Halloween Costume ideas 2015
June 2019

Biografi - Dua gadis kakak beradik sebut saja Mawar (19) dan Melati (16) menjadi korban pencabulan yang dilakukan oleh ayah kandungnya di Samarinda, Kalimantan Timur.

Pelaku adalah Paijo (67), seorang buruh pabrik kayu asal Lampung yang bekerja di Palaran.

Paijo yang sebelumnya disebutkan sebagai ayah tiri telah mencabuli dua anak kandungnya selama tujuh tahun, yakni sejak 2012.

Mirisnya, aksi bejat pelaku diketahui oleh istrinya yang tak lain merupakan ibu kandung dari kedua korban.

Bahkan ibu kedua korban membantu aksi bejat suaminya untuk menutupi perbuatan terlarang pelaku.

Ibu korban membantu aksi pelaku dengan memberikan pil KB kepada dua putrinya agar tidak hamil

Tindakan ibu korban tersebut didasari rasa khawatir tidak ada yang menafkahi dia dan 3 anaknya, kalau suaminya di penjara.

Dikutip dari RRI, Ketua Komisi Perlindungan Anak Daerah Kota Samarinda Adji Suwignyo membenarkan adanya kasus hubungan inses tersebut.

"Perilaku bejat seorang ayah mencabuli dua anak dibawah umur terjadi lagi di Samarinda tepatnya di Palaran sangat mengerikan," terang Adji.

Disebutkan Adji bahwa kasus pencabulan yang telah terjadi selama tujuh tahun tersebut tebongkar karena korban cerita ke tetangga.

"mereka sudah gak tahan lagi mba jadi mereka mulai cerita ketetangga yang dipercaya dan langsung dibawa kantor polisi dan visum sekarang kasus tengah diproses," kata Adji.

Kini pelaku telah ditangkap pihak kepolisian atas perbuatannya.

Atas kasus ini adji suwignyo menyebut perlu keseriusan dari semua pihak untuk dapat mengurai mengapa permasalahan ini kian meningkat bahkan dari banyak kasus yang terjadi pihak yang turut membantu prilaku pelaku adalah orang-orang terdekat.

Pada tahun 2019 ini Tegas Ketua KPAI Daerah Kota Samarinda kasus kekerasan seksual terhadap anak dibawah umur dikota ini semakin tinggi. (Tribun-Video)

Biografi - Dari sekian banyak senjata yang digunakan sepanjang sejarah Islam, rasanya belum ada yang mengalahkan popularitas Pedang Zulfikar milik Nabi Muhammad SAW. Pedang ini bahkan digadang-gadang menjadi satu di antara senjata terkuat lainnya yang ada di muka bumi ini.

Dalam sejarahnya, pedang Zulfikar diwariskan kepada seorang sahabat yang juga merupakan keponakan Nabi Muhammad SAW yakni, Ali Bin Abi Thalib. Konon, selama digunakan Ali, Pedang Zulfikar kerap menjadi kunci kemenangan kaum Muslimin atas musuh-musuhnya.

Tak heran bila kemudian muncul pepatah terkenal yang berbunyi, "la fata illa Ali, la sayf illa Dzu I-Fiqar".

لا فتى إلا علي لا سيف إلا ذو الفقار

“Tidak ada pemuda selain Ali, dan tidak ada pedang selain Zulfiqar”.

Bahkan, tak sedikit orang yang menyebut bahwa kekuatan Pedang Zulfikar sebanding dengan seribu prajurit. Bentuk pedang ini pun diketahui ada banyak versi. Tapi dari sekian banyak hasil penafsiran, bentuk Pedang Zulfikar yang paling populer adalah seperti pada gambar di bawah ini. Modelnya melengkung dan berujung ganda.
Pedang Zulfikar milik Nabi Muhammad (Foto: Dreaminterpretation)
Banyak orang yang menyepakati bahwa pada Pedang Zulfikar terdapat pemisahan di ujungnya sehingga menghasilkan bentuk pedang bermata dua. Namun, tetap saja banyak perbedaan pendapat tentang bentuk pasti pedang tersebut.

Asal usul pedang ini pun diketahui masih abu-abu. Banyak yang mengatakan bahwa Pedang Zulfikar adalah hasil rampasan Perang Badr yang dimenangkan oleh kaum Muslimin. Kala itu, Rasulullah SAW sangat menyukai bentuk pedang Zulfikar, ia pun membawa pedang tersebut bersamanya.

Kisah berlanjut ketika Rasulullah SAW memutuskan untuk memberikan pedang itu kepada Ali bin Abi Thalib dalam Perang Uhud. Berkat Pedang Zulfikar, kondisi kaum Muslimin yang sedang terdesak akhirnya bisa teratasi. Kemenangan berhasil diraih Rasulullah SAW dan Ali bin Abi Thalib yang menjadi satu-satunya sahabat yang tersisa pada perang itu.

Hal tersebut semakin meyakinkan Rasulullah SAW untuk memberikan Pedang Zulfikar kepada Ali. Sejak saat itu, Ali selalu menggunakan pedang tersebut hingga maut memisahkan mereka.

Santer beredar kabar bahwa, kesembilan koleksi pedang Nabi Muhammad SAW, seperti Azab, AL Battar, Al Hattaf, kini disimpan di Museum Topkapi di Turki dan Mesir. Tapi keberadaan Pedang Zulfikar tidak pernah ditemukan di mana pun. Demikian dilansir Okezone dari berbagai sumber.

MANTAN Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Muzakir Manaf atau yang lebih dikenal dengan panggilan Mualem akhirnya bersuara. Sebagai sosok penting di Aceh maupun dalam Gerakan Aceh Merdeka (GAM) suaranya nyaring hingga membuat Jakarta panik. Suaranya ibarat aungan ‘singa’ di tengah belantara hewan-hewan yang sedang saling memangsa. Semua terdiam, menunggunya kembali bersuara.

Namun ia memilih melihat situasi, memilih menyaksikan reaksi dari ucapannya. Tuduhan negatif dan dukungan silih berganti datang. Sang Panglima masih diam, ia menunggu sambil mengamati siapa kawan siapa lawan. Ejekan datang ia bergeming, pujian datang ia tak jumawa. Ia memang ahli Dzikir, setidaknya pernah penulis saksikan ketika suatu malam di mesjid Simpang 7 Ulee Kareng.

Jika kita analisa dengan hati bersih dan pikiran jernih serta akal sehat, pernyataan Mualem merupakan bentuk motivasi bagi bangsa Indonesia. Ia ingin bangsa Indonesia tidak dijajah asing, itu sebabnya ia tawarkan referendum agar para elite waspada. Tapi narasinya itu disalahpahami, seolah-olah Aceh ingin merdeka, ingin berpisah dari NKRI tanpa alasan. Mualem mengajarkan cara berpancasila yang benar, sebuah bangsa tidak boleh dijajah sebagaimana pembukaan UUD 45. Mualem paham sekali Pancasila.

Melalui motivasi Mualem semua sadar bahwa bangsa Indonesia terancam dijajah dan tidak semua daerah rela hal itu terjadi, termasuk Aceh. Mualem menyadarkan pentingnya kesadaran kolektif bangsa ini, kesadaran akan bahaya asing yang ingin menjajah Indonesia. Aceh ingin menjadi daerah pertama yang menyadarkan itu kepada para elite Jakarta. Salah tafsir memang selalu menjadi persoalan bangsa ini, emosional dan sok nasionalis sehingga menafsirkan rasa cinta pada negara sebagai bentuk pemberontakan.

Referendum dengan opsi mau dijajah asing atau tidak, begitulah keinginan Mualem. Ia menyadarkan kepada kita semua bahwa biarlah miskin asal merdeka, bukankah Pancasila mengatakan demikian. Cara pandang negatif kemudian memvonis Mualem, padahal ucapannya perlu dicerna dengan seksama. Mengapa hanya fokus pada kata ‘referendum’ dan melupakan kata atau kalimat sebelum itu. Ia mendasarkan keinginan referendum apabila Indonesia dijajah asing, jadi bukan soal tidak suka dengan pusat.

Bulan Ramadan sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an bila kita kaitkan dengan ucapan Mualem menunjukkan kualitas kita. Menurut Quraish Shihab, kata Iqra’ terambil dari kata kerja qara-a yang pada mulanya berarti “menghimpun”. Arti asal kata ini menunjukkan bahwa Iqra’ tidaklah mengharuskan adanya teks tertulis yang dibaca, tidak pula harus diucapkan sehingga terdengar oleh orang lain. Karenanya kita dapat menemukan beraneka ragam arti dari kata tersebut dalam kamus-kamus bahasa, antara lain, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, mengetahui ciri-ciri sesuatu, dan sebagainya, yang semuanya bisa dikembalikan kepada hakikat “menghimpun”.

Nah, Mualem sudah membaca realitas, ia memberi masukan kepada bangsa Indonesia. Pesan pentingnya itu yang tidak dibicarakan atau dibantah elite Jakarta. Pesan bahwa Indonesia akan dijajah asing, meski bukan secara fisik. Pesan itu tidak dibahas bahkan oleh tataran akademisi, semua termasuk saya barangkali telah terjebak pada akhir kalimat yang sangat bernada historis, referendum. Kita kurang iqra’ dalam artian menela’ah ucapan Mualem, kita cenderung emosional ketimbang berpelukan dengan rasional. Kita lupa bahwa Ramadan bulan membaca, menela’ah, meneliti, dengan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk manusia.

Karenanya mari tertawa sejenak sambil mengambil akal sehat yang tertinggal di ranah politik, kembali menginput akal sehat di kepala kita. Salah menangkap ide dan gagasan terkadang salah pula menangkap orang. Salah tafsir akibat dominasi makna membuat orang-orang tak bersalah menjadi narapidana. Akal sehat sering disimpan di rak-rak buku, akal sehat ditinggalkan ketika bicara hukum, politik, keadilan maupun kedamaian. Bau kentut memang tak nikmat bagi sebagian kita akan tetapi kentut pertanda kita masih sehat. Ucapan Mualem barangkali kurang enak didengar namun ucapan itu akan menyehatkan bangsa ini. Mualem ingatkan bangsa ini, jangan sampai dijajah asing!!!

Penulis: Don Zakiyamani Ketua Umum Jaringan Intelektual Muda Islam (JIMI)
Sumber:rmol.id
loading...

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget