Halloween Costume ideas 2015

Saat Seorang Anak Petani Bertamu ke Rumah KH Hasyim Asy'ari

Biografi - Kereta merapat di stasiun Jombang. Situasi stasiun tak terlalu ramai. Eropa tengah tergoncang tahun pertama Perang Dunia Kedua. Proklamasi kemerdekaan Indonesia masih enam tahun lagi. Keadaan Jombang baik-baik saja. Tenang dan normal.

Anggota aktif Gerakan Pemuda Ansor Jawa Tengah itu keluar dari gerbong kereta. Pandangannya mengitari area stasiun, mencari seseorang. Seseorang dari Tebuireng yang dalam surat akan menjemputnya. Ditelusuri dengan pandangannya, orang yang dimaksud ternyata ada.

Seorang pemuda. Kulitnya putih, wajahnya tampan. Tubuhnya padat berisi dan sedikit pendek. Sangat sulit menilai jika orang yang menjemputnya ini adalah seorang santri—atau dulunya seorang santri. Pakaiannya tidak mencerminkan itu. Tidak mengenakan sarung dan blangkon. Tetapi peci putih ala Jawaharlal Nehru dan celana panjang. Tampilan yang terlalu modis dan modern tentu saja pada era itu.

“Ahlan wa sahlan, marhaban… ahlan.. ahlan,” kata sambutan meluncur sambil menjabat tangan erat. Si tamu tidak kalah ramah menyalaminya.

Keduanya baru kali itu bertemu setelah hanya bertegur sapa lewat surat. Sudah barang tentu keduanya menyebutkan nama masing-masing. Basa-basi memperkenalkan diri sekalipun sudah tahu sama tahu.

“Saifuddin Zuhri,” kata si tamu sambil terus menjabat.

Orang yang menyalami membalas, “Wahid Hasyim.”

Iya, dia KH. Wahid Hasyim, ayah KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Zuhri lantas diantarkan Wahid keluar dari stasiun. Lengan Zuhri dipegang begitu erat, seolah Wahid takut Zuhri akan melarikan diri. Tangan Wahid yang lain menjinjing koper Zuhri. Keduanya langsung menuju jalanan depan stasiun. Di sana sudah menunggu delman milik Wahid. Setelah naik dan memastikan tidak ada yang tertinggal, keduanya menuju Pondok Pesantren Tebuireng.

Sepanjang perjalanan, Wahid bercerita banyak sekali kisah lucu di pesantren. Zuhri mendengarnya dengan antusias dan bisa mengikis rasa letih dalam perjalanan.

“Suasana jadi akrab sekali, seakan-akan kami dua orang sahabat yang telah lama berkenalan,” tulis Zuhri dalam Guruku Orang-orang dari Pesantren (2007: 140).

Sayangnya, cerita yang mengasyikkan dari Wahid ini tidak masuk semuanya ke pikiran Zuhri. Ada perasaan sungkan dan minder karena di hadapannya disadari benar adalah orang besar. Meskipun orang di hadapannya itu baru berusia sekitar 25 tahun, selisih sekitar 5 tahun lebih tua dari Zuhri, tetapi Zuhri sadar bahwa “Gus” yang jadi teman bicaranya adalah anak dari seorang kiai paling dihormati di tanah Jawa. Itu membuat Zuhri tidak bisa sepenuhnya menikmati percakapan.

“Dalam fantasiku, orang besar mestilah memperlihatkan mahal senyum. Kalau bicara dihemat. Perhatiannya dipusatkan kepada dirinya bukan kepada yang diajak bicara,” terang Zuhri. “Tapi orang yang satu ini tidak demikian. Pusat perhatiannya ditujukan kepadaku, orang kecil.”

Entah mimpi apa Zuhri sebelumnya, hari itu ia satu delman dengan orang yang diam-diam ia kagumi.

Mendekati Pesantren Tebuireng, dalam hati penuh syukur, Zuhri bisa diberi kesempatan mengunjungi salah satu pesantren yang termasyhur ini.

Begitu sampai, Wahid Hasyim menganjurkan Zuhri untuk istirahat sejenak, “Minumlah dulu, nanti aku antarkan menghadap Hadratus Syaikh.”

Yang dimaksud tentu saja sang ayah, KH. Hasyim Asya’ari. Mendengar akan menghadap Maha Guru, suasana hati Zuhri bercampur antara girang dan tegang. Gembira sekaligus takut. Orang yang akan jadi legenda itu akan ia temui langsung dan berhadap-hadapan. Sudah barang tentu merasa terhormat sekali Zuhri jadinya.

Zuhri mengakui untuk orang yang baru pertama kali bertemu dengan Hadratus Syaikh, akan ada pancaran wibawa yang membuat sedikit tertekan siapa pun yang bertamu.

“Ketika aku memberikan salam, beliau sedang duduk di atas permadani yang memenuhi ruangan tamu yang luas,” terang Zuhri.

Berbeda dengan putranya yang terlihat “modern”, Hadratus Syaikh masih setia dengan baju “Jawa”. Pakaian yang dikenakan terlihat seperti piyama yang tak berkerah. Berwarna putih kain katun, mengenakan sarung dan sorban. Saat Zuhri menghadap, Hadratus Syaikh sedang membaca sebuah surat.

“Aku heran sekali, melihat seorang tua yang usianya lebih dari 70 tahun masih dapat membaca tanpa kaca mata,” tulis Zuhri dalam otobiografinya.

Wahid Hasyim pun mendekat. Memperkenalkan Zuhri kepada ayahnya. Lalu keduanya terlibat pembicaraan menggunakan bahasa Arab yang bercampur bahasa Jawa. Sesekali Wahid menjawab pertanyaan Hadratus Syaikh dengan bahasa Jawa halus. Tentu bukan karena tidak mampu menjawab dengan bahasa Arab, tapi karena rasa hormat kepada orang tua sudah menjadi gerak refleks bicara Wahid.

“Tapi setelah KH. Wahid Hasyim memberitahu bahwa aku dari kalangan Pemuda Ansor, Hadratus Syaikh kontan menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan denganku,” terang Zuhri.

Meski begitu, sesekali Hadratus Syaikh juga menanyai Zuhri dengan bahasa Arab. Zuhri pun menjawabnya dengan bahasa Indonesia, mengikuti cara Wahid yang juga sesekali menjawab percakapan itu dengan bahasa Jawa halus. Artinya, dalam pembicaraan tiga orang itu, ada tiga bahasa yang digunakan oleh masing-masing. Bahasa Arab oleh Kiai Hasyim, Bahasa Indonesia oleh Zuhri, dan Bahasa Jawa halus oleh Wahid Hasyim. Selanjutnya

Post a Comment

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget