-Battani. Keluarga Al-Battani merupakan penganut sekte Sabian yang melakukan ritual penyembahan terhadap bintang. Namun, Al-Battani tidak mengikuti jejak nenek moyangnya. Ia memilih memeluk agama Islam.

Secara informal, Al-Battani dididik ayahnya yang juga seorang ilmuwan. Sejak kecil, ia sudah menunjukkan ketertarikannya pada bidang keilmuan yang digeluti ayahnya. Ketertarikan pada benda-benda yang ada di langit membuat Al-Battani kemudian menekuni bidang astronomi tersebut.

Kemudian, Al-Battani kecil mengikuti keluarganya pindah ke Raqqah. Di tempat baru ini ia mulai menekuni bidang astronomi, mulai dari melakukan beragam penelitian hingga menemukan berbagai penemuan cemerlang. Sayang, tidak ada data spesifik mengenai pendidikan formal Al-Battani. Misalnya, tidak ada data yang menyebutkan di mana Al-Battani belajar sains (Frank N. Magill (ed), The Middle Ages: Dictionary of World Biography, Volume 2, 1998).

Dalam literatur hanya disebutkan bahwa semasa mudanya Al-Battani belajar di Raqqah. Di tempat barunya itu, ia tekun mempelajari teks-teks kuno, khususnya karya Ptolomeus, yang kemudian menuntunnya untuk terus mempelajari astronomi. Bidang keilmuan yang ditekuninya itu kelak membuatnya menjadi terkenal tidak hanya di kalangan umat Muslim, melainkan juga di dunia Barat.

Al-Battani terpesona dengan teori kosmologi geosentris yang berkembang pertama kali di Yunani. Meskipun Al-Battani adalah pengikuti teori kosmologi geosentris Ptolomeus, namun data observasinya berjasa bagi Nicholas Copernicus untuk mengembangkan teori kosmologi heliosentris yang turut mempelopori revolusi sain pada abad ke-16 dan 17.

Seperti Astronom Arab lainnya, Al-Battani mengikuti tulisan-tulisan Ptolomeus dan mengabdikan dirinya untuk mengembangkan karya Ptolomeus, The Almagest. Saat mempelajari The Almagest inilah Al-Battani menemukan penemuan besar, yaitu titik Aphelium. Titik Aphelium adalah titik terjauh bumi saat mengitari matahari setiap tahunnya.

Ia menemukan bahwa posisi diameter semu matahari tidak lagi berada pada posisi yang dikemukakan oleh Ptolomeus. Penemuan ini sangat berbeda dengan teori yang disampaikan oleh Ptolomeus dan astronom Yunani sebelumnya. Namun, baik Al-Battani maupun astronom penganut Ptolomeus lainnya tidak dapat mengemukakan penjelasan di balik perbedaan tersebut.

Joseph A. Angelo menyebut bahwa Al-Battani memperbaiki tatanan tata surya, lunar, dan mengembangkan teori Ptolomeus dalam buku The Almagest menjadi lebih akurat.

Pengamatan akurat Al-Battani ini juga memungkinkan ia memperbaiki pengukuran Ptolomeus tentang kemiringan sumbu. Ia juga melakukan pengamatan lebih akurat mengenai ekuinoks (saat matahari tepat melewati garis ekuator bumi) pada awal musim gugur. Melalui pengamatan inilah Al-Battani mampu menemukan bahwa dalam setahun ada 365,24 hari (Joseph A. Angelo, JR, Encyclopedia of Space and Astronomy, 2006).SELANJUTNYA

Banda Aceh l Diduga, satu dari dua belas payung elektrik di halaman Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, rusak akibat diterjang angin kencang, Rabu, (31/05/17).

Kejadian itu sempat menjadi viral di media sosial (medsos) serta bahan diskusi hangat sejumlah warga Kota Banda Aceh, di warung-warung kopi, usai melaksanakan shalat tarawih.

"Gawat juga ya. Belum sampai enam bulan sudah rusak. Apa betul hanya gara-gara angin kencang atau kualitas pekerjaan yang kita ragukan," kata Edo, di salah satu warung kopi Ule Kareng Banda Aceh, Rabu malam.

Hasnidar (50), seorang saksi mata menceritakan, sekira pukul 17.00 WIB, ia mendengar teriakan orang dari dalam halaman Masjid Raya Baiturrahman. Selanjutnya, ia melihat semua orang berlarian ke halaman masjid. Akhirnya baru diketahui kalau orang yang berlarian dan memasuki halaman masjid tadi, untuk melihat salah satu payung yang tidak bisa terbuka.

"Banyak orang berlarian melihat kejadian itu, karena suaranya agak sedikit besar. Saya pikir ada apa orang ribut-ribut, ternyata payung itu rusak," ujar Hasnidar, salah satu pedagang kaki lima di depan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh pada MODUSACEH. CO, Rabu malam, (31/05/17).

Sementara itu, Daniel (37) seorang pekerja dari WIKA membenarkan kejadian rusaknya satu payung elektrik di halaman Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.

Katanya, saat dibuka payungnya, secara bersamaan  datang angin kencang, sehingga moor atau baut yang menjadi penahan di atas payung lepas.

"Karena tak sanggup menahan maka jadi lepas. Anginnya sangat kencang, saya memberikan keterangan ini sesuai yang saya lihat, karena saya sebagai pekerja," ujar Daniel.

Selanjutnya, jelas Daniel atas rusaknya payung elektrik tadi, langsung diperbaiki petugas di lapangan. "Setahu saya inikan masih masa pemeliharaan, jadi langsung diperbaiki," ungkap Daniel.

Daniel juga menyanggah anggapan masyarakat, bahwa kualitas payung yang digunakan kurang bagus.

Menurutnya ia sudah beberapa tahun bekerja di WIKA, termasuk mengerjakan pembangunan payung elektrik di satu masjid di Semarang, Jawa Tengah.

Dan,  kualitas payung yang digunakan di Masjid Raya Baiturrahman, sama dengan yang digunakan pada satu masjid di Semarang.

"Jadi anggapan itu tak benar sama sekali, payung ini juga kualitas baik," jelas pria asal Medan itu.

Seperti diketahui, proyek pengembangan Landscape dan Infrastruktur Masjid Raya Baiturrahman, yang di dalamnya termasuk pembangunan 12 unit payung elektrik, menghabiskan dana Rp 458 miliar lebih.

Pembangunannya telah dimulai tahun 2015 dan dikerjakan PT Waskita Karya (WIKA).

Pekerjaan ini dianggap selasai,  13 Mei 2017. Dana proyek ini bersumber dari APBA dan telah diresmikan Wakil Presiden, sekaligus Ketua Dewan Masjid Indonesia M. Yusuf Kalla.

Namun, tak sampai dua bulan berjalan sejak peresmian, berbagai persoalan muncul. Karena itu sebagian masyarakat pantas bertanya. Apa betul faktor angin saja bisa merusak payung, yang konon harga satuannya mencapai puluhan milliar itu? Hanya waktu yang akan menjawab.[modusaceh]
loading...

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget